TRIBUNNEWS.COM - Di Gedung Wayang Orang Sriwedari Surakarta, Jawa Tengah, beberapa orang tampak sibuk keluar masuk dari pintu belakang, Senin (19/1/2026) sore.
Cuaca hujan seharian tak menghalangi mereka untuk tetap melakukan tugasnya yakni menghibur penonton.
Meski jam pementasan baru dimulai pada pukul 20.00 WIB, para pemain dan kru wayang orang harus melakukan presensi pada sore hari sekira pukul 17.00 WIB.
Kesibukan itu juga terlihat dari pasangan suami istri (pasutri) asal Kebakkramat, Karanganyar, Jawa Tengah yang harus menempuh perjalanan 15 kilometer demi melakukan presensi tepat waktu.
Adalah Mujiyono (47) dan Rukayah (40), satu di antara pasutri pemain wayang orang Sriwedari yang tetap bertahan di kemajuan zaman.
Kisah pasutri ini bermula ketika Mujiyono selalu mendampingi sang istri yang lebih dulu menjadi pemain wayang orang Sriwedari sekira tahun 2013.
Kala itu Muji, sapaan akrabnya, mendadak dipanggil sang sutradara untuk berperan dalam suatu lakon.
Walaupun awalnya menolak, Muji yang juga terampil menari tarian Jawa itu kemudian mengiyakan tawaran sutradara.
"Saya dulu masuk baru beberapa bulan, tapi saat itu pemainnya terbatas. Nah pas itu ada beberapa pemain cowok izin, akhirnya kekurangan pemain," ujar Rukayah ketika ditemui Tribunnews.com pada Senin (19/1/2025) sore.
"Karena suami hanya mengantar saya, akhirnya sama sutradara ditarik 'kowe iso nari to?' (kamu bisa menari kan?) 'ya bisa, tapi nggak terlalu bagus' 'ya sudah ikut ndapuk (berperan)'. Akhirnya ikut," sambung Rukayah menirukan percakapan sutradara dan suaminya.
Setelah sama-sama melalui masa 'nyantrik', istilah untuk memperdalam pengetahuan soal penokohan dan cerita pewayangan, Rukayah dan Muji kemudian diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.
Baca juga: Hebatnya Wayang Orang Sriwedari Lestarikan Tradisi: Rias Mandiri, Perankan Lakon Berbeda Tiap Hari
Meski profesinya sudah dijamin negara, ternyata wanita lulusan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo ini justru lebih dulu mempunyai usaha penyewaan kostum dan rias pengantin.
Tak hanya itu, Rukayah dan Muji kerap mengambil job di luar panggung Sriwedari untuk menari berpasangan.
Pasutri yang memiliki dua anak ini masih bisa berkesempatan mengepakkan sayap di luar kota meski di tengah kesibukannya menjadi pegawai pemerintah.
Keduanya tak menutup kemungkinan untuk membuka peluang saat dipanggil mengisi acara di berbagai kota walaupun harus merelakan waktu istirahat dan hari liburnya.
"Saya ambil job di luar jam kerja. Bisa waktu siang sebelum ke Sriwedari atau pas Sabtu-Minggu," jelas Rukayah.
Untuk tetap menjaga keharmonisan keluarga, pasutri ini kerap mengajak dua buah hati ketika tampil di panggung Sriwedari.
Rukayah mengatakan, dua anaknya tidak pernah mengeluh ketika dibawa kesana kemari.
Bahkan, menurut dia, anaknya tetap bisa menikmati seni dan tetap mendapatkan perhatian orang tua.
Saat ditanya mengenai perbandingan penghasilan, Rukayah mengaku lebih nyaman bekerja sebagai pemain wayang orang.
Sebab bagi dia, ada nominal yang tak terbayarkan dibanding pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan di panggung Sriwedari.
"Kalau di sini (Sriwedari) saya tuh senangnya gini, saya dapat ilmu. Saya menganggapnya kayak kuliah gratis lah. Mendapatkan pembelajaran gratis tapi aku disangoni (digaji)," ucapnya sembari terkekeh.
Wanita yang kerap berperan sebagai Srikandi ini bercerita, ia menghadapi kesulitan ketika harus berperan sebagai tokoh yang bertentangan dengan karakter pribadinya.
Meski begitu, Rukayah tetap profesional dan mengesampingkan kesulitan tersebut.
"Kalau di panggung itu saya sudah melepas jati diri saya full, yang sebenarnya itu bukan karakter saya," jelasnya sambil tertawa.
Senada dengan sang istri, Muji juga mengungkapkan sulitnya berperan sebagai Petruk.
Muji mengaku kesulitan mencari celah humor untuk peran anggota Punakawan yang jenaka.
Kesusahan itu justru datang dari penonton yang sudah hafal dan bisa menebak adegan humor yang akan ditampilkan.
