Gelar Festival Nanas, Wamentras Viva Yoga Dorong Nanas Jadi Komoditas Unggulan Kawasan Transmigrasi
January 19, 2026 04:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mendengar aspirasi petani nanas dalam agenda pertemuan yang digelar di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Kampar, Provinsi Riau, Sabtu (17/1/2026).

“Pak, di Desa Rimbo Panjang ini ada lahan seluas 108 Ha untuk budidaya nanas. Namun lahan yang saya garap itu bukan milik pribadi, tetapi milik orang lain yang bersedia memberikan pemanfaatannya kepada saya,” ujar Sendo Naminrova, salah satu petani nanas.

Pria berumur 61 tahun itu mengatakan, di desa yang berada di Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, itu ada 38 petani nanas. Dari lahan 1 Ha mampu menghasilkan 19.000 buah nanas. Harga per buah disebut Rp6000. 

“Dari menanam nanas inilah kami bisa menyekolahkan anak-anak,” ujarnya. 

Dirinya berharap pemerintah melalui Kementerian Transmigrasi untuk memikirkan lahan yang mereka olah yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh pemiliknya.
 
Semua keluhan petani nanas diterima dengan terbuka oleh Viva Yoga. Ia menjelaskan, salah satu amanat Presiden Prabowo Subianto kepada Kementerian Transmigrasi adalah melakukan reforma agraria, yaitu memberikan tanah kepada rakyat lewat program transmigrasi karya nusa atau transmigrasi lokal. 

“Tanah yang diberikan bukan sekadar lahan namun juga sebagai sumber ekonomi untuk meningkatkan pendapatan rakyat,” ujarnya. “Jadi yang belum memiliki lahan bisa ikut program transmigrasi,” tambahnya.
 
Dirinya senang Kampar menjadi sentra nanas. Ada tiga desa sentra yang memiliki lahan nanas yang mencapai ribuan Ha. Tiga desa itu adalah Rimbo Panjang, Pagaruyung, dan Kualu Nenas.

Untuk lebih memberdayakan komoditas itu, BPPMT Pekanbaru menggelar Festival Nanas. Dalam festival yang bertema ‘Pengembangan Komoditas Nanas sebagai Produk Unggulan di Kawasan Transmigrasi’ itu digelar lapak yang menyajikan berbagai camilan atau ‘snack’ dari hasil olahan nanas, seperti sirup, dodol, keripik, dan jajanan tradisional lainnya.

Untuk memberdayakan petani nanas dan buahnya, Viva Yoga menyebut Kementerian Transmigrasi membuat perencanaan untuk mengembangkan melalui program rumah produksi nanas. “Sebagai bukti dari keseriusan program ini, hari ini pula kita resmikan Pusat Edukasi Nanas Moris,” ujarnya. Pusat edukasi itu berada di lahan belakang BPPMT Pekanbaru.
 
Selepas meresmikan pusat edukasi, Viva Yoga didampingi oleh Kepala BPPMT Pekanbaru Ahmad Syahir melakukan tanam bibit dan petik buah nanas. Menurut mantan Anggota Komisi IV DPR dua periode itu, buah yang kulitnya kasar dan daunnya tajam itu tak hanya mengandung banyak vitamin yang dibutuhkan tubuh manusia namun buah dan daunnya bisa dimanfaatkan untuk sirup, wine, pupuk, kosmetik, bahan bioetanol, dan serat kain atau benang.

“Jadi banyak nilai ekonominya dari membudidayakan nanas ini,” ujarnya.
 
Dengan adanya pusat edukasi, para calon transmigrasi akan dilatih membudidayakan nanas. “Mereka akan ditempatkan di berbagai kawasan transmigrasi sehingga komoditas nanas akan tumbuh di mana-mana,” ujarnya.

“Pengembangan nanas secara menyeluruh akan menjadi bagian yang sangat penting di dalam pengembangan ekonomi masyarakat,” tambah mantan Presidium MN KAHMI itu.
 
Menurut Ahmad Syahir, tumbuhan ini bisa ditanam di daerah yang tandus, gersang, lahan gambut, maupun tanah yang tidak subur. “Kita kembangkan nanas di wilayah kerja BPPMT Pekanbaru,” ujarnya. Wilayah kerja balai ini meliputi seluruh Pulau Sumatera termasuk Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. “Sebagai produk unggulan maka nanas kita jadikan maskot BPPMT Pekanbaru," tegasnya.
 
Sedang menurut Sendo, nanas moris memiliki keunggulan rasanya manis, harum, tahan hama, dan bisa bertahan selama satu minggu pasca petik.

Baca juga: Kementrans Kembangkan Potensi 154 Kawasan Transmigrasi dari Riset Tim Ekspedisi Patriot 2025

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.