TRIBUN-MEDAN.COM,- Beberapa sumber menyebutkan, bahwa fenomena alam gerhana matahari total yang akan terjadi pada 2 Agustus 2027 termasuk fenomena yang berlangsung lebih lama.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Setyoajie Prayoedhie mengatakan, gerhana matahari total tersebut akan berlangsung selama 6 menit 23 detik.
Baca juga: Apa Itu Kabut Adveksi, Fenomena Alam yang Menyelimuti Bali, Simak Penjelasannya
Ketika fenomena alam ini terjadi pada puncaknya, maka wilayah yang terdampak akan berubah menjadi gelap.
"Secara teknis, Gerhana Matahari 2 Agustus 2027 adalah salah satu yang terlama, tapi bukan yang paling lama di seluruh abad ke-21," kata Setyoajie Prayoedhie, Minggu (18/1/2026) dikutip dari Kompas.com.
Setyo bilang, bahwa gerhana matahari total terlama ini sudah pernah terjadi di tahun 2009 lalu.
Baca juga: 21 Desember Memperingati Hari Apa? Ternyata Ada Peringatan Soal Fenomena Alam
"Pemegang rekor Gerhana Matahari terlama di abad ini sebenarnya jatuh pada 22 Juli 2009 dengan durasi 6 menit 39 detik," terang Setyoajie.
Meski begitu, banyak orang menjuluki fenomena alam kali ini sebagai "Eclipse of the Century", karena hanya terjadi sekali dalam seumur hidup manusia.
"Gerhana tahun 2027 dijuluki 'Eclipse of the Century' bagi banyak orang karena merupakan gerhana dengan durasi lebih dari 6 menit yang melintasi daratan yang sangat luas dan mudah diakses, sehingga menjadikannya fenomena sekali seumur hidup yang sangat epik," jelas Setyoajie.
Baca juga: Fenomena Alam Langka Mirip Tornado Terjadi di Tengah Danau Toba, BMKG Silangit Berikan Penjelasan
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Setyoajie Prayoedhie mengatakan hanya ada beberapa wilayah di Indonesia yang dapat menyaksikan fenomena alam ini.
Satu diantara wilayah itu adalah Kota Medan, Sumatera Utara.
Baca juga: Tembagapura Papua Turun Hujan Salju, BMKG Sebut Ini Fenomena Alam Langka yang Terjadi di Indonesia
Selain Kota Medan, Aceh, Jakarta dan Sumatera Barat juga berpotensi bisa menyaksikan fenomena alam 'abad ini'.
"Bisa (disaksikan di Indonesia), tapi hanya sebagian kecil dan sangat tipis," ucapnya.
Akibatnya, akan sangat sulit untuk menyaksikan fenomena tersebut tanpa alat bantu dan ufuk barat yang sangat bersih.
Sementara itu, masyarakat yang tinggal di Indonesia bagian Timur tampaknya tidak dapat menyaksikan fenomena Gerhana Matahari 2027 karena saat gerhana terjadi di pusatnya, wilayah tersebut sudah memasuki waktu malam hari.
(tribun-medan.com)