Fakta Baru Misteri Batu Diduga Prasasti di Bandung, Tulisan Diukir Pakai Obeng
January 19, 2026 08:11 PM

 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, mengungkap fakta baru terkait misteri batu yang diduga Prasasti Cikapundung. Batu itu berada di Kampung Cimaung, RT 07/07, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung.

Lokasi batu 2,5 ton tersebut berada di tepi Sungai Cikapundung dan permukiman padat penduduk. Tim peneliti sudah melakukan ekskavasi di lokasi penemuan untuk mengungkap keaslian dan konteks arkeologis batu.

Baca juga: Misteri Batu Diduga Prasasti di Tamansari Menemui Titik Terang, Begini Hipotesa Peneliti

Kepala Disbudpar Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, mengatakan, batu tersebut sudah diteliti oleh tim arkelogi dari sejumlah kampus. Hasilnya, tim tersebut meragukan batu ini merupakan prasasti kuno.

"Sejauh ini kajiannya, bahwa batu itu memang bukan prasasti kuno karena ada sejumlah temuan tim peneliti di lapangan yang membuat batu itu diragukan sebagai prasasti," ujar Adi Junjunan, Senin (19/1/2026).

Dia mengatakan, temuan dari tim ahli arkeologi yang menguatkan batu itu bukan prasasti di antaranya tanah di sekitar batu ditemukan sampah-sampah modern seperti plastik dan keramik. Sampah itu ditemukan saat dilakukan penggalian.

Baca juga: Ditemukan 66 Tahun Lalu, Misteri Aksara Sunda pada Batu Prasasti di Bandung Belum Bisa Dipecahkan

Baca juga: Penemuan Batu Diduga Prasasti di Bandung, Ada Gambar Tengkorak, Aksara Sunda Kuno-nya Belum Terbaca

Kemudian tulisan di batu itu juga, kata dia, berbeda dengan aksara Sunda kuno hingga muncul pengakuan warga sekitar yang mengaku telah mengukir tulisan di batu tersebut menggunakan obeng dan palu sekitar tahun 1987.

"Jadi informasinya, orang tersebut saat itu masih berusia 13 tahun. Pengakuannya, simbol yang dia ukir karena termotivasi kepada aksara asing sewaktu kecil," katanya.

Atas hal tersebut, kata Adi, klaim ini mengubah total status batu tersebut dari peninggalan sejarah menjadi karya seni anak-anak. Sehingga batu ini belum bisa disebut sebagai batu prasasti.

Namun, pihaknya akan terlebih dahulu melakukan pendalaman atas laporan ini, mulai dari mengundang tim peneliti, termasuk mengklarifikasi kepada warga sekitar yang sudah mengukir berbagai simbol di batu Cimaung tersebut.

"Kita masih akan klarifikasi, karena dulu kan spekulasinya ini diperkirakan dari abad ke-7 sampai 11. Rencannya di pekan ini kita akan ada pendalaman, klarifikasi dari hasil kajian tersebut," ujar Adi. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.