TRIBUNTRENDS.COM - Identitas korban perempuan pesawat ATR 42-500 yang ditemukan pada Senin (19/1/2026) akhirnya terungkap.
Seperti diketahui, pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) jatuh di area pegunungan Gunung Bulusaraung, di antara Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, (17/1/2026).
Pesawat dengan registrasi PK-THT kemungkinan jatuh akibat kesalahan navigasi di area pegunungan berkabut, meskipun penyebab pasti masih dalam investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Korban perempuan itu adalah korban kedua yang ditemukan.
Sebelumnya, Tim SAR telah menemukan satu korban laki-laki pada pada Minggu (18/1/2026).
Keduanya ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa.
Identitas korban pertama yang ditemukan itu belum diketahui hingga kini.
Sementara itu, Disaster Victim Identification (DVI) gabungan mengidentifikasi korban kedua itu merupakan pramugari bernama Florencia Lolita Wibisono (33).
Kabid Dokkes Polda Sulsel, dr. Muh Haris mengatakan bahwa pihaknya langsung melakukan identifikasi korban kedua yang diterima Biddokkes Polda Sulsel, pada Selasa (20/1/2026) malam.
“Jenazah dengan nomor postmortem 62B.01 cocok dengan antemortem nomor AM004 teridentifikasi sebagai Florencia Lolita Wibisono jenis kelamin perempuan umur 33 tahun dengan alamat apartemen Wak Tower A unit 216 Buleleng, Jakarta Timur,” kata dr Muh Haris dikutip dari KOMPAS.COM, Rabu (21/1/2026).
Tim DVI gabungan yang melakukan identifikasi korban, terdiri dari tim DVI Bidokkes Polda Sulsel, Tim DVI Pusdokes Polri, Tim IDEN Polda Sosial, Tim Pusiden Polri, dan Departemen Forensik dan Medikologal Fakultas Kedokteran Unhas.
Tim DVI gabungan melakukan pencocokan medis korban melalui identifikasi sidik jari dan data gigi.
“Melalui sidik jari, data gigi, properti, dan ciri medis,” paparnya.
Baca juga: 5 Fakta Florencia Lolita Wibisono, Pramugari Korban Pesawat ATR 42-500
Kronologi jatuhnya pesawat ATR 42-500
Pesawat ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak saat menjalani penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Adisutjipto pada pagi hari setelah dinyatakan memenuhi seluruh prosedur keamanan dan operasional penerbangan.
Dalam penerbangan itu, pesawat membawa tujuh kru dan tiga penumpang.
Termasuk di dalamnya pramugari Florencia Lolita Wibisono.
Saat mendekati Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, pesawat diketahui tidak berada pada jalur yang seharusnya.
Petugas pemandu lalu lintas udara sempat memberikan arahan koreksi posisi kepada awak pesawat.
Namun, komunikasi antara Air Traffic Controller atau Pengatur Lalu Lintas Udara (ATC) dan pesawat tiba-tiba terputus sebelum pesawat berhasil kembali ke jalur pendaratan.
Menindaklanjuti hilangnya kontak tersebut, ATC menetapkan status darurat penerbangan.
Berdasarkan data koordinat terakhir, posisi pesawat diperkirakan berada di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Tim SAR gabungan segera dikerahkan untuk melakukan pencarian melalui jalur darat dan udara.
Kondisi cuaca saat kejadian dilaporkan berawan, dengan jarak pandang yang masih memungkinkan penerbangan.
Dalam proses pencarian, masyarakat setempat melaporkan adanya suara ledakan dan munculnya titik api di kawasan pegunungan.
Wilayah yang dimaksud berada di sekitar Gunung Bulusaraung dan Gunung Bawakaraeng.
Medan yang berupa pegunungan karst dengan hutan lebat serta tebing terjal menjadi tantangan utama bagi tim di lapangan.
Upaya pencarian juga terkendala kabut tebal, hujan, dan angin kencang.
Pada Minggu pagi, 18 Januari 2026, patroli udara mendeteksi serpihan berwarna putih di lereng Gunung Bulusaraung.
Temuan tersebut dikonfirmasi sebagai bagian dari pesawat ATR 42-500.
Meski medan pencarian sangat berat, namun tim berhasil menemukan beberapa bagian besar pesawat seperti jendela, ekor, dan badan pesawat, serta banyak serpihan kecil tersebar di berbagai titik.
Serpihan-serpihan tersebut menjadi petunjuk penting dalam pencarian, dengan lokasi berada di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, sekitar 26,49 kilometer dari Bandara Sultan Hasanuddin.
Operasi pencarian intensif membuahkan hasil ketika tim SAR gabungan menemukan satu korban berjenis kelamin laki-laki beserta sejumlah barang pribadi penumpang.
Korban ditemukan di jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter, tidak jauh dari lokasi serpihan pesawat.
Satu korban berjenis kelamin perempuan juga ditemukan pada Senin (19/1/2026).
Korban perempuan tersebut ditemukan di jurang dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.
Belakangan diketahui jenazah perempuan itu adalah pramugari Florencia Lolita Wibisono.
Pemerintah mengerahkan Basarnas, TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, AirNav Indonesia, BMKG, dan pemerintah daerah untuk mempercepat pencarian dan evakuasi.
Kecelakaan pesawat ATR 42-500 terjadi saat menabrak lereng Gunung Bulusaraung sehingga pecah menjadi serpihan, menurut Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono.
Insiden ini dikategorikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), yang berarti pesawat masih bisa dikendalikan pilot, namun benturan dengan lereng gunung tidak bisa dihindari.
Serpihan pesawat yang ditemukan tim SAR menjadi bukti benturan keras tersebut.
KNKT masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dan belum berspekulasi mengenai kemungkinan kelalaian.
Baca juga: Sosok Florencia Lolita Wibisono, Calon Pengantin Jadi Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500
Daftar Kru Pesawat:
Daftar Penumpang:
(TribunTrends/ Amr)