POSBELITUNG.CO--Seorang siswi SMPN di wilayah Jakarta Timur menjadi korban dugaan perundungan dan pelecehan seksual dilakukan teman-temannya di sekolah.
Korban berinisial C, yang merupakan anak seorang influencer menjadi korban perundungan dan pelecehan secara verbal sehingga kini mengalami trauma atas kasus dialami.
Ayah korban berinisial H mengatakan tindak perundungan dan pelecehan dialami putrinya terjadi sejak bulan Februari-Desember 2025 di lingkungan sekolah.
"Perundungan ini tuh sudah dilakukan dari bulan Februari tahun lalu. Tapi mulai aktif-aktifnya itu di November," kata H saat dikonfirmasi di Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (21/1/2026).
Berdasarkan keterangan C, para pelaku melakukan pelecehan dengan memanggil korban menggunakan sebutan Lontong Sate yang merupakan kepanjangan dari Lonte atau wanita tunasusila.
Saat awal mendapat pelecehan C sebenarnya sudah berupaya menegur ulah para pelaku, tapi seorang anak terduga pelaku di antaranya berdalih ucapan mereka merupakan lelucon.
"Sama anak saya tuh enggak digubris. Terus akhirnya dipanggil tuh si cowok itu, 'Lu manggil Lontong Sate tuh ke gue?'. 'Iya bercanda, bercanda' begitu," ujar H menirukan percakapan.
Tapi setelah ditegur, H menuturkan tindakan anak-anak yang merundung dan melakukan pelecehan terhadap sang putri justru kian buruk dan terindikasi mengarah ke pelecehan seksual.
Seorang anak terduga pelaku sempat berpura-pura mendekati C dan mengajak sang putri pergi menghabiskan perayaan malam tahun baru 2026, hal ini diduga modus melakukan pelecehan.
Pasalnya setelah C menolak ajakan, dia mendapat informasi dari teman-temannya di lingkungan sekolah bahwa pelaku berniat membius dan melakukan pelecehan terhadap C.
"Anak saya ketika dengar gosip itu langsung tanya, 'Kamu kemarin ngajakin ke aku tahun baruan tuh mau ngebius?'. Terus dia bilang. 'Iya, tapi aku cuma bercanda kok,' begitu dalihnya," tutur H.
Dugaan pelaku berencana melakukan tindak pelecehan terhadap C kian diperkuat setelah korban melihat bukti percakapan grup WhatsApp berisikan sekitar 40 siswa.
Dalam riwayat percakapan di grup tersebut sejumlah siswa berencana melakukan pelecehan seksual terhadap C, bahkan turut membahas sosok kakak perempuan korban.
Ucapan terkait niat para pelaku melakukan tindak pelecehan ini membuat C trauma berat, bahkan butuh waktu bagi korban untuk dapat menceritakan kasus dialami kepada H.
"Anak saya ternyata dari minggu-minggu lalu, dari yang pulang dari tahun baru dia nangis mulu. Saya tanya kenapa, diam. Baru ngomong ya minggu lalu itu pas saya ke sekolah," lanjut H.
Atas kejadian dialami H sudah melaporkan kasus kepada pihak sekolah, dan rencananya dalam waktu dekat akan membuat laporan polisi ke Polres Metro Jakarta Timur.
Sementara Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur wilayah II, Horale mengatakan pihaknya sudah mendapat informasi kasus dan kini masih melakukan pendalaman terkait.
"Saat ini kami masih fokus pendalaman case yang terjadi dan berkoordinasi dengan dinas terkait," kata Horale.
Sikap Dinas Pendidikan DKI Jakarta dalam penanganan kasus dugaan perundungan dan pelecehan siswi SMPN berinisial C di Jakarta Timur dipertanyakan.
Pasalnya sejak orangtua korban melaporkan kasus dialami C ke pihak sekolah pada pekan lalu, anak-anak terduga pelaku hanya dikenakan sanksi skors selama dua hari.
Sementara C yang mengalami perundungan dan pelecehan seksual kini mengalami trauma, bahkan belum dapat mengikuti kegiatan belajar di sekolah seperti biasa.
"Jadi mereka (pihak sekolah) hanya menghukum dua hari belajar di rumah, si cowok-cowok ini," kata H saat dikonfirmasi di Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (21/1/2026).
Sanksi ini dinilai tidak sepadan dengan tindakan dilakukan, di mana pelaku menyebut C dengan kalimat Lontong Sate yang merupakan kepanjangan dari Lonte atau wanita tunasusila.
Kemudian dugaan bahwa pelaku berencana mengajak C untuk merayakan tahun baru 2026 dengan tujuan hendak membius, dan melakukan tindak pelecehan terhadap korban.
Terlebih dalam pertemuan tersebut pihak sekolah hanya menyampaikan permintaan maaf mewakili sejumlah orangtua terduga pelaku yang tidak dapat hadir secara langsung.
"Jadi kepala sekolah mewakili (menyampaikan) 'Saya mewakilin dari orang tua, meminta maaf bahwa gini, gini, gini' begitu," ujar H menirukan ucapan pihak sekolah saat pertemuan.
Selain tidak sepadan, sanksi yang diberikan dinilai justru menormalisasikan tindak perundungan dan pelecehan di lingkungan sekolah sebagaimana dalam kasus dialami C.
H menuturkan setelah pertemuan dia sempat berkomunikasi dengan pihak Sudin Pendidikan Wilayah II Jakarta Timur, hasilnya bahwa keputusan sanksi untuk anak terduga pelaku akan ditinjau.
"Nanti kalau stop bullying ini udah biasa, ya udah. Akhirnya sudah biasa tuh nanti catcalling-catcalling di jalan, apa segala macam, pelecehan seksual di mana-mana, ya karena udah menormalisasi," tuturnya.
Atas kejadian dialami H rencananya dalam waktu dekat akan membuat laporan kasus dialami putrinya ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) ke Polres Metro Jakarta Timur.
Sementara Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur wilayah II, Horale mengatakan pihaknya sudah mendapat informasi kasus dan kini masih melakukan pendalaman terkait.
"Saat ini kami masih fokus pendalaman case yang terjadi dan berkoordinasi dengan dinas terkait," kata Horale.
Sebelumnya seorang siswi SMPN di wilayah Jakarta Timur menjadi korban dugaan perundungan dan pelecehan seksual dilakukan teman-temannya di sekolah.
Korban berinisial C, yang merupakan anak seorang influencer menjadi korban perundungan dan pelecehan secara verbal sehingga kini mengalami trauma atas kasus dialami.
Sumber Tribunjakarta.com