Cerita AKP Mawar Latih Petugas Haji 2026 Baris-berbaris: Pakai Pendekatan Serius, tapi Santai
January 19, 2026 09:33 PM

TRIBUNNEWS.COM - Aba-aba "maju, jalan!"menggema di salah satu sudut Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (15/1/2026).

Mendengar aba-aba tersebut, sejumlah perempuan yang merupakan calon petugas haji 2026 mulai melangkah serempak.

Ekspresi wajah mereka juga tampak fokus mengikuti instruksi, meski sesekali masih terlihat canggung dalam mengatur langkah dan ayunan tangan.

"Berhenti, grak!" Drap, suara hentakan sepatu terdengar hampir bersamaan. Beberapa peserta tersenyum kecil sebab ada orang yang salah Langkah saat berhenti.

Kemudian, suara tegas terdengar. "Ibu-ibu, setiap langkah dimulai dari kaki kiri. Berakhirnya pun di kaki kiri. Kalau kaki kiri di depan, tangan kanannya diayun ke depan. Jangan mbagong, kaki kiri dan tangan kiri ke depan semua," katanya.

"Oke, kita latihan sekali lagi, setelah itu, ibu-ibu bisa beristirahat," tambah sosok yang mengenakan rompi cokelat dengan tulisan fasilitator di bagian depan. 

Dan setelah diulang, para peserta tampak mulai lebih percaya diri. Langkah kaki perlahan kian selaras, ayunan tangan lebih teratur. Melihat hal itu, sosok dengan suara tegas itu tersenyum puas.

Dialah AKP Mawar Runiasih, seorang personel Polri yang selama ini bertugas di Sepolwan Lemdiklat Mabes Polri. Sejak Sabtu (10/1/2026), AKP Mawar -begitu ia karib disapa- menjadi salah satu pelatih dalam pendidikan dan pelatihan (diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026.

Selama enam hari itu hingga 30 Januari 2026 mendatang, AKP Mawar menjadi pengasuh bagi lebih dari 286 calon petugas haji perempuan yang menempati Gedung D Asrama Haji Pondok Gede dan masuk dalam kompi G.

Kepada Tribunnews.com, AKP Mawar mengungkapkan rasa syukurnya karena terpilih menjadi satu di antara instruktur calon petugas haji yang akan bertugas di Arab Saudi pada penyelenggaraan ibadah haji 2026.

"Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT, karena diberi izin dan kepercayaan, serta atas penugasan dari pimpinan Polri untuk mewakili sebagai fasilitator petugas haji. Alhamdulillah," ucapnya.

Baca juga: Beri Apresiasi pada Petugas Haji Perempuan, Wamenhaj: Lebih Bersemangat

Ini adalah pengalaman pertama bagi perwira menengah dengan tiga balok emas di pundak itu mengemban tugas melatih para petugas haji perempuan dalam materi baris-berbaris.

Sebelumnya ia bertugas sebagai pelatih dan instruktur di Sepolwan Lemdiklat Mabes Polri dan mendidik calon-calon siswa Polwan dari seluruh Indonesia.

"Pembelajaran pengasuhan seperti ini sudah saya lakukan selama berdinas," katanya. Hanya saja, lanjut dia, peserta yang ia latih kali ini berbeda. 

AKP Mawar melatih para calon petugas haji perempuan yang mayoritas merupakan ibu-ibu. 

Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari ibu rumah tangga, karyawan swasta, dosen, dokter, perawat, ASN, jurnalis, pimpinan pondok pesantren, hingga personel TNI/Polri.

Berbeda dengan calon siswa Polwan yang umumnya sudah memiliki dasar baris-berbaris, para peserta diklat diklat  PPIH 2026 harus memulai dari nol. Banyak yang sudah lupa atau bahkan belum pernah mengikuti pelatihan baris-berbaris sama sekali.

"Materi yang kami ajarkan meliputi sikap di tempat, seperti sikap siap, istirahat, hadap kanan, dan hadap kiri. Kemudian sikap berjalan, seperti maju jalan, langkah tegap, hormat kanan, serta barisan kumpul," jelas ibu dua anak tersebut.

"Semua itu dilakukan dengan satu komando dari pemimpin. Artinya, para petugas haji harus mampu mengendalikan ego dan patuh terhadap aturan satu komando," tambahnya.

Serius, tapi Santai

Meski mengusung konsep semi-militer pada diklat petugas haji tahun ini, tapi fasilitator tetap menerapkan sisi-sisi humanis. Hal ini pula yang dijalani AKP Mawar. 

Agar materi baris-berbaris yang ia ajarkan mudah diterima oleh para peserta diklat PPIH 2026, AKP Mawar melakukan sejumlah pendekatan. Dengan dibantu 6 pelatih lainnya, AKP Mawar menerapkan konsep 'sersan' alias serius, tapi santai.

Saat latihan dimulai, pihaknya tetap menekankan kedisiplinan dan keseriusan. Namun ketika melihat peserta mulai lelah, ia memberikan waktu istirahat untuk minum dan makan ringan. 

"Kami terus mengingatkan peserta untuk cukup minum agar tidak mengalami dehidrasi," tuturnya.

Selain itu, latihan baris-berbaris tidak selalu dilakukan di luar ruangan. Saat cuaca mendung atau hujan, latihan dipindahkan ke dalam asrama. 

