Laporan Wartawan TribunBekasi Muhammad Azzam
TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI---- Orang tua salah satu penumpang pesawat ATR 42-500 masih berharap ada mukjizat untuk anaknya Ferry Irawan yang masih dinyatakan hilang.
Orang tua Ferry Irawan berharap putranya masih selamat dari peristiwa yang diduga kecelakaan pesawat tersebut.
Harapan itu disampaikan keluarga Ferry di Jalan H. Kunen, RT 04 RW 05, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi.
Rumah tersebut terlihat sudah dipasang tenda pada Minggu (18/1/2026).
Meskipun dipasang tenda, keluarga tidak memasang bendera kuning karena berharap ada keajaiban dan mukjizat keselamatan Ferry.
Tohorin (50) menyampaikan, pihak keluarga masih menunggu kabar resmi dari Kementerian terkait kondisi Ferry.
Keluarga berharap agar Ferry ditemukan dalam keadaan selamat.
"Iya keluarga belum ya, karena tidak mau mendahului takdir ya. Masih menunggu informasi resmi," katanya.
Kakak Ferry, Widya Astuti, mengatakan, komunikasi terakhir terjadi sekitar pukul 09.30 WIB. Saat itu, ia mengabarkan rencana keluarga Ferry untuk berlibur ke kawasan Puncak, Bogor.
“Saya kirim foto anak-anak ke dia, bilang habis ini aku mau ke rumah Bogor, tapi dia gak balas,” kata Widya.
Widya kemudian kembali mengirim video aktivitas anak-anak Ferry sekitar pukul 10.30 WIB.
Namun, video tersebut tidak terkirim. Keluarga menduga Ferry sudah berada dalam penerbangan.
Widya menyebut dirinya menjadi orang pertama yang menerima informasi hilangnya kontak pesawat. Namun kabar tersebut belum langsung disampaikan kepada istri dan kedua anak Ferry.
“Anak-anak juga belum tahu tadi, pas sampai sini baru dikasih tahu, gitu,” ungkap Widya.
Menurut Widya, Ferry rutin menjalankan tugas pengawasan udara hampir setiap pekan sebagai bagian dari pekerjaannya.
Sementara itu, istri Ferry, Meyla Eskaria Putri, mengungkapkan sempat melakukan video call singkat dengan suaminya sebelum kejadian. Dalam percakapan itu, Ferry menitipkan pesan untuk anaknya.
“Cuma sempat video call, cuma dia pesan ke anaknya, makan yang banyak, anak saya susah makan. Itu saja sih,” kata Meyla.
Keluarga masih menunggu kabar resmi dari KKP terkait kondisi Ferry.
Pantauan Tribun Bekasi pada Minggu (18/1/2026), sejumlah kerabat berkumpul di kediaman orangtua Ferry di Jalan H. Kunen, RT 04 RW 05, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Berdasarkan pantauan, sejumlah warga tengah memasang tenda di jalanan depan rumahnya.
Baca juga: Salah Satu Penumpang Pesawat Hilang di Maros Ternyata Warga Bekasi, Begini Kondisinya
Sejumlah kerabat maupun tamu pun silih datang ke rumah orang tua Ferry.
Ferry Irawan merupakan analis kapal pengawas pada Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) sejak 2024.
Saat kejadian, ia bersama dua pegawai KKP lainnya menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara di wilayah pengelolaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selain Ferry yang berpangkat Penata Muda Tingkat I, dua pegawai KKP lain di dalam pesawat yakni Deden Mulyana (Penata Muda Tingkat I), pengelola badan milik negara, serta Yoga Noval, operator foto udara.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport bernomor registrasi PK-THT dilaporkan hilang kontak dalam penerbangan dari Bandara Adisutjipto Jogjakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros, Sulsel, Sabtu (17/1/2026), pukul 13.17 Wita.
Pesawat ATR 42-500 tersebut dilaporkan bertolak dari Yogyakarta menuju Makassar.
Informasi awal menyebutkan pesawat mengangkut 10 orang yang terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang, dengan pilot in command Capt Andy Dahananto.
Namun viral salah satu pendaki merekam serpihan pesawat di atas gunung.
Pendaki itu merekam potongan terpihan pesawat yang terbakar.
Tim BPBD Pangkep menerjunkan 6 anggota ke lokasi pesawat.
"Tim sudah berangkat sejak satu jam yang lalu," kata Herianti Tualle dari BPBD Pangkep.
“Kami menuju ke lokasi (diduga tempat hilang kontak pesawat) di sekitaran Leang Leang, Maros. Sudah diberangkatkan 5 orang pertama untuk assesment, kemudian kedua 15 orang lagi. Kemudian 40 orang sesuai potensi yang ada," kata Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan.
Basarnas juga menerbangkan 1 drone untuk pencarian.
Informasi diterima Basarnas dari Kantor Pelayanan Navigasi, AirNav Indonesia Cabang MATSC, di Makassar, pesawat tersebut hilang kontak di titik koordinat 04*57’08” S 119*42’54”E.
Pesawat mengangkut 3 penumpang dan 8 kru. (MAZ)