Plt Bupati Bekasi Minta Tolong Dedi Mulyadi Atasi Tanggul Jebol Citarum
January 21, 2026 06:34 PM

WARTAKOTALIVE.COM, BEKASI - Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, dr Asep Surya Atmaja mendatangi lokasi tanggul jebol sungai Citarum di Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat pada Rabu (21/1/2026).

Asep datang bersama Kepala BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, Kepala Dinas Sosial Alamsyah dan Camat Muaragembong yang langsung ditemui pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Dirinya melihat proses perbaikan tanggul dan juga menyapa sejumlah warga yang terdampak banjir akibat luapan sungai Citarum.

Asep meminta penanganan tanggul jebol secara permanen menggunakan sheet pile seperti di kawasan Kalimalang.

"Saya datang ke sini dapat laporan dari masyarakat bahwa ada tanggul jebol kemarin malam. Dan antisipasi sudah dilakukan, terima kasih pak camat, pak lurah, kepala BPBD, masyarakat yang langsung tangani darurat sampai BBWS datang dan akhirnya sekarang sudah landai," kata Asep.

TANGGUL JEBOL - Kondisi terkini tanggul jebol Sungai Citarum Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi pada Rabu (21/1/2026). Banjir sudah mulai surut setelah dilakukan perbaikan darurat tanggul.
TANGGUL JEBOL - Kondisi terkini tanggul jebol Sungai Citarum Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi pada Rabu (21/1/2026). Banjir sudah mulai surut setelah dilakukan perbaikan darurat tanggul. (Warta Kota/Muhammad Azzam)

Pada kesempatan itu Asep mendesak agar perbaikan tanggul jebol itu dilakukan secara permanen menggunakan sheet pile seperti Kalimalang.

Dirinya mengaku akan berkomunikasi dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk membantu mendorong gagasan tersebut ke pemerintah pusat.

"Untuk penanganan permanen saya akan ajukan ke pusat seperti Kalimalang. Nanti komunikasi ke gubernur minta didorong ke pusat," katanya.

Asep menambahkan, kondisi banjir di Kabupaten Bekasi sudah mulai alami penurunan. Dari sebelumnya 17 kecamatan terendam banjir, saat ini menyisakan 12 kecamatan.

"Kemarin ada 17 dari 23 sekarang mulai surut sedikit demi sedikit. Sekarang sudah tinggal 12 kecamatan," katanya. 

Banjir Muara Gembong Surut

Banjir di Kampung Bendungan Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi mulai surut setelah dilakukan perbaikan darurat tanggul jebol sungai Citarum pada Rabu (21/1/2026).

Pantauan Tribun Bekasi, banjir mulai surut hanya menyisakan 20-30 sentimeter. Air masih menggenang dekat titik tanggul jebol saja, sedangkan di area permukiman warga sudah tidak lagi banjir.

Sejumlah petugas juga nampak melakukan penanganan darurat tanggul jebol. Mereka membawa karung-karung berisi pasir dengan gerobak dibawa menuju ke titik tanggul jebol.

Bambu-bambu juga disusun untuk menahan tanggul tersebut.

Seorang warga setempat, Charli menyebutkan rumahnya yang sebelumnya terendam hingga 50 sentimeter sudah surut.

Kini genangan air menyisakan di bagian dekat tanggul Sungai Citarum.

"Sudah surut, rumah saya juga surut. Ada masih genangan sebetis aja yang dekat tanggul," katanya.

Ia berharap ada penanganan permanen dari tanggul jebol. Selain pada titik yang jebol, penanganan juga harus dilakukan di sepanjang tanggul sungai Citarum.

"Maunya kita permanen, kalau begini terus ya nanti bakal jebol lago jebol lagi," katanya.

RUMAH RUSAK - Kondisi terkini rumah rusak di Kampung Bendungan Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi akibat diterjang air luapan sungai Citarum yang tanggulnya jebol pada Rabu (21/1/2026). Tanggul Sungai Citarum jebol di Muaragembong, satu rumah rusak parah dan ratusan KK terdampak banjir.
RUMAH RUSAK - Kondisi terkini rumah rusak di Kampung Bendungan Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi akibat diterjang air luapan sungai Citarum yang tanggulnya jebol pada Rabu (21/1/2026). Tanggul Sungai Citarum jebol di Muaragembong, satu rumah rusak parah dan ratusan KK terdampak banjir. (Warta Kota/Muhammad Azzam)

Sementara itu Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, Jaya Sampurna, mengatakan, bahwa penganan darurat telah mulai sejak kemerin dan ditargetkan selesai dalam waktu tiga hari.

Jaya menjelaskan, banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Citarum merupakan persoalan yang cukup kompleks. Sebab, tanah di wilayah Muara Gembong dan sekitar ini tanah aluvial.

"Tanah aluvial itu tanah yang berasal dari endapan sehingga penanganannya memang harus sedikit ekstra sekali,” kata dia.

Untuk sementara, BBWS Citarum baru dapat melakukan penanganan darurat dengan menutup tanggul yang jebol menggunakan geobag yang diperkuat dengan dolken agar aliran air dapat segera tertahan.

