Laporan Kontributor Tribunjabar.id Kiki Andriana
TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG – Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir ingin siswa-siswa di kabupaten yang dipimpinnya memiliki 'ruang belajar' yang luas.
Dia mengarahkan satuan pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran kontekstual dengan memanfaatkan potensi daerah, mulai dari kawasan konservasi hingga situs sejarah. Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Palasari–Gunung Kunci dan Museum Prabu Geusan Ulun.
Arah kebijakan tersebut ditegaskan melalui Surat Edaran Bupati Sumedang Nomor 6 Tahun 2026 tentang Himbauan Pemanfaatan Tahura sebagai Sarana Pembelajaran Berbasis Lingkungan. Kebijakan ini sekaligus menjadi tindak lanjut dari Surat Edaran Gubernur Jawa Barat terkait 9 Langkah Pembangunan Pendidikan Jawa Barat menuju Gapura Panca Waluya.
Dony Ahmad Munir menilai, proses belajar tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas. Menurutnya, lingkungan alam dan kekayaan sejarah daerah justru dapat menjadi medium pembelajaran yang lebih hidup dan bermakna.
Baca juga: Peringatan Harlah Ke-53 PPP di Sumedang, Bupati Dony Dorong Partai Hadirkan Solusi Nyata bagi Umat
“Sumedang memiliki Tahura sebagai laboratorium alam, sekaligus Museum Prabu Geusan Ulun yang sarat nilai sejarah dan budaya. Keduanya dapat dimanfaatkan untuk membentuk kepedulian lingkungan dan memperkuat identitas generasi muda,” kata Dony kepada Tribun Jabar.id, Senin (19/1/2026).
Ia menambahkan, pendekatan tersebut sejalan dengan implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Melalui pembelajaran berbasis lingkungan dan kearifan lokal, peserta didik diharapkan memperoleh pengalaman langsung yang menumbuhkan karakter.
“Anak-anak perlu mengenal alam, sejarah, dan budayanya sendiri. Dari situ akan tumbuh karakter Cageur, Bageur, Bener, Pinter, tur Singer,” ujarnya.
Dalam surat edaran tersebut, sekolah diimbau memanfaatkan kawasan Tahura Gunung Palasari–Gunung Kunci untuk kegiatan pembelajaran luar kelas yang terarah, seperti pengenalan keanekaragaman hayati, konservasi lingkungan, pengelolaan sampah, serta penanaman nilai cinta alam.
Sementara itu, Museum Prabu Geusan Ulun diarahkan menjadi pusat pembelajaran sejarah dan budaya, termasuk penguatan nilai-nilai perjuangan serta kearifan lokal Sumedang.
Bupati Dony menekankan bahwa kegiatan pembelajaran di luar kelas ini tidak dimaksudkan sebagai wisata atau study tour. Seluruh aktivitas harus menjadi bagian dari proses pendidikan yang terintegrasi dengan kurikulum dan dilaksanakan secara sederhana.
“Ini bukan kegiatan rekreasi, tetapi proses pembelajaran. Harus terencana, terukur, dan tidak memberatkan peserta didik maupun orang tua,” katanya.
Lebih lanjut, kepala satuan pendidikan diminta menyesuaikan pelaksanaan kebijakan tersebut dengan kondisi masing-masing sekolah serta berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait sesuai ketentuan yang berlaku.
Melalui kebijakan ini, Pemerintah Kabupaten Sumedang berharap lahir generasi pelajar yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, berwawasan lingkungan, serta bangga terhadap sejarah dan budaya daerahnya. (***Kiki Andriana***)