TRIBUN-MEDAN.COM, LIMAPULUH - Acara budaya tahunan Pesta Tapai di Desa Dahari Selebar, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, resmi dibuka oleh Bupati Batubara Baharuddin Siagian, Sabtu (17/1/2026) malam.
Pesta tahunan yang digelar untuk menyambut bulan suci Ramadan ini mengusung tema Mo Kito Ramaikan (mari kita ramaikan) dan akan berlangsung selama satu bulan penuh.
Pesta tapai merupakan jejak budaya masuknya perdagangan di Kabupaten Batubara sejak tahun 1760-an.
Tradisi ini masih dijaga dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Selain melestarikan budaya, kegiatan ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Bupati Batubara Baharuddin Siagian mengatakan bahwa pesta tapai adalah identitas budaya masyarakat Batubara yang harus terus dijaga dan dilestarikan.
“Selain nilai budaya, ini juga berdampak positif bagi peningkatan ekonomi masyarakat yang turut andil di pesta tapai,” ujar Baharuddin.
Ia menambahkan, promosi telah dilakukan oleh Pemkab Batubara dengan memasang baliho di sejumlah kota besar serta beberapa kabupaten tetangga.
“Tentu saja, langkah ini dilakukan untuk memperkenalkan Pesta Tapai sebagai agenda budaya unggulan Kabupaten Batubara,” jelasnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, pihaknya juga telah bersepakat dengan pengelola parkir dan pedagang agar menyeragamkan tarif.
“Kita harus bekerja sama menyeragamkan parkir dan harga dagangan. Dengan demikian pengunjung merasa nyaman, aman, dan tidak ada yang dirugikan,” katanya.
Ia berharap kegiatan positif ini memberi tambahan sumber pendapatan bagi masyarakat, sekaligus mengajak pengunjung untuk menjaga kenyamanan bersama.
Masyarakat pesisir Kabupaten Batubara memiliki tradisi dalam menyambut bulan Ramadhan setiap tahunnya dengan mengadakan pesta tapai.
Pesta tapai kini dijadikan sebagai tradisi dan kultur budaya masyarakat oleh pemerintah Kabupaten Batubara yang dibawahi oleh Bidang Budaya dan Pariwisata.
Warisan budaya yang turun temurun ini diselenggarakan di sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan, Dusun Pesta Tapai, Desa Dahari Selebar, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara.
Pesta tapai pertama kali dilakukan pada zaman kesultanan, dimana ide menjual tapai ini bermula saat para pedagang dari luar daerah datang ke pesisir Batubara untuk melakukan transaksi hewan ternak yang akan disantap oleh warga sebagai bentuk
Pemotongan sapi dan kerbau ini juga merupakan tradisi mogang atau megang, atau menyambut bulan Ramadhan dengan cara memasak-masakan untuk dinikmati keluarga sekaligus menjadi lauk saur maupun berbuka puasa.
Sehingga, sembari menunggu proses pemotongan sapi, para pedagang meminta kepada warga untuk menyediakan makanan untuk cemilan.
Masyarakat pesisir akhirnya membuat menu sederhana dengan membakar lemang pulut dan ditemani oleh tapai ketan hitam untuk disantap para pedagang.
Tidak disangka, makanan sederhana tersebut ternyata digemari oleh para pedagang sehingga setiap tahunnya masyarakat berlomba-lomba membuat tapai untuk dijajakan ke pedagang ternak dan tradisi itu terus dilakukan hingga saat ini.
Membantu Perekonomian Masyarakat
Masyarakat merasa pesta tahunan ini menjadi ajang mencari tambahan perekonomian menjelang Ramadhan. Terlebih, pada bulan Ramadhan lonjakan harga sembako sering terjadi.
Seperti Zulkarnain, pedagang lemang mengaku selalu memanfaatkan momen ini untuk menambah pundi-pundi rupiah.
"Saya jual lemang, ini setiap tahun diadakan. Biasanya, dua Minggu sebelum bulan Ramadhan diadakan pesta tapai. Kalau dalam muslim, dia di bulan Syaban dibuat," ujar pria yang akrab disapa Unai ini.
Ucapnya, selain menjual lemang, dirinya juga menjual Tapai, Kepah Serai, Srikaya, kue cincin dan berbagai makanan khas Melayu Batubara lainnya.
"Lemang ada yang Rp 15 ribu dan Rp 20 ribu, untuk yang lemang durian ada Rp 30 ribu dan 40 ribu sesuai ukuran. Untuk tapai, dijual perporsi. Ada yang Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, dan yang lainnya juga segitu," ujarnya.
Ia mengaku, uang hasil penjualan tersebut dapat dijadikan sebagai modal membeli pakaian dan beberapa kue untuk memeriahkan hari lebaran.
"Alhamdulilah bisa untuk mempersiapkan diri di lebaran nanti. Mengingat bantu-bantu untuk membuat kue lebaran," katanya.
Pedagang lain, Sumriah mengaku dalam satu malam, dirinya dapat menjajakan 200 hingga 300 porsi tapai.
"Kalau hari libur seperti Sabtu dan Minggu, bisa lebih sampai 500 porsi. Kalau dihitung bisa dapat Rp 2 juta satu malam," ujarnya.
Ia mengaku, sudah berjualan sejak 20 tahun lamanya. Meskipun musiman, ia mengaku sangat bersyukur karena bisa mendapatkan rezeki lebih.
Kisah Mistis di Baliknya
Dibalik kemeriahannya, Pesta Tapai juga memiliki beberapa cerita mistis yang menyelimuti ramainya dagangan masyarakat.
Dimana, menurut kepercayaan masyarakat, selain manusia, terdapat kaum bunian turut ikut memeriahkan pesta Tapai di Desa Dahari Selebar itu.
Widagurna, mengaku sepekan sebelum diselenggarakannya Pesta Tapai, ada cerita mistis yang dialami oleh masyarakat.
"Waktu itu, masih dirancang terkait pesta tapai ini beberapa hari sebelum dimulai. Karena magrib, kami memutuskan untuk salat.
Saat itu, jamaah tidak ramai dan dapat dihitung. Namun, saat salat, seusai baca Al Fatihah, tiba-tiba ramai yang menyambut Aamiin dari imam," ujar Widagurna.
Ia awalnya tidak terlalu percaya dengan hal mistis yang dibicarakan oleh masyarakat. Namun, setelah mengalaminya sendiri, Widagurna akhirnya mempercayai mitos tersebut.
Sementara, kepala Desa Dahari Selebar, Efendi mengaku setiap tahun mendapatkan laporan masyarakat terkait adanya pembeli aneh yang diduga sebagai orang bunian.
"Kaum Bunian, setiap tahun ada saja terdengar seperti ini," ujar Efendi.
Jelasnya, kejadian aneh ini kerap terdengar di telinga masyarakat. Namun, masyarakat yang mengetahui sudah merasa nyaman dengan keberadaan kaum bunian tersebut.
"Beberapa tahun lalu, ada satu mobil penumpang yang membawa rombongan bunian yang khusus turun di pesta tapai.
Sopir mopennya juga mengakui bahwa mereka memang berbeda dengan manusia, karena kaum bunian tersebut terlihat tidak terlalu meriah dalam pesta tapai, namun selalu ada setiap tahunnya," jelasnya.
Hal tersebut diperkuat dengan lakunya seluruh dagangan para pedagang yang berjualan di sepanjang jalan Desa Dahari Selebar.