AKP Mawar juga kerap memberikan apresiasi kepada peserta yang mampu menjalankan aba-aba dengan baik. Untuk menjaga semangat peserta yang mulai menurun, ia memiliki trik tersendiri dengan mengajak meneriakkan meneriakkan yel-yel bersama.

Cara pendekatan tersebut ternyata ampuh. Di hari keenam latihan baris-berbaris, ia melihat para petugas haji telah menunjukkan perubahan sikap dan perilaku yang cukup signifikan. 

Mereka menjadi lebih disiplin dan tepat waktu dalam setiap kegiatan. Pergerakan pasukan antar lokasi juga sudah satu komando dan dilakukan secara berbaris sehingga terlihat rapi dan tertib.

"Tentunya ini yang diharapkan oleh pemerintah, agar petugas haji memiliki karakter taat aturan, tertib, disiplin, tepat waktu, serta rapi dalam berpenampilan," katanya.

Kuncinya Sabar dan Ulet

Lulusan Diktuk Bintara Polwan Angkatan 27 itu tak menampik, di awal-awal pelatihan baris-berbaris, ada beberapa kendala yang dihadapinya. 

Namun, dengan kesabaran dan ketelatenan ekstra, materi yang disampaikan AKP Mawar berhasil diterima dengan baik.

"Sebagai pelatih, kami tentu harus lebih sabar, tekun, dan ulet. Latihan dilakukan secara berulang-ulang. Alhamdulillah, ibu-ibu di sini terbuka dan menerima semua materi yang kami ajarkan," kata dia.

Puncaknya, ada perubahan sikap dan perilaku sudah terlihat jelas dari para petugas haji perempuan dalam enam hari ini. Contohnya, mereka jarang sekali telat ketika mengikuti kegiatan di Asrama Haji.

"Perubahan sikap dan perilaku sangat terlihat dan bersifat positif. Ibu-ibu peserta juga sangat semangat. Alhamdulillah, hingga hari keenam ini seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dalam kondisi sehat," katanya.

Ia pun berharap, para petugas haji yang telah menjalani diklat dapat melaksanakan amanah yang diberikan oleh Allah SWT dan pemerintah sebagai pelayan jemaah haji yang disiplin, berintegritas, dan profesional.

"Di Tanah Suci nanti, kita bukan berhaji, tetapi bertugas memberikan pelayanan maksimal kepada para jemaah haji," tegasnya.

Tuai Respons Positif

Latihan baris-berbaris yang menjadi salah satu materi dalam diklat PPIH Arab Saudi 2026 menuai respons positif dari para peserta.

Satu di antaranya Siti Nuraeni, calon petugas haji yang berasal dari Brebes, Jawa Tengah. Aeni, begitu ia karib disapa, merasakan begitu banyak perubahan setelah menjalani latihan baris-berbaris.

"Perubahan yang saya rasakan adalah disiplinnya, yang disiplin itu pasti. Mulai dari disiplin waktu, disiplin untuk kekompakannya, disiplin untuk kita bisa menahan ego. Yang kedua adalah kita bisa kompak," kata dia.

Aeni mengaku sempat kaget dengan adanya materi baris-berbaris dalam diklat PPIH 2026. Terlebih ia terakhir kali berlatih baris-berbaris saat masih bersekolah.

"Pas di rumah itu kaget sekali, karena persepsi kita itu berbaris-baris, kita di barak seperti itu ya. Tapi ternyata Masya Allah, kebaikannya buat siapa? Buat kita semuanya. Sebelum kita ke Arab Saudi, kita harus disiplin di sini dulu, kita harus benar-benar siap," ungkapnya.

Bekal di Medan Tugas

Sementara itu, Wakil Ketua Diklat PPIH Arab Saudi, Kol (Purn) Muftiono menilai, kekompakan yang dibangun melalui baris-berbaris menjadi modal penting bagi para petugas haji yang akan bertugas di Arab Saudi.

Di Tanah Suci, para petugas haji akan bekerja dalam tekanan tinggi, mobilitas padat, dan situasi yang dinamis. Dalam kondisi tersebut, kerja tim menjadi kunci.

"Di sana, mereka bukan berangkat untuk berhaji, tapi bertugas melayani tamu-tamu Allah. Tidak boleh ada petugas yang tidak saling kenal atau tidak saling mendukung," ujar Muftiono.

Ia menegaskan, petugas haji merupakan representasi bangsa Indonesia di mata dunia. "Masing-masing punya tugas dan fungsi, tapi tetap harus utuh dan solid sebagai satu tim," katanya.

Dengan fondasi baris-berbaris yang kuat sejak awal diklat, Muftiono optimistis kualitas petugas haji 2026 akan semakin baik.

"Mudah-mudahan dengan pendidikan dan latihan ini, petugas haji tahun ini lebih solid dan lebih siap dibandingkan tahun sebelumnya," pungkasnya.

Dari aba-aba sederhana hingga langkah yang serempak, baris-berbaris menjadi lebih dari sekadar latihan fisik. Ia menjelma sebagai bahasa kebersamaan, disiplin, dan tanggung jawab sekaligus bekal penting bagi para pelayan tamu Allah di Tanah Suci.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.