Satu Tindakan Tegas Warga Bukitmulya Tala Kalsel Pasca Lingkungannya Terpapar Debu Batu Bara
January 22, 2026 12:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Tindakan tegas Warga Bukitmulya Tala Kalsel pasca lingkungannya terpapar debu batu bara akhirnya terungkap.

Kesal dan tak tahan lagi dengan polusi udara akibat aktivitas penambangan batu bara, sejumlah warga Desa Bukitmulya, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, akhirnya mendatangi langsung lokasi penambangan, malam tadi.

Informasi dihimpun, Rabu (211/2026), sekitar pukul 21.00 Wita, warga secara beramai-ramai mendatangi area eksploitasi batu bara yang berada tak jauh dari permukiman mereka. 

Aksi spontan tersebut dipicu oleh debu tambang yang terus beterbangan dan dinilai semakin parah dalam beberapa hari terakhir.

Baca juga: Isi Keluhan Guru dan Murid SDN 1 Tumingki HSS Kalsel Saat Bergantian Naik Getek untuk Ke Sekolah

Baca juga: Tangis Istri Korban Tewas di Perkelahian Batu Merah Balangan Pecah, Tak Kuasa Lihat Kondisi Suami

Kondisi itu disikapi secara cepat oleh Kades Bukitmulya Triyatno Atmojo. Ia langsung menghubungi pihak perusahaan tambang agar segera mengambil langkah cepat.

Dalam pesan suara yang didapat media ini, kepada pihak penambang, kades mengatakan mayoritas warganya di Dusun 3 dan 4 telah teriak-teriak (protes) oleh dampak debu dan asap batu bara.

Sejak dua hari terakhir, polusi debu tersebut kian meningkat. Dalam sehari, kotorannya yang mengotori lantai rumah hingga harus disapu berkali-kali, tiga hingga empat kali dan bahkan lebih.

Dirinya juga mendapat laporan bahwa cukup banyak anak-anak yang terserang ISPA.

Karena itu dirinya meminta pihak perusahaan tambang segera break down ke kontraktor penambangan untuk segera fokus melakukan penyiraman di lokasi penambangan maupun di lokasi lainnya.

Menindaklanjuti seruan kades dan protes warga, pihak perusahaan tambang malam tadi sekitar pukul 21.00 Wita akhirnya mendatangi lokasi penambangan dan langsung melakukan penyiraman di area tambang dan jalur hauling.

Warga Lega, Namun Minta Konsistensi

Langkah penyiraman yang dilakukan malam itu membuat warga merasa lega, meski hanya sementara. Warga menegaskan, penyiraman tidak boleh dilakukan hanya setelah ada protes, tetapi harus menjadi rutinitas setiap hari.

Pujiarto, salah seorang warga Bukitmulya, menilai pihak perusahaan selama ini kerap teledor dalam pengendalian debu.

“Kalau tidak diprotes keras seperti ini, jarang dilakukan penyiraman. Setelah warga turun ke lokasi, baru bergerak menyiram,” katanya.

Pihaknya meminta perusahaan tidak menganggap persoalan debu sebagai hal sepele. Pasalnya, dampak yang ditimbulkan sudah nyata dirasakan masyarakat.

“Udara kotor, rumah-rumah dipenuhi debu. Sekarang juga mulai banyak warga, terutama anak-anak, yang terpapar ISPA,” ujarnya.

Warga berharap pihak perusahaan tambang menjalankan kewajiban pengelolaan lingkungan secara konsisten agar aktivitas pertambangan tidak terus mengorbankan kesehatan dan kenyamanan masyarakat Desa Bukitmulya.

Minta Ada Penyiraman

Warga Desa Bukitmulya, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, mengeluhkan kondisi lingkungan yang kian memburuk akibat debu dari aktivitas pertambangan batu bara di sekitar permukiman. 

Situasi tersebut bahkan oleh sebagian warga setempat, Rabu (21/1/2026), dinilai telah berada pada kondisi mengkhawatirkan.

Pujiarto, warga Bukitmulya, mengatakan debu batu bara beterbangan sepanjang hari dan mengotori udara serta rumah-rumah warga. 

Menurutnya, lokasi tambang milik perusahaan multinasional itu berdekatan langsung dengan kawasan permukiman, sehingga dampaknya menjamah seluruh rumah warga.

“Debu masuk ke mana-mana. Teras rumah cepat sekali kotor, tiap hari kami harus menyapu berulang kali,” sebutnya.

Ganggu Aktivitas Harian Warga

Pujiarto menyebut kondisi tersebut sangat mengganggu kehidupan sehari-hari warga Bukitmulya. 

Debu yang beterbangan tidak hanya mengotori rumah, tapi juga membuat warga merasa tidak nyaman saat beraktivitas di luar rumah.

“Ini bukan sehari dua hari. Sudah sangat mengganggu. Saat ini Bukitmulya darurat debu tambang,” katanya.

