TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA — Kisah Syafiq Ridhan Ali Razhan, pendaki asal Magelang masih belum hilang di kalangan keluarga, relawan dan masyarakat.
Setelah 17 hari hilang di Gunung slamet, syafiq Ali akhirnya ditemukan di jalur Gunung Malang Purbalingga.
Syafiq Ali ditemukan kondisi meninggal dunia. Dokter juga sudah mengestimasi waktu kematian Syafiq.
Keluarga yang sudah sekian lama berdoa dan berikhriar pun ikhlas.
Mreka hanya ingin tahu waktu meninggalnya Syafiq untuk acara tahlil.
Dani Rusman, ayah Syafiq, bercerita kalau putranya bukanlah pendaki berpengalaman
Baca juga: RIP Syafiq Ali, Meninggal di Gunung Slamet Saat Cari Bantuan untuk Himawan, Ada Pesan untuk Mantan
• Foto-foto Misri, Sosok Perempuan dalam CCTV yang Diminta Kompol Made Yogi Dihapus
Gunung Andong mulanya menjadi pendakian pertamanya, sebelum akhirnya Gunung Slamet menjadi gunung kedua, dan terakhir yang ia daki.
Bahkan, awal kepergiannya pun tak sepenuhnya direncanakan.
“Syafiq awalnya pamit ke Gunung Sumbing,” tutur Dani, mengenang cerita sang anak, Kamis (15/1/2026).
Namun entah karena keinginan spontan atau perubahan rencana di perjalanan, ia mengatakan Syafiq justru berbelok ke Gunung Slamet.
Kepada ibunya, Syafiq sempat mengirimkan pesan yang kini menjadi kenangan paling pilu.
‘Duh Bun, aku kok kesasar ke Gunung Slamet,’ tulis Syafiq.
Pesan singkat itu rupanya menjadi isyarat terakhir bahwa langkah anaknya tengah berada di jalur yang tak ia rencanakan sebelumnya.
Meskipun demikian, bagi Dani peristiwa ini menjadi pengingat penting, tak hanya untuk keluarganya, tetapi juga bagi siapa pun yang hendak mendaki gunung.
“Ini jadi pembelajaran buat kita semua. Mendaki itu harus betul-betul dengan izin dan restu orang tua. Jangan sampai terulang,” ujarnya lirih.
Ia berharap Syafiq menjadi anak terakhir yang harus pergi dengan cara seperti ini.
Adapun, selama 15 hari pencarian, Dani dan keluarga tak tinggal diam.
Doa tak pernah putus, ikhtiar terus dilakukan.
Ia mengingat hari pertama menyusuri informasi di internet hingga mendatangi basecamp demi basecamp, saat anaknya mendadak hilang kabar hingga akhirnya sempat dinyatakan hilang.
“Segala macam cara kami lakukan. Tapi mungkin Allah saat itu belum menunjukkan kekuasaan-Nya. Alhamdulilah Allah menunjukkan jalan sehingga Syafiq bisa ketemu," katanya.
Meskipun merasa terpukul, ucapan syukur justru mengiringi kabar duka tersebut. Dani menyampaikan terima kasih mendalam kepada tim SAR gabungan, relawan, serta warga Desa Clekatakan yang saat itu tanpa pamrih ikut membantu pencarian.
“Mereka luar biasa. Naik turun gunung siang malam, hujan badai, tanpa pandang bulu. Semua ikhlas membantu mencari anak kami,” katanya.
Dengan keikhlasan penuh, keluarga memutuskan tidak melakukan otopsi. Bagi Dani, Syafiq telah pergi karena musibah dan kecelakaan murni.
“Kami hanya ingin tahu perkiraan waktu meninggalnya anak kami, supaya bisa menentukan hari tahlil. Itu saja,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menanggapi isu yang sempat beredar terkait keterangan Himawan, sahabat Syafiq sejak SMP, yang dinilai memiliki keterangan kronologi yang janggal.
Ia mengatakan , memilih menutup pintu prasangka.
