Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Ricuh di Keraton Solo Minggu (18/1/2026) bakal lanjut sampai ke ranah hukum.
Beberapa orang, mengaku mendapat luka fisik, dan berencana melaporkan hal itu ke kepolisian.
Baca juga: BREAKING NEWS : Cucu PB XIII Dilaporkan Imbas Bentrok Jelang Penyerahan SK Fadli Zon di Keraton Solo
Salah satunya adalah Putri PB XIII, GKRP Timoer Rumbai Kusuma Dewayani.
Juru bicara kubu Pakubuwono XIV Purboyo, KPA Singonagoro, mengungkapkan, Rumbai mengalami luka lebam dalam peristiwa itu.
Menurut Singonagoro, tak hanya Rumbai, tapi sejumlah sentono dalem yang lain juga mengalami luka fisik.
Ia mengatakan, luka dialami saat terjadi aksi dorong-dorongan antar pendukung dua raja Keraton Kasunanan Surakarta.
“Kalau untuk kejadian itu di belakang Dalam Ageng sini, kemungkinan terjadi dorong-mendorong,"
"Memang ada beberapa Gusti itu juga staf-staf dalem itu yang juga mengalami luka-luka yang sama gitu,” kata Singonagoro, dalam wawancara pada TribunSolo.com di kawasan Keraton, Senin (19/1/2026).
Kelompok pendukung Purboyo, saat ini masih mengumpulkan bukti dan keterangan yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Singonagoro memastikan akan memproses hukum segala bentuk kerugian yang dialami.
“Nanti kita tunggu perkembangannya, ya. Yang jelas semuanya kita secara tegas proses dan kami juga akan laporkan dan kita kawal semuanya gitu,” kata Singonagoro.
Kericuhan fisik dalam peristiwa di hari Minggu itu terjadi di Bangsal Siaga Pulisen.
Keributan dimulai saat pihak Lembaga Dewan Adat (LDA) yang mendukung Pakubuwono XIV Hangabehi, tidak bisa membuka pintu Keraton.
Padahal, saat itu akan digelar acara penyerahan SK hak pemanfaatan Keraton Solo, dari Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, kepada adik Pakubuwono XIII, KGPAA Tedjowulan, yang selama ini dikenal dekat dengan kubu Hangabehi.
Pendukung Purboyo menghalangi acara ini, karena mereka menolak bila hak pemanfaatan Keraton Solo diberikan negara ke Tedjowulan.
Karena tak bisa membuka pintu Keraton, para pendukung LDA memanjat tembok pakai tangga bambu.
Pendukung Purboyo berusaha menghalangi namun akhirnya pintu berhasil terbuka.
Terbukanya pintu membuat kedua kubu bertemu, saling dorong, hingga akhirnya berujung bentrok. (*)