Laporan wartawan TribunPriangan.com, Jaenal Abidin
TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Kios dan los milik pedagang Pasar Cikurubuk sudah banyak yang tidak beroperasi atau tutup.
Kondisi ini akibat minat pembeli menurun dan memilih ke toko modern.
Padahal Pasar Cikurubuk menjadi pasar terbesar di Kota Tasikmalaya yang menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat di Kota Tasikmalaya dan pasokan pasar lain.
Namun, aktivitas pedagang lesu menyebabkan retribusi macet, dan administrasi pasar ikut terdampak.
Total ada sekitar 2.772 kios dan los yang masuk pengelolaan UPTD Pasar Cikurubuk.
Pantauan TribunPriangan.com, aktivitas jual beli di Blok B-II nampak sepi pembeli. Hanya sebagian toko yang buka, itupun tidak ada pembeli.
Baca juga: Cukup Masukkan Data KTP, Warga Kota Tasikmalaya Bisa Tahu Nama Penerima Bansos PKH Januari 2026
Dari banyaknya kios di Blok B-II yang rata-rata menjual sendal dan pakaian, hampir setengahnya sudah tutup.
Bahkan beberapa kios sudah nampak papan tulisan dijual maupun dikontrakan akibat tidak ada masukan penjualan yang mengakibatkan harus berhenti operasi.
Kondisi ini dipicu banyak faktor, salah satunya akses jalan rusak parah. Meskipun begitu, sejumlah pedagang tetap bertahan berjualan meski sepi pembeli.
Nampak penjual tengah berkumpul dan duduk didepan kios menunggu pembeli yang datang ke tempat usahanya.
Selain itu, kondisi ini bukan sekadar tutup sementara, tapi benar-benar ditinggal tanpa kejelasan status.
"Kalau kios saya sudah tutup kurang lebih 3 tahun, sementara ini yang buka kios baju saja," ungkap Undang pedagang pakaian di Blok B-II Pasar Cikurubuk ditemui wartawan TribunPriangan.com, Kamis (15/1/2026).
Undang menjelaskan, kondisi kios yang banyak tutup karena beberapa faktor yang pertama kenaikan retribusi tanpa koordinasi ke warga pasar, sampai masalah kompetitor toko modern yang tak jauh dari pasar.
Baca juga: Polisi Masih Lakukan Penyelidikan Dugaan Penemuan Janin di Panglayungan Tasikmalaya
Selain itu ia menuturkan, perbaikan fasus fasom menyebabkan pembeli enggan datang untuk membeli produk yang dijajakan di pasar Cikurubuk.
"Saat ini kan jalan rusak, jadi banyak pembeli malas kesini karena becek juga. Seharusnya pemerintah harus cepat tanggap turun kesini, jangan hanya menaikan retribusi saja," tegas Undang.
Undang mengaku, untuk pedagang pakaian dan sendal di blok B-II 2 yang tutup hampir setengahnya dari jumlah yang masih berdagang
"Mungkin sekarang udah nyampai 40 persen kios sudah tutup, selain tidak sanggup bayar retribusi, kita juga dibebankan dengan minat pembeli yang sangat berkurang," ucapnya.
Pria asal Kota Tasikmalaya ini masih bertahan dengan beberapa kios yang dimilikinya dengan dikelola bersama anaknya.
"Punya dua kios sudah tutup, mau dikontrak juga tidak laku karena kondisi di blok B-2 ini kan sepi pembeli, siapa yang mau berdagang disini," kata Undang.(*)
Baca juga: 37 Pejabat Pendidikan di Kota Tasikmalaya Dilantik Walikota Hari Ini