Pascabanjir, FISIP Unimal Gelar Trauma Healing di SMAN 5 Lhokseumawe 
January 15, 2026 06:37 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Saiful Bahri I Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh (Unimal) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa trauma healing bagi siswa-siswi SMA Negeri 5 Lhokseumawe.

Program yang mengusung tema “Saweu Sikula dan Trauma Healing Siswa Terdampak Banjir Aceh 2025” tersebut berlangsung pada Rabu (14/1/2025).

Kegiatan itu dipimpin langsung Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FISIP Unimal, Dr Taufik Abdullah, MA, dengan Dr Mulyadi, MA sebagai Ketua Pelaksana Program. 

Sementara itu, Dr Alwi, SSos, MSi dan Bimby Hidayat, SSos, MA hadir sebagai narasumber.

Narasumber pertama, Dr Alwi, SSos, MSi menyampaikan motivasi kepada siswa dengan menekankan pentingnya bangkit dari pengalaman traumatis. 

Ia menyebutkan, kunjungan Tim FISIP Unimal bertujuan untuk berbagi cerita, pengalaman, dialog, serta memperkenalkan lingkungan kampus Unimal.

“Musibah banjir harus menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga lingkungan dan kelestarian alam,” terang dia. 

“Kunjungan ini setidaknya memberi semangat kepada adik-adik untuk pulih, bangkit, dan belajar lebih baik ke depan,” ujarnya.

Baca juga: Medco E&P Malaka Gelar Trauma Healing untuk Anak Korban Banjir di Aceh Timur

Ia menegaskan, bahwa kegiatan ini bertujuan memastikan siswa kembali merasa aman dan nyaman pascabanjir, sehingga kualitas dan semangat belajar mereka dapat pulih.

Sementara itu, narasumber kedua, Bimby Hidayat, SSos, MA pada sesi kedua menjelaskan, bahwa banjir ekologis tidak hanya merusak harta benda.

Tetapi juga berdampak serius pada kondisi psikologis, mental, dan sosial budaya masyarakat terdampak, termasuk pelajar.

Menurutnya, pendampingan psikososial bagi siswa merupakan bagian krusial dari mitigasi pascabencana. 

Siswa membutuhkan ruang dialog untuk menceritakan pengalaman mereka. 

"Dalam fase pertumbuhan menuju dewasa, mereka perlu sugesti positif agar tetap optimistis menatap masa depan,” katanya.

Bimby menambahkan, trauma banjir pada pelajar dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Antara lain gangguan kecemasan dan ketakutan berlebih setiap kali hujan turun, kekhawatiran kehilangan barang-barang berharga, penurunan konsentrasi belajar, hingga hilangnya rasa aman di rumah maupun di sekolah.

Ia menggambarkan, kondisi pascabanjir di wilayah Sawang dan Langkahan.

Baca juga: VIDEO - IDI Lhokseumawe Gelar Pengobatan Gratis dan Trauma Healing untuk Korban Banjir di Pijay

Di mana banyak anak merasa tidak ada tempat yang benar-benar aman ketika hujan turun, sehingga memicu perilaku regresi seperti ketergantungan berlebih dan ketakutan ditinggal sendirian.

Pada pelajar tingkat menengah, lanjut Bimby, trauma juga dipicu oleh tekanan ekonomi keluarga pascabencana. 

Perubahan kondisi sosial ekonomi orang tua dapat menimbulkan stres emosional pada siswa, sehingga trauma healing menjadi kebutuhan mendesak.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FISIP Unimal, Dr Taufik Abdullah, MA menyampaikan, bahwa program trauma healing ini dilaksanakan secara mandiri dan berkelanjutan, menyasar sekolah-sekolah di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara yang terdampak banjir.

“Jika memungkinkan, kami akan menjangkau seluruh SMA/SMK/MA, baik negeri maupun swasta di Aceh, khususnya sekolah-sekolah terdampak banjir,” terang dia.

“Kami memandang trauma healing sebagai pendekatan penting agar siswa kembali pulih, bangkit secara mental, dan memiliki orientasi kuat untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi,” pungkasnya.

Baca juga: Ruang Lingkup Tembus Aceh Tengah, Salurkan Bantuan Alat Tulis, Gelar Sekolah Darurat Trauma Healing

Sementara itu, Ketua Pelaksana Program, Dr Mulyadi, MA menyoroti dampak trauma pada siswa usia sekolah dasar.

Seperti munculnya gejala psikosomatis berupa sakit kepala, melamun saat belajar, kesulitan fokus, hingga gangguan tidur, dan mimpi buruk terkait banjir.

Menurutnya, kondisi traumatis ini perlu dipahami oleh guru agar dapat melakukan pendekatan yang tepat.

“Guru dapat mendeteksi trauma melalui perubahan perilaku siswa, seperti menjadi sangat pendiam, mudah marah, sensitif, atau kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai,” jelasnya.

Di samping itu, Dr Mulyadi juga menjelaskan, kalau kegiatan trauma healing ini merupakan respons atas dampak psikologis yang dialami para pelajar akibat bencana banjir yang melanda wilayah Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara, beberapa waktu lalu.

"Program trauma healing ini bertujuan untuk memulihkan kesehatan mental, menumbuhkan kembali rasa aman, serta membangkitkan semangat belajar siswa agar tetap produktif dan tangguh pascabencana,” papar dia. 

“SMAN 5 Lhokseumawe dipilih sebagai lokasi launching perdana kegiatan ‘Saweu Sikula’ FISIP Unimal," tegasnya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana, Tuti Aryati, SSi, MT menjelaskan, di sekolahnya ada 76 siswa terdampak berasal dari Kota Lhokseumawe dan 23 siswa berasal dari Aceh Utara.

“Sekolah kami memang tidak mengalami kerusakan fisik yang parah, namun secara psikologis dampaknya sangat terasa,” urai Tuti. 

“Banjir ini belum pernah kami alami sebelumnya, datangnya cepat, luas, dan merata. Trauma itu masih membekas,” beber dia. 

“Karena itu, kegiatan trauma healing ini sangat membantu siswa untuk kembali fokus belajar, terutama bagi siswa kelas XII yang kami harapkan dapat melanjutkan studi ke perguruan tinggi,” ujarnya.

Salah seorang guru SMAN 5 Lhokseumawe, Nurul Salwa berharap, kegiatan ini tidak hanya memulihkan kondisi psikologis siswa.

Tetapi juga memberi motivasi agar mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, khususnya ke Universitas Malikussaleh.

“Siswa perlu mendapat informasi, pengetahuan, dan dorongan tentang dunia kampus,” tukasnya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.