Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Penyerap Gas Karbon Ekonomis dari Limbah Plastik
January 20, 2026 12:14 AM

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) program studi Ilmu Kimia dan Teknik Kimia membuat alat penyerap gas karbon dari limbah plastik. 

Inovasi para mahasiswa UGM ini diganjar Gold Medal dalam gelaran 6th Indonesia International Applied Science Olympiad (I2ASPO) beberapa waktu lalu. Pada ajang tersebut, tim UGM ini bersaing ketat menyisihkan 629 peserta yang berasal dari 13 negara.

Terdiri dari Pandu Sukma Hastyadi, Samuel Khrisna Wira Waskita, Aqila Dziki Muhamad, Billy Natanael, dan Muhammad Radithya Akmal Rasheed, tim ini melakukan terobosan dengan mengembangkan Carbon Capture Technology (CCT) berbasis material limbah plastik polietilen tereftalat (PET). 

Pemanfaatan limbah botol plastik 

Ketua Tim, Pandu Sukma Hastyadi mengungkapkan penelitian ini berfokus pada pemanfaatan limbah botol plastik polyethylene terephthalate (PET) yang diolah menjadi karbon aktif untuk mengadsorpsi gas CO2 di atmosfer.

“Inovasi ini menawarkan alternatif penangkap gas yang lebih ekonomis dibandingkan teknologi komersial yang saat ini masih terkendala biaya operasional tinggi,” katanya, Senin (19/1/2026). 

Pengembangan adsorben yang berbiaya rendah sangat krusial bagi keberhasilan implementasi CCT. 

Selama ini, biaya tinggi menjadi hambatan utama aplikasi teknologi ini. 

“Kami melihat potensi besar pada limbah botol plastik PET. Dengan kandungan karbonnya tinggi, limbah botol plastik PET sangat ideal untuk dijadikan prekursor karbon aktif,” jelasnya. 

Alasan pengolahan limbah

Sementara itu, Anggota tim, Samuel Khrisna Wira Waskita menerangkan selain tinggi karbon, limbah botol plastik PET dipilih karena pengelolaan limbah di Indonesia yang belum optimal. 

Sekitar 48 persen sampah plastik di Indonesia dikelola dengan cara pembakaran, yang justru menambah emisi CO2 ke atmosfer. Sementara rasio daur ulang PET di Indonesia masih tergolong rendah, hanya sekitar 13 persen dari kapasitas produksinya.

“Bagi kami, mengubah limbah ini menjadi material fungsional penangkap emisi menjadi langkah strategis yang saling menguntungkan bagi lingkungan,” terangnya. 

Selaku Dosen pendamping, Fajar Inggit Pambudi, M.Sc., Ph.D., menyebut penggunaan sumber material dari pemanfaatan limbah plastik yang dikombinasikan dengan material berpori (Zeolit) ini menciptakan aspek keberlanjutan (sustainability) yang sangat kuat.

Hal ini tentu menjadi keunikan tersendiri dari mahasiswa asuhannya. 

 “Riset ini menyelesaikan dua masalah sekaligus, yakni limbah plastik dan emisi CO2,” imbuhnya. (maw) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.