Dalam penanganan darurat tersebut, BBWS Citarum menurunkan satu kontainer geobag dengan total sekitar 1.000 unit. Setiap geobag memiliki volume sekitar setengah meter kubik.
Karena itu, BBWSC menilai perlu adanya kajian dan simulasi untuk memastikan solusi permanen benar-benar andal.

“Penanganan dengan menggunakan sheet pile, ripetment segala macam itu banyak yang memang kalau kondisinya air besar itu banyak yang kolaps juga,” jelas Jaya.

Rumah Warga Muaragembong Rusak Parah

Pantauan Tribun Bekasi (Warta Kota Network) di lokasi pada Rabu (21/1/2026), rumah itu berdiri tepat berada di titik tanggul jebol Sungai Citarum.

Bagian depan rumah nampak tidak apa-apa, namun saat memasuki dalam rumah bagian tembok belakang rumah ambruk.

Beberapa tiang di rumah itu pun retak dan nyaris roboh. Semua peralatan rumah tangga di dalam rumah ikut terbawa hanyut air dan menyiasakan lemari kayu yang juga alami kerusakan.

Karung besar berisikan pasir juga berserakan di depan rumah.

Pemilik rumah bernama Sarmina (70) mengungkapkan, ketika itu dia baru saja salat isya dan hendak tidur.

Tiba-tiba ada suara dentuman keras dari arah luar. Mendegar itu, suaminya langsung melihat keluar rumah dan ternyata air sungai Citarum sudah limpas.

"Pas jeger kayak suara petir, suami langsung keluar pas dicek luap air. Langsung saya lagi tiduran dibangunin suruh keluar," kata dia saat diwawancara di lokasi pada Rabu (21/1/2026).

Dia tidak sempat menyelamatkan peralatan rumah tangga maupun elektronik di rumahnya.

Dirinya langsung diminta suami untuk keluar rumah menuju ke tempat yang aman.

"Ibu langsung ditarik, anak-anak yang samping rumah langsung keluar ke tempat aman. Semua barang habis pak," katanya.

Saat ini rumah tidak bisa ditempati, ia bersama suami mengungsi ke rumah anaknya yang tak jauh dari rumahnya.

Sarmina berharap adanya bantuan perbaikan rumah dari pemerintah. Sebab, kondisi hancur dan tidak bisa ditempati kembali.

"Mudah-mudahan ada bantuan, kasian hancur semua soalnya. Perabot habis semua, TV hanyut, baju-baju juga habis pak," katanya.

Untuk kondisi siang hari ini, banjir sudah surut. Tanggul jebol juga sudah ditangani darurat oleh pemerintah sehingga luapan air di sungai Citarum sudah tidak ada.

Baca juga: Sudah Bertemu, Insanul Fahmi Belum Bisa Bujuk Wardatina Mawa Agar Mau Dimadu

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat sebanyak 533 Kepala Keluarga (KK) di lima kampung terdampak banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Citarum Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi pada Senin (19/1/2026) tengah malam.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi Dodi Supriadi mengatakan, luapan Sungai Citarum menyebabkan ratusan kepala keluarga terdampak banjir.

Pemerintah setempat mencatat sebanyak 553 kepala keluarga (KK) terdampak akibat luapan air sungai tersebut.

"Jumlah itu dari lima kampung, ketinggian air mencapai 10 hingga 60 sentimeter,” kata Dodi saat dikonfirmasi pada Selasa (20/1/2026).

Adapun lima kampung terdampak meliputi Kampung Bendungan RT 03/05 dengan jumlah 141 kepala keluarga (KK), Kampung Gedung Cinde RT 01/05 dengan 105 KK yang berada di area tanggul kritis, Kampung Singkil RT 02/06 sebanyak 152 KK, Kampung Gedung Bokor RT 03/03 dengan 30 KK, serta Kampung Biyombong RT 03/06 sebanyak 125 KK.

"Walaupun merendam ratusan rumah warga, kami mencatat tidak terdapat korban jiwa, korban luka, maupun warga yang mengungsi," katanya.

Saat ini warga masih bertahan di rumah masing-masing meski kondisi arus air cukup deras.

Sebagai langkah penanganan darurat, pihaknya telah melakukan koordinasi dan pendataan bersama RT, kepala dusun, serta pihak pemerintah desa.

Selain itu, BPBD juga menyalurkan bantuan logistik ke lokasi terdampak.

"Logistik yang telah kita salurkan antara lain bronjong, karung, terpal, pop mie, air mineral, serta paket sembako untuk membantu kebutuhan warga terdampak banjir," ujarnya.

Pihaknya juga merekomendasikan agar kedepan dilakukan pembangunan turap permanen di sepanjang tanggul Kali Citarum guna mencegah kejadian serupa terulang, khususnya saat debit air sungai meningkat.

"Kami merekomendasikan pembangunan turap permanen di sepanjang bantaran Sungai Citarum untuk mencegah kejadian serupa terulang," ujar Dodi. (MAZ)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.