TRIBUN TIMUR.COM, MAKASSAR – Identitas korban pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) rute Yogyakarta-Makassar yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Pangkep-Maros, Sabtu (17/1/2026), belum terungkap.
Hal ini dikatakan Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), Kombes Didik Supranoto di Kantor Biddokkes Polda Sulsel, Jl Kumala, Makassar, Senin (19/1/2026), sore.
“Untuk identitas korban saat ini kami belum bisa menyampaikan karena takut terjadi kebocoran data. Kami akan menyampaikan data korban itu sesuai hasil identifikasi dari tim DVI. Tapi intinya, proses identifikasi sudah berjalan,” ujar Kombes Didik.
Hingga saat ini, kata Kombes Didik, Polda Sulsel melalui Biddokkes dan tim Disaster Victim Identification (DVI) telah melakukan pemeriksaan ante mortem terhadap delapan keluarga korban.
Empat keluarga datang langsung ke Pos Ante Mortem di Biddokkes Polda Sulsel, Jalan Kumala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.
Sementara empat keluarga lainnya diperiksa di kediaman masing-masing.
“Ini juga kita jemput bola. Tim DVI mendatangi keluarga korban di tempat mereka berdiam agar bisa memantau proses penanganan ini,” tambahnya.
Kombes Didik menjelaskan, proses identifikasi korban akan dilakukan secara bertahap.
Setelah pengumpulan data ante mortem dari keluarga, tim akan melakukan post mortem begitu tim SAR menyerahkan temuan, baik berupa jenazah, bagian tubuh, maupun barang-barang milik korban.
“Dari data awal ante mortem dan post mortem ini akan dicocokkan. Setelah cocok, baru bisa disimpulkan apakah korban yang ditemukan sesuai manifest maskapai atau data dari Kementerian Perhubungan,” jelasnya.
Baca juga: Pemburu Madu Hutan Bulusaraung Ikut Bantu Cari Korban Jatuhnya Pesawat ATR 42-500
Sejauh ini, lanjut Kombes Didik, sudah ada dua korban yang berhasil ditemukan.
Namun, pihaknya belum menerima penyerahan jenazah dari tim SAR.
“Kami menunggu penyerahan dari Basarnas. Setelah itu, proses identifikasi bisa diselesaikan dan disampaikan kepada keluarga korban secara resmi,” ungkapnya.
Terkait pihak keluarga yang belum menjalani ante mortem, Kombes Didik menyebutkan, masih ada dua keluarga kru yang akan segera hadir untuk pemeriksaan.
“Semua kru, ada dua yang belum. Sebentar lagi mereka akan datang dan dilakukan tes ante mortem,” katanya.
Menurut Kombes Didik, koordinasi dengan keluarga korban berjalan lancar.
“Keluarga korban yang sudah menjalani ante mortem berjumlah delapan. Ini berarti koordinasi sudah dilakukan, dan kami akan terus memantau serta memberikan informasi setelah data dari TKP siap dicocokkan,” tandasnya.
Terpisah, Tim SAR Gabungan masih memusatkan upaya pencarian terhadap para korban pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan mengalami kecelakaan.
Hingga saat ini, proses evakuasi difokuskan pada pencarian korban, sementara upaya menemukan black box atau kotak hitam pesawat menjadi prioritas berikutnya.
Diketahui, Pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta - Makassar jatuh di Gunung Bulusaraung.
Pesawat itu mengangkut 10 orang terbagi dari delapan awak dan tiga penumpang.
Hingga hari ketiga ini, sudah ada dua kobran ditemukan dalam kondisi meniggal dunia.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengatakan pencarian korban menjadi fokus utama tim di lapangan mengingat jumlah penumpang dan kru pesawat yang masih belum ditemukan.
“Untuk black box kami belum fokus ke black boxnya, melihat dari jumlah korban, kami fokusnya di korban dulu,” katanya di Posko AJU, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, pada Senin (19/1/2026) sore.
Ia menjelaskan, untuk black box pesawat akan tetap dicari, namun mereka masih fokus untuk mencari korban.
Untuk titik koordinat bagian ekor pesawat, kata dia, sudah diketahui.
Namun, kondisi medan yang sulit membuat lokasi tersebut belum sepenuhnya dapat dijangkau tim SAR.
“Tetap juga nanti kita (upayakan), itu kan titik koordinat ekornya sudah jelas kan,” jelasnya.
Untuk memperluas area pencarian, Tim SAR Gabungan berencana melibatkan masyarakat setempat yang memahami kondisi medan.
Rencana tersebut akan dilakukan pada hari berikutnya.
“Besok mungkin kita bersama masyarakat pencari madu (melakukan pencarian di lokasi),” tambahnya.
Diketahui, Tim SAR gabungan kembali menemukan satu korban dalam operasi pencarian pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Senin (29/1/2026)
Korban terbaru tersebut ditemukan sekitar 15 menit sebelum konferensi pers yang dimulai pukul 14.25 Wita, sekitar pukul 14.10 Wita.
Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkapkan, penemuan korban itu berdasarkan laporan langsung dari tim SAR yang berada di lokasi kejadian.
“Dari hasil komunikasi kami yang terhubung langsung dengan tim di lapangan, hari ini kembali ditemukan satu korban. Kira-kira 15 menit yang lalu,” kata Syafii saat konferensi pers di Kantor Basarnas Makassar, kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Senin siang.
Dengan penemuan tersebut, total korban yang telah ditemukan hingga hari ketiga pencarian berjumlah dua orang
Sebelumnya, satu korban lebih dahulu ditemukan pada hari sebelumnya, di lereng sedalam 200 meter.
Sementara, korban kedua ditemukan pada kedalaman 500 meter.
Meski demikian, Basarnas belum dapat memastikan identitas korban yang baru ditemukan tersebut
Kami sampaikan bahwa untuk penentuan identitas korban bukan kewenangan kami. Itu akan dideklarasikan oleh DVI Mabes Polri,” jelasnya.
Berdasarkan informasi awal dari lapangan, korban kedua yang ditemukan diduga berjenis kelamin perempuan.
Sementara korban pertama yang ditemukan sebelumnya diduga berjenis kelamin laki-laki
Namun, kepastian terkait identitas maupun kondisi korban tetap menunggu hasil resmi dari tim DVI Polri.
Ia menjelaskan, lokasi penemuan korban berada di area dengan kondisi medan yang sangat ekstrem.
“Kondisi lokasi sangat terjal, hampir tegak lurus. Kedalamannya cukup ekstrem dan didominasi bebatuan,” ungkapnya.(*)