POSBELITUNG.CO--Kasus pengeroyokan seorang guru oleh murid di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, mengundang keprihatinan publik.
Peristiwa yang viral di media sosial itu bukan sekadar insiden kekerasan spontan, melainkan disebut sebagai puncak dari konflik panjang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Guru tersebut adalah Agus Saputra, pengajar bahasa Inggris di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur.
Ia akhirnya buka suara dan mengungkap kisah pilu yang selama ini dipendam, mulai dari perundungan yang dialaminya hingga kronologi kejadian yang berujung pada pengeroyokan brutal oleh murid-muridnya sendiri.
Insiden ini mencuat setelah sebuah video beredar luas di media sosial pada Rabu (14/1/2026).
Dalam rekaman tersebut, terlihat Agus Saputra dikeroyok oleh sejumlah siswa laki-laki. Ia dipukul, ditendang, dan didorong hingga nyaris tak berdaya.
Agus sempat melakukan perlawanan dengan memukul balik salah satu murid. Namun karena kalah jumlah, ia akhirnya terdesak.
Beberapa guru dan siswa lain berusaha melerai dan menyelamatkannya.
Agus kemudian digiring masuk ke sebuah ruangan dan pintu langsung ditutup rapat untuk menghindari amukan lanjutan.
Di luar ruangan, murid-murid yang terlibat pengeroyokan masih terdengar berteriak dengan nada kasar dan penuh emosi, memperlihatkan situasi sekolah yang mencekam sore itu.
Setelah videonya viral, Agus akhirnya mengungkap kronologi awal kejadian yang memicu kekerasan tersebut.
Menurutnya, peristiwa bermula dari sebuah teguran di dalam kelas.
Agus mengaku terkejut ketika seorang siswa laki-laki meneriakinya dengan kata-kata yang tidak pantas dan tidak menghormati guru, padahal saat itu siswa tersebut sedang mengikuti pelajaran bersama guru lain.
“Kejadiannya bermula dari peneguran siswa di kelas. Di saat dia belajar dengan guru lain, dia menegur saya dengan tidak sopan, meneriakkan kata-kata yang tidak pantas,” ujar Agus.
Merasa dilecehkan secara verbal, Agus kemudian masuk ke kelas dan meminta siswa tersebut mengakui perbuatannya.
Namun bukannya meminta maaf, siswa tersebut justru bersikap menantang.
“Saya masuk ke kelas, saya tanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu. Dia langsung menantang saya. Akhirnya saya refleks satu kali menampar mukanya,” tutur Agus.
Tamparan tersebut menjadi pemicu konflik yang semakin memanas.
Menurut Agus, kejadian itu tidak berhenti di dalam kelas. Setelah jam pelajaran selesai, konflik terus berlanjut hingga waktu istirahat, bahkan sampai sore hari.
Siswa yang ditegur itu beberapa kali kembali menantangnya. Situasi makin panas meski sudah ada upaya mediasi.
Agus mengaku berusaha menahan diri dan memilih berada di area kantor sekolah yang terpasang kamera CCTV sebagai bentuk perlindungan.
“Saya berusaha tenang, saya masih berada di bawah kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian. Saya bahkan merekam teriakan mereka ke saya,” ungkapnya.
Namun, sekitar pukul 16.00 WIB, situasi berubah drastis. Agus tiba-tiba diserang oleh sekelompok murid dan dikeroyok secara membabi buta.
Insiden itulah yang akhirnya terekam dan menyebar luas di media sosial.
Pengakuan paling mengejutkan dari Agus adalah klaim bahwa dirinya telah mengalami perundungan dari murid tersebut selama dua tahun terakhir.
Ia menyebut, ejekan dan sikap tidak hormat itu dilakukan berulang kali dan bahkan diikuti oleh siswa laki-laki lainnya.
“Bertahun-tahun saya dirundung pelaku. Siswa laki-laki lain juga begitu,” kata Agus dengan nada lirih.
Selama ini, ia memilih bersabar dan menganggapnya sebagai risiko seorang pendidik.
Namun pada hari kejadian, rasa sakit hati yang selama ini dipendam akhirnya meledak.
“Saya sabar karena risiko mengajar. Tapi hari ini saya tidak tahan,” imbuhnya.
Agus juga menegaskan bahwa selama 15 tahun mengajar, ia tidak pernah sekalipun melakukan kekerasan terhadap murid.
Tamparan yang ia lakukan disebutnya sebagai reaksi spontan akibat tekanan psikologis yang menumpuk.
Di tengah simpati publik terhadap Agus, muncul pernyataan kontroversial dari Ketua OSIS SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur.
Dalam sebuah video klarifikasi yang beredar, Ketua OSIS menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut, namun bukan kepada sang guru.
“Atas nama Ketua OSIS dan perwakilan siswa-siswi, kami meminta maaf kepada instansi yang terlibat dalam masalah ini,” ucapnya.
Ia juga meminta maaf karena video pengeroyokan itu viral dan mencoreng nama sekolah. Namun pernyataan selanjutnya justru memantik kemarahan warganet.
Ketua OSIS mengklaim bahwa pengeroyokan terjadi karena Agus disebut sering menindas siswa.
“Hal tersebut terjadi karena oknum tersebut sering menindas kami di SMK,” ujarnya.
Ia bahkan menyampaikan tuntutan agar Agus dipindahkan ke sekolah lain karena dianggap membuat siswa merasa tidak nyaman.
Menanggapi tudingan tersebut, Agus membantah keras bahwa dirinya pernah menindas atau memaksa murid.
Ia menegaskan bahwa semua tugas diberikan secara sukarela dan tidak pernah ada paksaan.
“Tidak ada pemaksaan seperti yang dikatakan. Siapa yang mau mengerjakan, silakan. Semua tugas harus sukarela,” tegas Agus.
Ia juga menyayangkan pernyataan Ketua OSIS yang dinilainya tidak objektif dan justru menyudutkan dirinya sebagai korban kekerasan.
Kasus ini menjadi sorotan nasional dan membuka kembali diskusi tentang krisis disiplin, relasi guru dan murid, serta lemahnya perlindungan terhadap tenaga pendidik.
Banyak pihak menilai insiden ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan kegagalan sistem dalam mencegah kekerasan di lingkungan sekolah.
Hingga kini, pihak kepolisian dan dinas pendidikan setempat masih melakukan pendalaman kasus untuk memastikan duduk perkara secara utuh, termasuk dugaan perundungan, kekerasan, dan tanggung jawab institusional.
Sementara itu, Agus Saputra berharap kasus yang menimpanya menjadi pelajaran penting agar kekerasan di dunia pendidikan tidak lagi dianggap wajar, baik terhadap murid maupun guru.
“Guru juga manusia. Ada batas kesabaran,” pungkasnya.
(Tribunnews.com/TribunnewsBogor.com/Bangkapos.com)