Upus Ni Mama, Renungan W/KI GMIM 25-31 Januari 2026, Mengasihi Saudara, Wujud Hidup di dalam Terang
January 17, 2026 06:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Upus Ni Mama, renungan Wanita Kaum Ibu (W/KI) GMIM 25 - 31 Januari 2026.

Pembacaan alkitab terdapat pada 1 Yohanes 2:7-17.

Tema perenungan adalah mengasihi saudara adalah wujud hidup di dalam terang.

Khotbah:

Ibu-Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Tanpa terasa kita sudah berada di minggu ke empat bulan pertama tahun 2026 ini. 

Perayaan Natal dan Tahun Baru telah kita lewati, dan kita mulai menapaki perjalanan panjang di tahun ini bersama Tuhan, Sang Terang Dunia.

Tema perenungan kita minggu ini adalah "Mengasihi Saudara adalah Wujud Hidup di Dalam Terang".

Dari tema ini kita seperti didorong untuk tetap terus hidup dalam kasih yang saling melengkapi di segala keadaan, seperti yang kita terapkan dalam perayaan Natal dan Tahun Baru.

Tema ini relevan ditempatkan di awal tahun ini, karena banyak orang yang setelah perayaan mengalami kelelahan rohani dan fisik, yang jika tidak dikelola baik, dapat menghadirkan stres.

Itu sebabnya, banyak ibu-ibu yang mulai sibuk di awal tahun ini dengan mempersiapkan segala sesuatu untuk bulan Desember nanti dengan orientasi hanya pada keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yoh 2:16). 

Ibu-Ibu Yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Tema perenungan kita hendak menjelaskan tentang kasih yang bukan sekedar slogan, atau hanya untuk diketahui, atau hanya sekedar perasaan, tetapi kasih adalah buah roh pertama, yang wajib dihasilkan oleh setiap orang percaya.

Kasih yang didemonstrasikan, adalah kasih yang hendak dimaksudkan dalam surat Yohanes ini. 

Maksud ini hendak dijelaskan kepada orang percaya di akhir abad pertama Masehi, ketika surat 1 Yohanes ini ditulis. Yohanes dan orang-orang percaya pada Yesus masa itu, sedang tidak baik-baik saja.

Mereka hidup di tengah-tengah komunitas kaum gnostik yang mengandalkan pengetahuan (gnosis), di mana mengklaim memiliki pengetahuan rohani tentang terang, tetapi kontras dengan kehidupan setiap hari karena mereka membenci sesamanya. 

Implementasi etis dari iman seperti kasih dan perbuatan baik terabaikan.

Rasul Yohanes menyanggah balik pandangan gnostisime ini dengan menyatakan bahwa terang yang sejati tidak hanya sebatas pengetahuan dan kecerdasan intelligence, tetapi harus berdampak pada tindakan yang memulihkan dan memberdayakan, bukan kebencian.

Kasih terhadap saudara mutlak dilaksanakan dalam hidup bersama. Terkesan dalam kondisi yang massif ini, Rasul Yohanes dengan sengaja menjadikan kasih sebagai alat uji atas kaum gnostik.

Sebab baginya, percaya tanpa tindakan mengasihi, sarna artinya dengan kemunafikan dan hidup di dalam kegelapan 
 (ay.9).

Perintah mengasihi saudara, bagi sang rasul, bukanlah suatu hal baru, tetapi menjadi baru dan benar sebab telah disempurnakan dan diwujudkan sepenuhnya dalam Yesus Kristus (ay.7-8), yang dalam kasih-Nya, telah setia sampai mati tersalib demi selamat manusia.

Dengan demikian, kasih bukan sekadar aturan, tetapi menjadi standar hidup yang dihidupkan oleh Kristus sendiri.

Ketika kita mengasihi saudara, sesungguhnya terang Kristus itulah yang bersinar melalui kita.

Bagi Yohanes, orang yang hidup di dalam Terang, di dalam dia tidak ada sandungan (ay.10); sebaliknya orang yang hidup dalam kegelapan adalah orang yang membenci (ay.9,11), dan kebencian itu menjadi racun yang membutakan jiwa. 

Ibu-Ibu Yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Tahun 2026 adalah tahun terakhir dalam periode pelayanan GMIM. Di tahun ini, bukan tidak mungkin kita akan berhadapan dengan kondisi kasih yang akan pudar dari kehidupan setiap orang, karena hubungan sosial yang semakin terdistorsi oleh interaksi daring.

Artinya: hubungan yang tadinya tulus, selalu bertemu dalam canda, berubah menjadi renggang karena jarak, waktu, atau kesibukan.

Kasih yang seharusnya menuntut pengorbanan waktu dan tenaga, terpelintir menjadi sebuah respons cepat di dunia maya. 

Contohnya: Ketika ada undangan keluarga, kehadiran kita digantikan dengan ucapan RIP/Turut Berdukacita atau Selamat Ulang Tahun, atau hanya sekedar memberikan jempol dan emoji, dan lain-lain. 

Kondisi ini menyebabkan kasih menjadi tidak berkorban, tidak berempati, dan tidak berintegritas. Inilah yang membuat kualitas kasih kita, meskipun terlihat ramai di dunia maya, terasa kosong dan dingin dalam realitas komunitas gereja. 

Mulai bulan ini pun, kita akan kembali ke kegiatan rutin dalam persekutuan wanita kaum ibu baik di kolom maupun jemaat. Kita akan kembali menjalankan ibadah secara formal tanpa hati yang tergerak oleh kasih.

Ini juga akan menciptakan kondisi di mana seseorang bisa terlihat rajin beribadah (hidup dalam terang), tetapi 
dingin terhadap sesama (hidup dalam kegelapan).

Bahkan sebentar bisa saja karena akan ada pemekaran kolom, pemilihan pelsus dan kategorial wanita kaum ibu, kasih akan pudar karena saling menjatuhkan atau alasan lainnya.

Maka belajar dari Firman Tuhan di minggu ini, kita terajak untuk menjadi pribadi yang kredibel dalam melaksanakan kasih Allah.

Sebagai tiang doa, maka wanita kaum ibu memiliki peran strategis untuk menyingkirkan segala bentuk gosip, iri hati, dan perselisihan yang dapat menjadi sandungan dan memecah belah persekutuan.

Hidup dalam terang berarti berbicara yang benar dan membangun iman, bukan merusak. 

Wanita Kaum Ibu dituntut untuk menjadikan kasih yang nyata sebagai bukti bahwa kita hidup di dalam terang Tuhan, setia dalam kasih kepada Tuhan dan sesama seperti mengasihi diri sendiri. Itulah hukum Tuhan yang harus dilakukan. Amin. 

Pertanyaan Untuk Diskusi: 

1. Apa yang anda pahami tentang mengasihi saudara sebagai wujud hidup dalam terang menurut 1 Yohanes 2: 7-17? 

2. Bagaimana bentuk mengasihi saudara dalam kehidupan sehari-hari?

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.