TRIBUNNEWS.COM - Brahim Diaz menjadi buah bibir setelah kekalahan Maroko di final Piala Afrika 2025 atas Senegal. Momen panenka Brahim Diaz berujung teori konspirasi.
Tendangan Panenka adalah teknik tendangan penalti di sepak bola di mana pemain mencungkil bola pelan ke tengah gawang, mengandalkan kiper yang biasanya sudah melompat ke sisi gawang untuk mengantisipasi tendangan keras.
Teknik ini dipopulerkan oleh pemain Cekoslowakia, Antonin Panenka, di final Euro 1976, dan membutuhkan keberanian serta mental kuat karena jika gagal akan sangat memalukan.
Tak sembarang pesepak bola berani memilih panenka dalam tembakan penalti, karena risikonya terlalu besar.
Dalam case kegagalan Maroko menjuarai Piala Afrika 2025 karena faktor terbesar adalah panenka Brahim Diaz, TheNational merangkum 6 momen kegagalan panenka dari pesepak bola dunia di laga krusial, meliputi:
Final Piala Afrika 2025 banyak cerita termasuk teori konspirasi. Laga Senegal vs Maroko di Stadion Prince Moulay Abdallah, Senin (19/1) dini hari WIB, memicu perdebatan panjang. Bukan hanya soal hasil, tetapi juga soal keadilan.
Senegal keluar sebagai juara setelah menang 1-0. Gol Pape Gueye pada menit ke-94 menjadi penentu. Namun, sorotan publik justru tertuju pada momen sebelum itu.
Maroko memperoleh penalti pada injury time babak kedua. Situasi kacau terjadi setelah pemain Senegal melakukan aksi walk-out. Konsentrasi pertandingan terpecah.
Di tengah ketegangan itu, Brahim Diaz gagal mengeksekusi penalti. Panenka yang dipilihnya dibaca dengan mudah oleh Edouard Mendy. Dari situlah teori konspirasi mulai berkembang.
Brahim Diaz berada dalam tekanan ekstrem. Maroko menunggu gelar Piala Afrika selama 50 tahun. Satu tendangan bisa mengubah sejarah.
Baca juga: From Hero to Zero, Gelar Top Skor Piala Afrika 2025 Brahim Diaz Hambar
Karena itu, keputusan mengambil risiko dianggap tidak masuk akal. Sebagian pihak mulai bertanya-tanya. Sports Illustrated bahkan membuat laporan tentang munculnya dugaan bahwa kegagalan itu disengaja.
Bahkan, ada teori bahwa penalti itu dibiarkan gagal demi 'keadilan' atas keputusan kontroversial wasit. Spekulasi ini cepat menyebar di media sosial dan forum sepak bola.
Soal gagal eksekusi penalti panenka, Lionel Messi bahkan sampai dua kali memiliki kenangan pahit tersebut.
Pada September 2025, Lionel Messi menelan pahit panenkanya berhasil ditebak kiper Kristijan Kahlina pada pertandingan Inter Miami melawan Charlotte.
Imbas dari kegagalan panenka tersebut dibayar mahal oleh Lionel Messi dkk. setelah Charlotte menutup pertandingan dengan kemenangan tiga gol tanpa balas.
Mundur satu tahun dari kegagalan Messi di MLS 2025, bintang sepak bola dunia itu juga memiliki cerita pilu bersama timnas Argentina.
Kesalahan pertama panenka Lionel Messi terjadi di perempat final Copa Amerika 2024 mempertemukan Argentina kontra Ekuador.
Panenka Lionel Messi kala itu membentu mistar gawang. Untungnya, Argentina tetap lolos ke babak semifinal setelah dalam adu penalti, sang kiper, Emiliano Martinez melakukan penyelamatan menggagalkan dua penendang Ekuadro, Alan Minda dan Angel Mena.
Pada tahun 1992, legenda timnas Inggris, Gary Lineker juga tak luput dari kegagalan eksekusi penalti panenka.
Penalti panenka Lineker justru mengarah tepat ke arah kiper Brasil, yang sejak kala itu, dirinya tidak pernah lagi mencetak gol untuk The Three Lions.
Padahal, Lineker hanya tersekat satu gol untuk menyamai rekor Bobby Charlton sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa tim nasional.
Raheem Sterling juga memiliki kenangan buruk soal panenka saat melawan Leicester City di Carabao Cup 2018/2019.
Di akhir kejuaraan, Manchester City memang akhirnya menjadi juara dengan mengalahkan Chelsea di final melalui adu tos-tosan.
Tetapi saat Manchester City kontra Leicester City di momen adu penalti, panenka Sterling justru melambung tinggi. Dia mendapatkan hinaan kala itu publik, khususnya penjaga gawang The Foxes, Danny Ward.
Ademola Lookman, sebelum bersinar bersama Atalanta, juga memiliki kenangan buruk penalti ala panenka.
Tepatnya saat dia masih bermain untuk Fuljam di musim 2020. Saat itu Fulham tertinggal 1-0 atas West Ham United.
Lookman memiliki kesempatan untuk menyamakan kedudukan melalui hadiah penalti. Tetapi dalam eksekusinya, Lookman malah memilih melakukan panenka yang dapat dengan mudah diantisipasi Lukasz Fabianski.
Fulham akhirnya kalah 1-0 dan memicu kemarahan pelatih sekaligus legenda timnas Inggris, Scott Parker.
(Tribunnews.com/Giri)