SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kasus child grooming yang belakangan viral di media sosial (medsos) memicu kekhawatiran publik.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Yuan Yovita Setiawan, M.Psi., Psikolog, memperingatkan bahwa pelaku menggunakan pola manipulasi sistematis yang sulit dideteksi oleh korban maupun lingkungan sekitar.
Menurut Yuan, pelaku umumnya menggunakan Sexual Grooming Model (SGM). Proses ini diawali dengan memilih korban yang memiliki kerentanan psikologis, seperti anak yang kurang pengawasan atau merasa kesepian.
“Pelaku akan memilih individu yang rentan secara psikologis. Misalnya penurut, kurang pengawasan dan perhatian orang tua, membutuhkan kasih sayang, mengalami masalah perilaku, atau merasa kesepian,” ujar Yuan saat memberikan keterangan di Surabaya, Jawa Timur (Jatim) pada Kamis (15/1/2026).
Setelah mendapatkan target, pelaku akan memberikan perhatian intens untuk mengisolasi korban dari keluarga. Tujuannya, membangun ketergantungan emosional yang kuat.
Setelah kepercayaan terbangun, pelaku mulai membiasakan korban dengan konten seksual atau kontak fisik.
Yuan menjelaskan, bahwa pada tahap ini, pelaku membuat korban menganggap kekerasan seksual sebagai sesuatu yang normal atau bentuk kasih sayang.
Pada tahap akhir, pelaku akan memastikan hubungan tetap terjaga meski kekerasan telah terjadi. Hal ini sering dilakukan melalui manipulasi emosional atau ancaman langsung.
“Pada tahap akhir, pelaku melakukan pemeliharaan hubungan, setelah terjadinya kekerasan seksual. Biasanya melalui pembungkaman, baik dengan pemberian imbalan, manipulasi emosional maupun ancaman,” tegas Yuan.
Memutus rantai grooming tidaklah mudah, karena adanya ketimpangan relasi kuasa. Oleh karena itu, Yuan menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak.
“Kita perlu lebih peduli terhadap anak dan remaja di sekitar kita. Jika ada interaksi yang terasa janggal antara anak dengan orang dewasa, jangan ragu untuk menelisik lebih jauh,” pungkasnya.