Nasib Pohon Randu Alas Usia Ratusan Tahun, Bupati Magelang Grengseng: Tunggu Rekomendasi UGM
January 22, 2026 07:14 PM

 

 


TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG – Pemerintah Kabupaten Magelang menggandeng Fakultas Pertanian dan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengkaji kondisi pohon randu alas yang menjadi ikon Lapangan Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur. 

Sebelumnya, pemerintah desa setempat berencana menebang pohon berusia ratusan tahun tersebut lantaran kondisinya sudah rapuh sehingga dikhawatirkan membahayakan masyarakat sekitar.

Kajian pun dilakukan guna menentukan langkah terbaik, apakah pohon tersebut masih dapat diselamatkan atau harus ditebang demi keselamatan warga.

Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, mengatakan kajian ilmiah sedang berlangsung dan pihaknya menunggu hasil rekomendasi.

“Saat ini sudah dicek oleh Fakultas Pertanian dan Fakultas Kehutanan. Rekomendasinya untuk menentukan keputusan apa yang harus kita lakukan,” kata Grengseng, Kamis (22/1/2026).

Ia mengatakan, Pemkab Magelang berupaya mempertahankan pohon randu alas sebagai ikon Desa Tuksongo. 

Namun, keputusan tetap harus didasarkan pada kajian ilmiah, terutama terkait aspek ekologis dan keselamatan masyarakat.

“Kita ingin mempertahankan ikon Tuksongo ini. Tapi apakah masih bisa diselamatkan secara ekologis atau tidak, kita tunggu kajiannya. Jangan sampai nanti kita putuskan bisa dihidupkan kembali, tapi ternyata berisiko saat hujan lebat atau angin kencang dan membahayakan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Grengseng, kajian yang dilakukan meliputi analisis hama dan penyakit, serta kondisi anatomi dan struktur tumbuhan. 

Ia menambahkan, proses kajian tidak akan berlangsung lama. 

Tim Fakultas Pertanian UGM telah turun ke lapangan, dan Fakultas Kehutanan dijadwalkan kembali melakukan pemeriksaan lanjutan.

• Pohon Randu Alas Magelang Terancam Ditebang: Seniman Abadikan dalam Lukisan

• Cerita Pohon Randu Alas Raksasa Berusia 2 Abad di Tuksongo Magelang

Sempat Ingin Ditebang

Sebelumnya, pohon randu alas di Lapangan Desa Tuksongo mulai ditebang pada Senin (12/1/2026) pagi. 

Proses tersebut menyedot perhatian ratusan warga. 

Dalam pelaksanaannya, dahan-dahan besar diikat menggunakan tali tambang, sementara petugas memotong dahan secara bertahap dengan gergaji mesin menggunakan mobil derek berlengan hidrolik.

Namun, setelah salah satu dahan besar berhasil dipotong, proses penebangan dihentikan sementara.

Kepala Desa Tuksongo, M. Abdul Karim, mengatakan penundaan dilakukan karena adanya kajian dari Pemkab Magelang untuk memastikan kondisi pohon.

“Pemotongan ditunda karena tim dari bupati ingin mempelajari apakah pohon randu itu masih bisa diselamatkan atau tidak,” kata Karim.

Ia menjelaskan, jika hasil kajian menyebutkan pohon masih berpeluang diselamatkan, penebangan tidak akan dilanjutkan. 

Pihak desa hanya akan membersihkan ranting-ranting yang rapuh dan berpotensi membahayakan.

“Kalau masih bisa diselamatkan, kemungkinan besar tidak jadi ditebang. Hanya ranting-ranting rapuh saja yang dibersihkan,” ujarnya.

Sebaliknya, apabila hasil penelitian menunjukkan pohon sudah mati atau strukturnya rapuh, penebangan kemungkinan akan dilanjutkan pada hari berikutnya. (tro)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.