Anak-anak usia di atas memang bisa dikategorikan remaja. Sebagai individu, mereka dalam proses pencarian jati diri. Sarwono mendefinisikan remaja sebagai periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa, atau masa usia belasan tahun, atau masa seseorang yang menunjukkan tingkah laku tertentu, seperti susah diatur, mudah terangsang perasaannya.
Masa remaja itu sendiri secara umum atau rata-rata berlangsung dari umur 12-18 tahun, jadi masa sekolah menengah, masa intelektual kedua adalah (a) umur 12-13 tahun disebut masa puber, artinya anak besar, (b) umur 14-18 tahun masa remaja inti (sebenarnya), dan (c) umur 19-20 tahun adalah masa pradewasa. Sebagai remaja, anak-anak SMA tentu juga mengalami apa yang dialami remaja pada umumnya, seperti perkembangan fisik dan perkembangan psikis.
Menurut Fudyartanta, seiring perkembangan itu, remaja juga dituntut untuk mampu menampilkan tingkah laku yang dianggap pantas atau sesuai bagi orang-orang seusianya. Adanya perubahan baik di dalam maupun di luar dirinya itu membuat kebutuhan remaja makin meningkat. terutama kebutuhan sosial dan psikologisnya. Untuk memenuhi itu, remaja memperluas lingkungan sosialnya di luar lingkungan keluarga, seperti lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakat lainnya.
Anak-anak remaja biasanya juga ada yang sedang duduk di bangku sekolah menengah, mereka menghabiskan waktu sekitar tujuh sampai delapan jam sehari di sekolahnya. Dengan demikian, tidak mengherankan jika pengaruh sekolah terhadap perkembangan jiwa mereka sangat signifikan. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan di sekolah seharusnya bersifat positif dan merangsang perkembangan remaja ke arah yang baik, karena pada periode ini terkadang mereka sering labil sehingga bisa memengaruhi perkembangan moral dan religi (spiritual) serta dapat memengaruhi perkembangan inteligensinya, bahkan bisa saja mereka melakukan perilaku menyimpang.
Kedinamisan mental remaja ini bisa berefek positif bisa juga berefek negatif. Efek positifnya anak-anak itu bisa mencari pengalaman yang baik dari lingkungan, namun bagi yang tidak bisa memanfaatkan kedinamisan mentalnya bisa berakibat buruk, jika salah dalam bergaul mentalnya bisa saja terganggu, artinya mentalnya tidak sehat. Jika seseorang sudah tidak sehat mentalnya, dia akan kebingungan dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. Masalah itu bisa berupa adanya tekanan batin, konflik pribadi serta bisa mengalami depresi yang berat.
Menurut penulis, kedinamisan mental remaja bisa diarahkan kepada hal yang positif. Dengan demikian, remaja akan selalu berpikiran positif dan akan selalu melakukan hal-hal yang baik. Output-nya tentu hal yang positif pula. Akan lebih mudah jika penyaluran kedinamisan mental remaja itu dikoordinasi melalui sebuah kegiatan yang terorganisasi. Jika di sekolah ,tentunya kegiatan Pramuka yang paling cocok untuk menampung remaja-remaja seperti yang disebut di atas.
Kegiatan Pramuka adalah kegiatan ekstrakurikuler wajib di setiap sekolah, walaupun sempat “disunahkan” lewat Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024. Namun melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, kegiatan Pramuka dikembalikan menjadi wajib.
Kegiatan Pramuka sebagai suatu kegiatan ekstrakurikuler di lembaga pendidikan dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai luhur yang berpengaruh terhadap mental siswa. Karena kegiatan belajar mengajar saat ini lebih mengedepankan peningkatan kecerdasan siswa dalam menguasai materi pembelajaran dan kurang mengedepankan dalam mental siswanya. Maka, melalui kegiatan Pramuka tersebut diharapkan siswa dapat terdidik mentalnya menuju ke arah yang lebih positif dan dapat menerapkan nilai-nilai luhur Pramuka dalam kehidupan sehari.
Seperti yang sama-sama kita ketahui, dalam menanamkan dan menumbuhkan mental, di Pramuka mempergunakan sepuluh pilar yang menjadi kode kehormatan dan mempunyai makna suatu norma (aturan) serta menjadi standar tingkah laku Pramuka di masyarakat. Sepuluh pilar tersebut bernama dasa darma, yaitu takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, patriot yang sopan dan ksatria, patuh dan suka bermusyawarah, rela menolong dan tabah, rajin, terampil dan gembira., hemat, cermat dan bersahaja, disiplin, berani dan setia, bertanggung jawab dan dapat dipercaya, serta suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Dari sepuluh dasa darma Pramuka di atas, kita dapat mengambil benang merah bahwa Pramuka adalah suatu permainan yang mengandung pendidikan. Pendidikan yang paling mendasar dalam Pramuka yaitu pembinaan watak (moral). Dengan demikian, jika diterapkan dalam dunia pendidikan, Pramuka akan memberikan sumbangsih yang sangat siginifikan dalam pembentukan mental siswa.
Sinergisitas para pembina di sekolah dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler Pramuka diharapkan dapat membentuk mental spiritual siswa sekaligus dapat membuat siswa berprestasi secara akademik. Prestasi akademik ini diindikasikan dengan keintelektualan siswa. Indikator intelektual siswa ini sangat jelas, bahwa jika seorang siswa sudah berprestasi secara akademik, maka bisa dikatakan siswa tersebut sudah memiliki intelektual yang bagus. Di sinilah kegiatan Pramuka diharapkan memainkan perannya dengan baik. (*)