“Saya sudah ikhlas. Saya tidak mengaitkan ini dengan siapa pun. Himawan sahabat Ali, saya anggap juga anak saya sendiri,” tegasnya.
Dokter telah mengungkap hasil visum jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Magelang yang hilang dan ditemukan tewas di Gunung Slamet Jawa Tengah.
Jenazah Syafiq sendiri telah dievakuasi oleh tim SAR gabungan melalui jalur Gunung Malang dan tiba di rumah sakit pada pukul 15.50 WIB, Kamis (15/1/2026).
dr. Gunawan, salah satu dokter forensik RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, yang melakukan visum terhadap Syafiq, memaparkan hasil pemeriksaan luar secara rinci.
“Hari ini pemeriksaan yang kami lakukan adalah visum luar. Dari identifikasi awal, korban berjenis kelamin laki-laki,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, dari kepala hingga ujung kaki, kondisi jenazah sudah mengalami proses pembusukan lanjut. Bahkan, ditemukan belatung yang telah mengerumuni tubuh korban.
“Belatung terpanjang yang kami ukur mencapai sekitar 1,5 sentimeter. Dari pemeriksaan kepala tidak ditemukan jejak atau tanda kekerasan. Begitu juga di leher, dada, maupun perut, tidak ditemukan tanda penganiayaan atau kekerasan,” katanya.
Namun, saat melakukan pemeriksaan pada anggota gerak, tim medis menemukan luka pada bagian paha kiri.
“Pada ekstremitas bawah kiri ditemukan luka berukuran sekitar 6 cm x 5 cm. Di lokasi luka tersebut terdapat tanda-tanda patah tulang paha kiri. Secara visual terlihat adanya deformitas atau perubahan bentuk bila dibandingkan dengan kaki kanan, dan saat diraba memang terdapat tanda patah tulang,” jelasnya.
Terkait estimasi waktu kematian, dr.Gunawan menyebut korban diperkirakan telah meninggal dunia sekitar 15 hari sebelum pemeriksaan dilakukan.
“Perkiraan waktu kematian kurang lebih 15 hari, dilihat dari kondisi jenazah dan keberadaan belatung,” ungkapnya.
Meski ditemukan patah tulang, dr.Gunawan menegaskan, pihaknya tidak dapat memastikan penyebab kematian, apakah akibat jatuh atau sebab lainnya, karena pemeriksaan yang dilakukan hanya pemeriksaan luar saja.
“Untuk penyebab pasti kami tidak bisa menyimpulkan, karena ini hanya pemeriksaan luar. Namun dari hasil visum luar ini memang tidak ditemukan adanya tanda-tanda penganiayaan,” tegasnya.
Dengan hasil tersebut, proses penanganan jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan pun memasuki tahap akhir. Jenazah kini telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Proses ini pun sekaligus mengakhiri pencarian panjang yang sempat menyita perhatian publik dan mengundang empati luas dari masyarakat
Wakapolres Purbalingga, Kompol Agus Amjat Purnomo, menyampaikan rasa duka mendalam atas meninggalnya korban. Ia memastikan pihak kepolisian siap mengawal proses pemulangan jenazah hingga ke kediaman keluarga di Magelang.
“Kami segenap stakeholder terkait menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya almarhum. Kami juga siap mengawal jenazah sampai ke rumah duka di Magelang dan menyerahkannya langsung kepada pihak keluarga,” ujarnya kepada awak media, Kamis (15/1/2026).
Ia menjelaskan, dari pihak rumah sakit telah dilakukan visum luar terhadap jenazah. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, tidak ditemukan adanya luka akibat penganiayaan atau tanda-tanda kekerasan.
“Dari hasil visum luar, tidak ditemukan tanda penganiayaan. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak keluarga, dan keluarga telah membuat pernyataan untuk tidak dilakukan otopsi atau pemeriksaan lanjutan,” jelasnya.
Dengan adanya kesepakatan tersebut, Polres Purbalingga pun telah secara resmi menyerahkan jenazah almarhum kepada keluarga untuk dimakamkan. (Farah Anis Rahmawati)