Renungan Harian Kristen 19 Januari 2026 - Tampil Hidup Sebagai Nabi
Bacaan ayat: Yohanes 7:40 (TB) Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan datang."
Oleh Pdt Feri Nugroho
Dalam terminologi iman Kristen, nabi ialah seseorang yang mendapatkan firman Tuhan dan diajarkan kepada umat.
Dalam paham teokrasi maka Tuhan sendiri yang menyatakan diri kepada barang siapa yang dikehendaki-Nya.
Artinya penyematan sebagai seorang nabi seringkali didasarkan atas pengalaman personal seseorang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan, dan dibuktikan bahwa perjumpaan tersebut benar.
Biasanya ditandai dengan mujizat supranatural yang menyertai. Itu berarti, diterimanya seorang sebagai nabi atas dasar bukti kuat bahwa ia memang seorang nabi.
Itu sebabnya Musa sempat galau ketika diminta oleh Tuhan memimpin umat pilihan keluar dari perbudakan di Mesir.
Orang-orang pasti akan mempertanyakan otoritasnya. Bukan hanya umat pilihan, bahkan Firaun pun harus diyakinkan bahwa Musa adalah benar-benar nabi dari Tuhan.
Seringkali menyebut Yesus sebagai nabi, agak sungkan dilakukan. Meskipun faktanya, dalam catatan Injil, dalam beberapa kesempatan Yesus disebut sebagai nabi dan Ia tidak menolak sebutan tersebut.
Pengajaran dan kehidupan-Nya menjadi bukti kuat bahwa Yesus adalah Nabi.
Alasan lain seseorang sungkan menyebutkan Yesus sebagai Nabi, seakan akan merendahkan indentitas diri-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Alasan tersebut cukup masuk akal untuk dipahami.
Meskipun demikian, pemahaman Yesus sebagai Nabi perlu dikonfirmasi kebenarannya. Pertama, orang-orang menyebut-Nya Nabi dan Yesus tidak menolaknya.
Bahkan saat ditolak di Nazaret, Ia menyatakan penolakan tersebut sesuai dengan paham bahwa seorang nabi diterima di mana-mana, kecuali di tempat asalnya.
Maka Yesus bisa memaklumi penolakan orang Nazaret, kota asal tinggal-Nya, meskipun Ia pun kecewa atas penolakan tersebut. Kedua, pada umumnya nabi adalah seseorang yang mendapatkan Firman Allah untuk diajarkan kepada orang banyak.
Sementara Yesus ialah Firman yang menjadi orang, untuk mengajarkan kebenaran pada orang banyak. Itu berarti keberadaan Yesus sebagai Nabi berada pada posisi sebagai puncaknya para nabi. Ia ialah Firman Allah itu sendiri yang mengajar.
Jika Firman yang yang biasanya datang kepada orang untuk diajarkan, kali ini Firman itu menjadi orang yang mengajar. Ia menjadi puncak segala kenabian sehingga setelah Dia tidak perlu nabi lagi.
Menariknya, bahwa setelah Dia, orang percaya belajar dari Dia sehingga setiap orang percaya mendapatkan perintah yang sama yaitu untuk mengajarkan kepada orang lain tentang iman yang mereka miliki.
Konsekuensi logisnya, bahwa setiap orang percaya ialah seorang nabi, dalam kapasitas untuk mengajarkan pengajaran kebenaran Yesus kepada orang lain. Indah bukan?
Hari ini setiap kita memiliki identas dan tanggung jawab yang tidak kecil. Setiap orang percaya mendapatkan identitas baru sebagai nabi Tuhan.
Pasti ada tanggung jawab yang menyertainya. Nabi itu belajar untuk mengajar. Yesus paham bahwa dalam posisi ini, lintas generasi, akan kesulitan belajar apa yang Ia ajarkan.
Itu sebabnya Penolong yang lain diutus untuk menolong yaitu Roh Kudus.
Penting untuk up grade diri agar terus dapat mengajarkan tentang kebenaran Tuhan. Setiap orang percaya ialah seorang nabi Tuhan. Amin
Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang