Ahmad Dison Terpilih Jadi Ketua, IJTI Riau Tegaskan Peran Jurnalis di Era AI dan Digitalisasi
January 17, 2026 09:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Musyawarah Daerah (Musda) Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Provinsi Riau tahun 2026 menetapkan Ahmad Dison sebagai ketua baru untuk masa jabatan empat tahun ke depan.

Penetapan ini sekaligus menegaskan arah jurnalistik televisi di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Musda IJTI Riau tersebut digelar di salah satu hotel berbintang di Kota Pekanbaru, Sabtu pagi (17/1/2026).

Kegiatan ini dihadiri Ketua Umum IJTI Herik Kurniawan, perwakilan Bidang Organisasi IJTI Pusat Jazuli, Bidang Hukum IJTI Pusat Agus Siswanto Siagian, serta Ketua IJTI Koordinator Wilayah Sumatera, Gusti Yannosa.

Dalam forum tersebut, Ahmad Dison yang merupakan jurnalis SCTV terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Koordinator Daerah IJTI Riau untuk periode 2026–2030.

Terpilihnya Ahmad Dison diharapkan mampu membawa semangat baru dalam penguatan profesi jurnalis televisi di Provinsi Riau.

Ketua Umum IJTI Herik Kurniawan menyampaikan harapannya agar kepemimpinan baru dapat menghadirkan perubahan positif, terutama dalam penegakan etika jurnalistik serta peningkatan kesejahteraan jurnalis televisi di tengah era digitalisasi.

“Semoga di kepemimpinannya bisa menghadirkan upaya-upaya perubahan, terutama terkait penegakan etika jurnalistik serta peningkatan kesejahteraan jurnalis televisi ke depannya, khususnya di Provinsi Riau di era digitalisasi,” tuturnya.

Menurut Herik Kurniawan, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi tantangan sekaligus peluang bagi jurnalis televisi.

Dalam konteks tersebut, AI dipandang bukan sebagai pengganti jurnalis, melainkan sebagai mitra kolaboratif.

Meski demikian, peran utama jurnalis dinilai tetap tidak tergantikan, terutama dalam memastikan kebenaran informasi melalui verifikasi langsung di lapangan.

Jurnalis masa depan dituntut adaptif, memiliki kemampuan storytelling yang kuat, serta literasi digital yang memadai agar tetap relevan dan mampu menjaga kualitas jurnalistik di tengah banjir informasi.

Penilaian konteks, empati terhadap narasumber, serta keberanian menguji fakta disebut sebagai ranah yang tidak dapat sepenuhnya diambil alih oleh teknologi.

(rilis)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.