Dinamika Muktamar Ke-35 NU: Sinyal Transformasi dan Dominasi Pasangan Kiai Asep-Kiai Imam Jazuli
January 15, 2026 08:38 PM

Oleh: Muhammad Husain
Aktivis Nahdlatul Ulama (NU)

TRIBUNNEWS.COM - Menjelang perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), peta dukungan kepemimpinan nasional organisasi ini mulai menunjukkan pergeseran yang cukup tajam. 

Hasil polling internal mencatatkan kejutan besar: pasangan Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. dan KH. Imam Jazuli, Lc., M.A. memimpin dengan perolehan 50,5 persen suara.

Angka ini bukan sekadar statistik melainkan representasi dari aspirasi akar rumput Nahdliyin yang mulai mendambakan "wajah baru" dengan visi transformatif. 

Berikut adalah analisa mengenai kekuatan masing-masing kandidat utama:

Pertama; Simbol Kemandirian dan Modernisasi

Dominasi pasangan ini (50,5%) mencerminkan keinginan kuat warga NU untuk melihat kepemimpinan yang menggabungkan tradisi kiai sepuh dengan manajerial modern.

Kiai Asep Saifuddin Chalim dikenal sebagai sosok visioner yang berhasil membangun kemandirian ekonomi pesantren melalui Pondok Pesantren Amanatul Ummah. 

Beliau adalah bukti nyata bahwa pendidikan pesantren bisa berkualitas internasional dan mandiri secara finansial.

Kehadiran KH. Imam Jazuli sebagai calon Ketua Umum Tanfidziyah memberikan energi muda yang progresif. 

Sebagai pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, ia membawa konsep "Pesantren Transformatif" yang relevan dengan tantangan disrupsi teknologi saat ini. 

Duet ini dianggap sebagai "Poros Jatim-Jabar" yang mampu mengonsolidasi basis massa terbesar NU dengan narasi kemandirian organisasi. 

Kedua figur ini juga dikenal jalur langitnya; shahibul tirakat dalail, shalat malam dan dermawan.

Kedua; Penjaga Marwah dan Stabilitas

Berada di posisi kedua dengan 38,0% suara, pasangan ini tetap menjadi kekuatan utama yang sulit diabaikan. 

KH. Said Aqil Siroj adalah intelektual kelas dunia yang memiliki akar kuat dalam pemikiran Islam Nusantara dan moderasi beragama (wasathiyah).

Pengalamannya memimpin PBNU selama dua periode memberikan jaminan stabilitas ideologis bagi warga NU.

Dukungan terhadap Kiai Said sering kali datang dari kelompok yang menginginkan NU tetap menjadi jangkar perdamaian nasional yang kokoh. 

Munculnya nama Gus Salam (KH Abdussalam Shohib) sebagai pendamping memberikan representasi dari trah pendiri NU (Tebuireng/Denanyar), yang memperkuat legitimasi moral di mata para kiai struktural maupun kultural.

Hasil survei internal peta dukungan jelang Muktamar ke-35 NU. 
Hasil survei internal peta dukungan jelang Muktamar ke-35 NU.  (Tribunnews.com)

Ketiga; Spektrum Alternatif: Keberagaman Preferensi Nahdliyin

Selain dua pasangan utama, munculnya nama-nama seperti KH. Nurulhuda Djazuli & KH. Nasaruddin Umar (3,2%) KH. Maruf Amin & Gus Yahya (2,4%) KH Miftachul Akhyar & Gus Zulfa(2,9%) hingga KH.Kafabihi & Gus Rozin ( 2,9%) menunjukkan bahwa kanal komunikasi di internal NU sangat terbuka.

Rendahnya angka polling bagi tokoh-tokoh incumbent atau tokoh senior lainnya bisa diinterpretasikan sebagai kejenuhan publik terhadap pola kepemimpinan lama yang dianggap terjebak dalam pusaran konflik internal. 

Warga NU nampaknya mulai memprioritaskan figur yang fokus pada pemberdayaan ekonomi dan kualitas pendidikan langsung ke basis pesantren.

Hasil polling selama hampir satu minggu ini menegaskan bahwa Muktamar ke-35 tidak akan menjadi sekadar seremoni formalitas. 

Dominasi pasangan Kiai Asep - Kiai Imam Jazuli memberikan peringatan bahwa suara arus bawah menginginkan perubahan nyata. 

NU yang lebih mandiri, lebih modern, dan lebih hadir dalam solusi persoalan hidup jamaahnya.

Pertarungan di Muktamar mendatang akan menjadi ajang adu gagasan antara kemandirian baru (Kiai Asep-Kiai Imam) melawan kemapanan intelektual (Kiai Said-Gus Salam). 

Suara Nahdliyin kini tidak lagi hanya soal mengikuti titah, tetapi soal memilih arah masa depan organisasi di tengah perubahan zaman yang kian cepat.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.