Terungkap Alasan Mahasiswa Gorontalo Kini Lebih Sering Nongki di Street Coffee
January 19, 2026 10:47 PM

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Lapak kopi pinggir jalan atau street coffee kini menjadi pemandangan yang semakin akrab di Kota Gorontalo. 

Saat malam tiba, kursi plastik berjajar di trotoar dan bahu jalan, dipenuhi anak muda, mahasiswa, hingga pekerja muda yang singgah untuk sekadar minum kopi dan berbincang.

Tak hanya itu beberapa sudut pasar, taman pun sudah banyak penjual kopi dengan berbagai nama dan desain tempat nongkrong. 

Fenomena ini terlihat di sejumlah titik, mulai dari kawasan Jalan Panjaitan, Jalan Ex Andalas, Jalan Cokroaminoto hingga ramai dijadikan lokasi nongkrong. 

Konsepnya sederhana, tanpa bangunan mewah atau dekorasi mahal, namun justru itu yang membuat banyak pengunjung merasa lebih nyaman.

Sebut saja Adelia Febriana (19), mahasiswi Poltekkes Gorontalo asal Toili, Sulawesi Tengah, mengaku cukup sering menghabiskan waktu di lapak kopi pinggir jalan. 

Saat ditemui di street Coffe Panjaitan, ia mengatakan suasana menjadi alasan utama dirinya betah datang.

“Kalau nongkrong di street coffee itu lebih santai, tidak terlalu kaku seperti di kafe. Kita bisa duduk lama, ngobrol bebas, sambil lihat suasana jalan juga,” ujarnya, Senin malam (19/1/2026) ditemui di Street Coffe Opini Rasa, Panjaitan. 

Menurut Adelia, rasa kopi memang penting, namun bukan satu-satunya faktor. 

Dia menyebut kombinasi suasana terbuka dan harga yang terjangkau membuat street coffee terasa lebih ramah bagi mahasiswa.

“Kopinya juga lumayan enak, jadi bukan cuma suasananya saja. Tapi memang kalau untuk anak kuliah, harga yang murah itu sangat membantu,” katanya.

Dalam sepekan, Adelia bisa datang dua hingga tiga kali. Biasanya selepas salat Isya, bersama teman-temannya.

“Kalau malam itu biasanya lebih ramai dan seru, apalagi kalau datang sama teman. Jadi tidak terasa cepat pulang,” ucapnya.

Ia membandingkan dengan kafe atau pusat kuliner yang cenderung lebih padat dan berisik.

“Kalau di sini tidak terlalu ramai sekali, jadi lebih nyaman untuk ngobrol,” tambahnya.

Pengalaman serupa dirasakan Febriyanti Harun (19), mahasiswi Poltekkes asal Isimu, Kabupaten Gorontalo. 

Ia menilai nongkrong di pinggir jalan memberikan kesan lebih dekat antar teman.

“Kalau di pinggir jalan itu rasanya lebih akrab, tidak ada jarak. Kita bisa duduk berdekatan, cerita apa saja, tidak perlu merasa sungkan,” tuturnya.

Febriyanti mengatakan, nongkrong di street coffee tidak selalu soal kopi. 

Banyak pengunjung justru datang untuk berbagi cerita dan melepas penat setelah seharian beraktivitas.

“Kadang kopinya biasa saja, tapi suasananya yang bikin betah. Kita bisa cerita panjang sama teman, ketawa-ketawa, jadi stres juga berkurang,” katanya.

Untuk frekuensi, ia biasanya datang satu hingga dua kali seminggu jika sendiri. Namun jika bersama teman, bisa mencapai tiga sampai empat kali.

“Kalau lagi sering kumpul sama teman, bisa sampai empat kali seminggu,” ujarnya.

Soal lokasi, Febriyanti tidak terpaku pada satu tempat. Ia lebih memilih berdasarkan suasana dan harga.

“Yang penting suasananya ramai tapi nyaman, terus harganya murah. Kalau sudah cocok, biasanya sering datang lagi,” katanya.

Ia berharap ke depan lapak-lapak kopi pinggir jalan bisa terus berkembang dan melibatkan lebih banyak pelaku UMKM.

“Kalau makin banyak UMKM yang jualan, pilihannya juga makin banyak dan pengunjung pasti tambah ramai,” ucapnya.

Sementara itu, Meilan Senewe (22), warga Jalan Glatik, Kota Gorontalo, menilai street coffee menarik karena memberi pengalaman menikmati suasana kota secara langsung.

“Kalau nongkrong di pinggir jalan itu lebih santai karena bisa langsung lihat aktivitas kota, lihat kendaraan lewat, orang-orang juga, jadi tidak bosan,” ujarnya.

Ia menyebut penerapan jalur satu arah di beberapa ruas jalan justru membuat lokasi nongkrong lebih nyaman.

“Sekarang jalannya satu arah, jadi tidak terlalu padat kendaraan. Suasananya lebih tenang dibanding dulu,” katanya.

Bagi Meilan, kopi bukan faktor utama dalam memilih tempat nongkrong.

“Kopi itu hanya tambahan. Yang paling penting itu suasananya dan bisa kumpul dengan teman,” ucapnya.

Dalam seminggu, ia biasanya datang satu atau dua kali, tergantung waktu luang.

“Kalau lagi banyak tugas atau kerjaan, jarang. Tapi kalau ada waktu kosong, pasti menyempatkan,” katanya.

Meilan juga menyoroti peluang promosi bagi UMKM yang membuka lapak di kawasan street coffee. Menurutnya, media sosial bisa dimanfaatkan untuk menarik lebih banyak pengunjung.

“Anak muda sekarang biasanya lihat dulu di media sosial, menu apa saja, harganya berapa. Kalau menarik, baru datang,” ujarnya.

Selain mahasiswa, pengunjung dari kalangan pekerja muda juga mulai banyak terlihat. Rahmatia (25), warga Kecamatan Kota Timur, mengaku baru pertama kali nongkrong di kawasan street coffee, namun langsung tertarik dengan suasananya.

“Pertama datang langsung merasa nyaman karena suasananya ramai tapi tidak sumpek,” katanya.

Ia menyebut jajanan yang tersedia juga menjadi daya tarik tersendiri.

“Pilihan makanannya banyak, jadi tidak cuma minum kopi saja,” ujarnya.

Rahmatia mengatakan, untuk saat ini ia lebih sering datang bersama teman dibanding pasangan.

“Kalau nongkrong biasanya sama teman-teman, lebih seru,” katanya.

Ia pun mengaku mulai menjadikan kawasan street coffee di Jalan Panjaitan sebagai salah satu tempat favorit.

“Untuk sekarang paling nyaman di sini, jadi kalau mau nongkrong ingatnya ke sini dulu,” ucapnya.

Maraknya street coffee di Kota Gorontalo tidak hanya mengubah pola nongkrong anak muda, tetapi juga membuka ruang ekonomi baru bagi pelaku UMKM kecil. 

Lapak sederhana dengan berbagai jenis kopi hingga camilan lokal kini mampu menarik puluhan pengunjung setiap malam.

Bagi sebagian anak muda, nongkrong tidak lagi harus di kafe ber-AC atau tempat mahal. Cukup di pinggir jalan, dengan segelas kopi dan obrolan ringan, suasana sudah terasa cukup.

Pantauan awak media TribunGorontalo.com di lapangan kondisi Jalan Panjaitan pada Selasa malam masih terbilang normal meski lebih berkurang dari hari lain. 

Begitu juga dengan lokasi lain seperti di Pasar Senteal, Ex Andalas Kota Gorontalo. Begitu juga dengan para pelaku UMKM juga banyak yang tidak buka di hari Senin ini. (*/Jefri) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.