Gaji Guru Honorer Kecil, Sabil Tak Menyesal Banting Setir Jualan Risol, Bisa Menggaji 5 Karyawan
January 17, 2026 09:29 PM

TRIBUNJATIM.COM - Inilah kisah mantan guru honorer yang banting setir jadi penjual risol.

Ia berjualan di halaman minimarket di kawasan Pertigaan Cideng, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Penjual risol itu diketahui bernama Muhammad Sabil Fadhillah (38).

Rupanya tiga tahun lalu, Sabil masih berprofesi sebagai guru honorer di salah satu SMK di Kota Cirebon.

Gaji yang dia terima hanya cukup untuk bertahan hidup dan tak bisa diandalkan.

Baca juga: Banting Setir dari Lele, Budi Sukses Budidaya Lobster Air Tawar, Biaya Pakan Nol Rupiah dari Limbah

Akhirnya, ia memilih berhenti menjadi guru dan memilih jualan risol bersama saudaranya.

Di bulan-bulan awal, Sabil dan saudaranya mengerahkan hampir seluruh tenaga, kemampuan, serta tabungan.

Namun hasil tak kunjung datang.

Satu hingga tiga bulan berlalu tanpa pemasukan berarti.

Bahkan hingga lima bulan, usaha tersebut nyaris tenggelam dan meninggalkan kerugian jutaan rupiah.

Sabil menyadari, fase itu lazim dialami pedagang kecil yang memulai usaha dari nol.

Produk harus dikenalkan, dipasarkan, dibentuk polanya, dan kesabaran benar-benar diuji.

“Benar kata orang, jualan harus berani bakar uang di awal-awal. Bakar uang untuk mengenalkan produk, konsisten, sampai orang benar-benar cocok. Saya mengalami fase itu, dan berat,” kata Sabil saat ditemui, Kamis (15/1/2026) malam.

Yakin Jualan Risol Bisa Perbaiki Ekonomi

Di tengah modal yang semakin menipis, Sabil memilih bertahan.

Ia dan saudaranya tetap konsisten, meyakini risol yang mereka jual dapat menjadi penopang ekonomi keluarga.

Usaha ini bukan hanya tentang dirinya, tetapi juga orang-orang terdekat yang menggantungkan harapan hidup padanya.

Usaha tersebut diberi nama “Sumber Risol”.

Awalnya hanya sebuah lapak kecil di halaman minimarket dekat Polresta Cirebon.

Setiap hari, Sabil membawa 40 risol dalam satu tepak.

Namun yang terjual sering kali hanya tiga hingga lima buah.

Sisanya disimpan dalam kondisi beku agar tidak menambah kerugian.

Sejak awal, Sabil merancang risol agar tidak mudah basi.

Baginya, kualitas bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal keberlangsungan hidup.

Kesalahan kecil dalam proses produksi bisa berujung kerugian besar.

Lima bulan terasa sangat berat. Namun setelah itu, secercah harapan mulai muncul.

Pembeli yang semula datang sesekali berubah menjadi pelanggan.

Satu tepak risol habis dalam sehari, lalu bertambah dua tepak, hingga akhirnya stabil di tiga tepak atau sekitar 120 risol per hari dengan berbagai varian. 

Kondisi ini bertahan hampir dua tahun terakhir.

Lonjakan penjualan biasanya terjadi saat bulan puasa, pengajian, dan musim liburan.

Risol kerap dibeli sebagai bekal perjalanan atau suguhan acara keluarga.

Buka Lapak Lain

Stabilitas tersebut mendorong Sabil membuka lapak kedua di sekitar lampu merah Cideng.

Namun bagi Sabil, risol bukan sekadar omzet.

Usaha kecil itu kini menghidupi enam orang, lima di antaranya keluarganya sendiri.

Tiga orang menangani produksi, dua menjaga lapak, dan Sabil merintis lapak kedua seorang diri.

Ia tidak memosisikan diri sebagai pemilik yang hanya mengambil untung.

Dalam kondisi penjualan minim sekalipun, hasil tetap dibagi secara adil.

Upah setiap orang berkisar Rp 1,2 juta hingga Rp 1,7 juta per bulan.

Angka ini konsisten dijaga selama tiga tahun terakhir, meski untuk dirinya sendiri sering kali jauh dari cukup.

Baca juga: Sosok Aktor Tampan Banting Setir Jualan saat Sepi Job, Tak Malu Keliling Tawarkan Keripik Kentang

Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan menurunnya daya beli masyarakat, Sabil tidak menggantungkan hidup sepenuhnya pada “Sumber Risol”.

Ia menambal kebutuhan dengan berbagai pekerjaan serabutan: sopir cadangan rental mobil, membuka kursus menyetir, fotografi dan videografi, hingga menjadi Tour Leader (TL) perjalanan wisata ke Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Semua itu dilakukan demi menghidupi keluarganya: seorang istri, satu anak yang akan masuk kelas 1 SD, dan satu calon bayi yang masih dikandung istrinya.

Menurut perhitungannya, kebutuhan minimal keluarga berada di kisaran Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per bulan untuk makan, listrik, dan transportasi.

Kebutuhan sekunder masih harus ditunda.

Ia pun menanamkan nilai kesederhanaan dan rasa syukur kepada keluarganya. 

Bagi Sabil, bertahan hidup di masa sulit membutuhkan tiga hal: keterampilan yang bisa ditawarkan, keberanian mempromosikan kemampuan, serta kemampuan membangun dan menjaga relasi.

Dari jaringan inilah, berbagai peluang penghasilan datang. Ia tidak berbicara soal mimpi besar. 

Berita Lain

Seorang guru honorer, Bagas Chabib Kurniawan (36), bertahan hidup dengan gaji Rp300 ribu sebulan.

Untuk menambah penghasilan, ia menjalani tiga peran setiap hari demi satu tujuan, yaitu bertahan hidup.

Ya, Bagas adalah seorang guru, pelatih, sekaligus driver ojek online.

Setiap hari, Bagas berganti peran.

Pagi harinya, ia berdiri di depan murid-murid SDN Kauman Lor 01, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, sebagai guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).

Sudah dua tahun terakhir ini, statusnya masih Wiyata Bakti alias guru honorer.

"Saya jadi guru sejak 2011," kata Bagas, Rabu (14/1/2026) sore, sembari menyeka keringat usai melatih anak-anak di Lapangan Klumpit, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, Jawa Tengah (Jateng).

Baca juga: Dulunya Pemain Sepak Bola, Eks Atlet Banting Setir Nyanyi dan Rilis Lagu: Namanya Juga Hidup

Perjalanan mengajarnya panjang.

Ia pernah menjadi guru Wiyata Bakti di SDN Pabelan 01, lanjut mengajar di SD Lebah Putih selama tiga tahun.

Lalu lima tahun di SD Islam Al-Azhar 22 Salatiga, sebelum kembali menjadi guru honorer di sekolah negeri.

"Harapan kami bisa diangkat menjadi PPPK," ucapnya singkat, mengutip Kompas.com.

Di balik dedikasi tersebut, ada realitas yang tak mudah.

Gaji Bagas sebagai guru honorer hanya Rp300.000 per bulan.

"Dengan gaji segitu, jelas tidak cukup," katanya lirih.

Sebagai kepala keluarga dan ayah dua anak, Bagas tahu ia tak punya banyak pilihan selain mencari penghasilan tambahan.

Kehidupan Bagas tak berhenti di sana.

Alhasil, ia menyalurkan cintanya pada sepak bola dengan melatih anak-anak tiap sore.

Sejak 2015, Bagas melatih sepak bola usia dini.

Sore hari dihabiskannya di lapangan.

Anak-anak yang ia latih bukan sekadar murid, melainkan harapan, baik bagi mereka maupun bagi Bagas sendiri.

Ia pernah melatih di SSB Pandawa dan SSB SKB.

Sebelum kini menetap di SSB POP Junior Salatiga serta melatih ekstrakurikuler sepak bola di SMP Negeri 1.

Baru ketika matahari tenggelam, Bagas kembali mengganti 'kostum'.

Jaket hijau ojek online dikenakannya.

Sejak 2019, ia menyusuri jalanan Salatiga sebagai driver.

"Saya biasa mangkal di Pasar Sapi atau sekitar Tegalsari. Kalau hujan atau badan capek, ya pulang," ujarnya.

Ia mengakui, persaingan driver ojek online kini jauh lebih ketat.

Penghasilan tak lagi bisa diandalkan seperti dulu, namun tetap ia jalani.

Baca juga: Modal Rp3 Juta, Seger Sang Sopir Banting Setir Jadi Juragan Buah, Sebulan Bisa Raup Rp160 Juta

Dengan tiga pekerjaan sekaligus, waktu bersama keluarga menjadi kemewahan.

"Paling hanya beberapa jam di rumah. Yang penting ada doa keluarga supaya saya sehat," kata Bagas.

Bagas tak mengeluh, ia memilih menerima kenyataan hidupnya dengan lapang dada.

"Mengajar di kelas, melatih di lapangan, dan narik ojek di jalanan—semua saya jalani dengan senang. Yang penting halal," ucapnya.

Langit Salatiga mulai gelap, Bagas membereskan bola dan rompi latihan, dan anak-anak yang dilatihnya pulang membawa mimpi mereka masing-masing.

Sementara Bagas kembali melanjutkan perjalanannya—dari lapangan ke jalanan, demi keluarga yang menunggunya di rumah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.