TRIBUNJATIM.COM - Sambil mengangkut jenazah, sebuah mobil ambulans nekat menyeberangi sungai.
Video yang memperlihatkan kejadian mobil ambulans ini viral di media sosial pada Sabtu (17/1/2026).
Peristiwa ini pun menjadi sorotan publik.
Baca juga: Kebiasaan Roby Tremonti di Masa Lalu Dibongkar Teman Sekolahnya: Gambarnya Jorok Semua
Diketahui, peristiwa ini terjadi di Sungai Oehani, Desa Fatunaus, Kecamatan Amfoang Utara, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam video berdurasi 1 menit 28 detik tersebut, ambulans terlihat perlahan memasuki sungai dengan arus cukup deras.
Kendaraan tersebut sempat terjebak di tengah sungai selama sekitar satu jam sebelum akhirnya berhasil menyeberang dengan bantuan warga.
Puluhan warga tampak berdiri di dalam sungai untuk menjaga agar ambulans tidak terseret arus.
Aksi gotong royong warga menjadi penopang utama keselamatan kendaraan yang membawa jenazah tersebut.
Kepala Desa Fatunaus, Jhoni Adu, membenarkan kejadian tersebut.
Ia mengatakan, ambulans tersebut mengangkut jenazah Noldi Faris Nompetus, Kepala Urusan Pemerintahan (Kaur Pemerintahan) Desa Fatunaus.
"Kejadian berlangsung sekitar pukul 15.00 WITA, di Sungai Oehani," ujar Jhoni saat dihubungi oleh Kompas.com, Sabtu malam.
"Almarhum merupakan Kaur Pemerintahan Desa Fatunaus," lanjutnya.
Menurut Jhoni, jenazah dibawa dari Kota Kupang menuju kampung halaman di Desa Fatunaus setelah meninggal dunia di RSUD WZ Johannes Kupang.
Meski sempat terhambat akibat debit air sungai yang tinggi, jenazah akhirnya tiba di rumah duka.
"Mobil jenazah sudah sampai di rumah duka," katanya.
Jhoni menjelaskan, Sungai Oehani merupakan satu-satunya akses transportasi bagi warga Desa Fatunaus.
Hingga kini, belum tersedia jembatan permanen yang menghubungkan wilayah tersebut.
"Dulu ada jembatan sejak tahun 1990-an, tetapi sudah rusak. Sekarang akses jalan harus melalui sungai," ujarnya.
Baca juga: Aksi Warga Protes Beli Rumah Rp1 Miliar Tapi Bau Sampah, Pengelola: RDF Bukan Produknya Kita
Ia menambahkan, saat hujan deras dan debit air meningkat, warga terpaksa menunggu hingga sungai surut untuk bisa melintas.
"Kondisi ini sangat menghambat aktivitas masyarakat, terutama saat banjir," kata Jhoni.
Pemerintah desa dan masyarakat setempat berharap adanya perhatian dari Pemerintah Provinsi NTT maupun pemerintah pusat untuk membangun jembatan permanen di lokasi tersebut.
"Jalan poros tengah Timau–Naikliu perlu mendapat perhatian. Jalur ini menjadi jalan alternatif yang menghubungkan Lelogama dengan tiga kecamatan pesisir, yakni Amfoang Barat Daya, Amfoang Barat Laut, dan Amfoang Utara," ujarnya.
Hal serupa dialami warga Desa Fataatu Timur, Kabupaten Ende, NTT.
Mereka masih harus menguatkan hati dan perjuangan.
Laporan Pemerintah Desa menghadapi kondisi sulitnya akses warga untuk dapat fasilitas kesehatan masih belum disentuh pemerintah provinsi maupun pusat.
Kondisi tidak adanya jembatan di Desa Fataatu Timur sangat jadi masalah bagi warga.
Sebagian besar warga tidak bisa mendapatkan fasilitas kesehatan tepat waktu, apalagi jika dalam kondisi sangat darurat.
Ketiadaan jembatan masih menjadi persoalan utama yang dihadapi warga Desa Fataatu Timur dan sejumlah desa lain di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, NTT.
Hampir setiap musim hujan, ratusan warga mulai dari pelajar, orang dewasa, lanjut usia hingga ibu hamil, terpaksa menerobos derasnya banjir di Kali Lowolaka.
Demi sampai ke sekolah, para siswa melepas sepatu agar tidak basah saat menyeberangi sungai.
Tak jarang, anak-anak harus dibantu orang tua atau warga setempat untuk melintasi derasnya arus Kali Lowolaka.
Bahkan, mereka terkadang terpaksa meliburkan diri dan tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Isak mengungkapkan, ketika banjir besar, sekitar satu minggu air di sungai itu baru benar-benar surut.
Situasi ini semakin menyulitkan siswa, terutama ketika bertepatan dengan masa ujian sekolah.
"Kalau banjir terjadi saat ujian, itu sangat sulit. Anak-anak tetap berusaha datang ke sekolah dengan dibantu orang tua mereka menyeberangi kali."
"Tapi kalau banjir besar, ujian terpaksa ditunda," ungkapnya.
Baca juga: Pura-pura Jadi Tamu Undangan, 2 Wanita Kepergok Curi Amplop Pengantin, Nangis Dipermalukan Warga
Tak hanya sektor pendidikan yang terdampak, akses layanan kesehatan menjadi persoalan.
Ibu hamil misalnya sudah menjadi langganan harus digendong menyebrangi sungai apalagi jika musim hujan sungai banjir.
Arus deras Kali Lowolaka menjadi persoalan utama di Desa Fataatu Timur.
"Kondisi ini merupakan masalah berulang setiap tahun. Saat musim hujan, akses transportasi lumpuh total. Mobilitas orang dan barang terhambat, dan yang paling terdampak adalah anak-anak sekolah," ujar Kepala Desa Fataatu Timur, Isak Abel Do, Rabu (14/1/2026), dikutip dari Kompas.com.
Isak menceritakan pengalamannya pada tahun 2016 saat membawa seorang ibu hamil yang hendak melahirkan ke Puskesmas Weloamosa, yang berjarak lebih dari 10 kilometer dari Desa Fataatu Timur.
Saat itu, Kali Lowolaka sedang banjir, mobil yang tumpangi tidak mampu menembus arus.
Ia terpaksa menggunakan truk untuk mengangkut ibu hamil tersebut agar bisa menerobos banjir.
"Bahkan ada ibu hamil yang harus digendong menyeberangi kali saat musim hujan."
"Ada juga warga Desa Aendoko yang sakit dan dirujuk ke Puskesmas pada malam hari, terpaksa digotong ke seberang kali sebelum dibawa mobil," tuturnya.
Menurut Isak, meski terdapat jalur alternatif berupa jalan rabat beton yang dibangun menggunakan dana desa pada 2018, namun jalur tersebut bukanlah solusi efektif saat keadaan genting.
Sebab, jarak tempuhnya mencapai sekitar empat jam perjalanan, sementara melewati Kali Lowolaka hanya memakan waktu sekitar 10 menit.
Ia mengungkapkan, pemerintah desa telah berupaya menyuarakan persoalan ini melalui Musrenbang tingkat kecamatan dan kabupaten.
Namun hingga kini, pembangunan jembatan penghubung belum juga terealisasi.
"Kami sangat berharap pemerintah pusat, pemprov NTT, dan pemkab dapat merespons serius persoalan ini. Kali Lowolaka adalah satu-satunya akses transportasi masyarakat," tandasnya.