Anak-anak Mulai Terpapar ISPA

Lebih mengkhawatirkan, dampak kesehatan mulai dirasakan warga. Pujiarto menyebut sejumlah anak-anak di desanya mulai mengalami gangguan pernapasan, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

Ia menduga kondisi itu terjadi karena pihak perusahaan tambang tidak disiplin dalam menjalankan kewajiban pengendalian debu, khususnya penyiraman di area penambangan dan jalan hauling.

“Penyiraman tidak rutin. Akibatnya debu beterbangan dan kami yang menanggung dampaknya,” ucapnya.

Warga Minta Penyiraman Rutin

Pujiarto meminta pihak perusahaan tambang lebih serius memperhatikan dampak lingkungan dengan melakukan penyiraman secara rutin setiap hari. 

Ia mengingatkan, apabila kondisi ini terus dibiarkan, kesabaran warga bisa habis.

“Kalau tidak ada perubahan dan debu terus berlanjut, warga pasti bereaksi. Arutmin ini perusahaan besar, tapi penambangannya seperti ini,” tegasnya.

Dua Pekan Terakhir Paling Parah

Keluhan serupa disampaikan warga Bukitmulya lainnya, Mister dan Mahmudin. Keduanya menyebut kondisi darurat debu tambang ini sudah berlangsung sekitar dua pekan terakhir.

Menurut mereka, permukiman yang paling terdampak berada di RT 12 dan RT 13 Dusun 4, yang lokasinya paling dekat dengan lubang penambangan batu bara.

“Kami sangat dirugikan. Uang debu atau CSR tidak pernah kami terima, yang kami rasakan hanya debu,” ujar mereka.

Warga berharap ada langkah nyata dari perusahaan dan perhatian dari pihak terkait agar aktivitas pertambangan tidak terus mengorbankan kesehatan dan kenyamanan masyarakat sekitar.

Mengenal ISPA: Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya

Dilansir dari National Institutes of Health (NIH), ISPA diklasifikasikan sebagai infeksi saluran pernapasan atas (URI) atau infeksi saluran pernapasan bawah (LRI).

Saluran pernapasan bagian atas terdiri dari saluran udara dari lubang hidung ke pita suara di laring, termasuk sinus paranasal dan telinga tengah.

Sementara saluran pernapasan bagian bawah meliputi kelanjutan saluran udara dari trakea dan bronkus ke bronkiolus dan alveoli.

ISPA tidak terbatas pada saluran pernapasan dan memiliki efek sistemik karena kemungkinan perluasan infeksi atau toksin mikroba, peradangan, dan penurunan fungsi paru.

ISPA sangat berbahaya baik bagi anak-anak, orang lanjut usia, dan orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan, ISPA bisa disebabkan lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan rakhitis.

Bakteri agen penyebab infeksi saluran pernapasan akut termasuk streptokokus, stafilokokus, pneumokokus, Haemophilus influenzae, Bordetella dan Corynebacterium.

Sementara virus penyebab ISPA termasuk myxovirus, adenovirus, coronavirus, Picornavirus, Myxoplasma, Herpesvirus dan lain-lain.

Virus dan bakteri tersebut biasanya masuk melalui hidung dan mulut. ISPA bisa menular dari satu orang ke orang lain, melalui sentuhan, bersin, atau batuk.

Orang yang mengalami ISPA akan merasakan beberapa gejala, seperti:

    Hidung tersumbat
    Pilek
    Batuk
    Sakit kepala
    Kelelahan
    Demam


Cara mencegah ISPA

    Mencuci tangan dengan sabun, terutama sebelum dan sesudah makan, serta setelah menggunakan toilet.
    Mengonsumsi makanan sehat dan dan bergizi seimbang dengan mengikuti anjuran piramida makanan.
    Menggunakan jamban bersih dan sehat.
    Olahraga yang teratur, bisa dilakukan di dalam ruangan bila hujan.
    Memberantas jentik nyamuk dengan anjuran 3 M, yakni menguras wadah air, menutup rapat tempat penampungan air dan menyingkirkan atau mendaur ulang barang bekas seperti botol plastik dan kaleng bekas.
    Membuang sampah pada tempatnya agar ketika banjir tidak menjadi sumber penyakit.

Kapan harus ke dokter?

Apabila Anda sudah merasakan gejala ISPA di atas, maka disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Kendati demikian, bagi sebagian orang mungkin tanda tersebut tidak muncul atau bahkan sulit dideteksi, terutama pada masa awal infeksi.

Mikhael mengatakan, menentukan kapan Anda harus ke dokter membutuhkan tanda-tanda obyektif dan subyektif.

Tanda obyektif antara lain angka-angka tanda vital yang mudah dicek, terutama bila Anda menggunakan smartwatch, yakni:

    Denyut nadi saat istirahat, normalnya 60-100 per menit.
    Tekanan darah, normalnya 120/80 mmHg.
    Laju napas, normalnya 10-20 kali per menit.
    Kadar oksigen, normalnya 95-100 persen.
    Temperatur tubuh, normalnya 36-37.5 derajat celsius.


(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.