Hal itu yang membuat Muji harus memutar otak setiap hari untuk menyiapkan lelucon di atas panggung.
"Kalau Punakawan itu kan hampir tiap hari (tampil), dulu susahnya penontonnya sama jadi kita mau bikin komedi apapun mereka sudah tahu. Jadi mikir banget," kenang Muji bernostalgia.
Beruntung, saat ini penonton semakin banyak dan silih berganti sehingga hanya perlu menyesuaikan kondisi terkini sebagai bahan komedi.
Hal tersebut, kata Muji, dilakukan untuk dapat berinteraksi dengan penonton ketika tampil di atas panggung.
Meski dilakukan secara spontan, terbukti jam terbang pasutri ini terasah lantaran kerap mengisi acara di berbagai instansi dengan membawakan gimmick untuk dapat berinteraksi.
"Kalau di sini (Sriwedari) sudah lebih santai dan terbiasa spontan interaksi dengan penonton. Karena sudah sering tampil di luar," sambungnya.
Muji bercerita, walaupun banyak penari pendatang baru bermunculan, tetapi pasutri ini tetap diminati di pasaran, khususnya di acara korporat dan pernikahan.
Dia mengungkapan, penari harus kreatif menampilkan pertunjukan yang mengikuti zaman sehingga tetap dipercaya si empunya acara.
"Tergantung penarinya, kalau penari monoton tidak ada perkembangan juga akan ditinggalkan," jelas Muji.
Menariknya, pasutri ini hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut untuk tetap eksis di luar panggung Sriwedari.
Pria asal Ngawi, Jawa Timur itu mengaku tidak menggunakan manajer dan media sosial sebagai sarana promosi.
Pasutri 'introvert' ini lebih sering menjaga komunikasi dengan relasi instansi dan korporat untuk membangun kepercayaan.
"Kami nggak suka pakai media sosial, cuma dari mulut ke mulut. Atau kalau perlu pakai dokumentasi pribadi untuk berjaga-jaga kalau klien minta," tambah Muji.
Walaupun harus bersaing di luar panggung, Muji mengatakan kesejahteraan seniman sekarang ini sudah meningkat dari masa sebelumnya.
Dia menambahkan, saat ini pekerja seni khususnya Gedung Wayang Orang Sriwedari sudah diakui dengan adanya pengangkatan bertahap.
"Alhamdulillah sudah diangkat PPPK paruh waktu. Dulu kan masih pegawai kontrak, sebelumnya juga harus magang dulu di sini. Kalau sekarang sudah ada pengakuan. Semoga ada langkah lebih dari pemerintah, entah itu nanti PPPK utuh, atau bisa masuk ASN (Aparatur Sipil Negara)," tutup Muji.
Baca juga: Akui Tertarik karena Viral, Winona Malah Asyik Berkomedi Bareng Pemain Wayang Orang Sriwedari Solo
Kurang lebih 75 pegawai dan penggiat seni di bawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta ini sudah berstatus pegawai pemerintahan dengan berbagai golongan.
Regenerasi pegawai pun terjadi dengan baik lantaran sudah banyak pemain-pemain muda yang bekerja di Taman Sriwedari.
Hal itu terbukti dari 75 pegawai hanya kurang dari sepuluh orang yang tergolong usia paruh baya.
Informasi ini diungkapkan oleh Harsini selaku Pengelola Gedung Wayang Orang Sriwedari.
"Di sini ada yang PNS, PPPK, PPPK Paruh Waktu, dan dua pegawai outsourching," jelas Harsini.
Dengan jumlah ini, Harsini melanjutkan, tidak ada rekrutmen pemain, apabila ada pegawai yang pensiun atau resign.
"Untuk kalau saat ini tidak bisa. Kita manut dari atasan kalau nanti pemain kurang, ya gimana caranya. Nanti dari atasan yang mencari pengganti tapi tidak dengan cara merekrut lagi," terang wanita berambut pendek ini.
Selain kepastian status pegawai, pemugaran juga terjadi pada fasilitas Gedung Wayang Orang Sriwedari.
Lingkungan Taman Sriwedari ini dikelilingi beragam pedagang kaki lima yang siap menyambut pengunjung.
Sebab, penonton diperbolehkan membawa makanan dan minuman ke gedung pertunjukan dengan tetap memperhatikan kebersihannya.
Tak hanya itu, pengunjung juga bisa menikmati camilan dan kopi panas yang bisa dipesan sendiri melalui smart vending machine atau mesin penjual otomatis dengan metode pembayaran digital.
Di dalam gedung kursi disusun berundak dengan beberapa baris kursi jenis VIP yang lebih nyaman.
Gedung pertunjukkan pun dilengkapi pendingin ruangan di beberarapa sudut.
Pertunjukan wayang orang berlangsung setiap hari Senin-Sabtu dengan penjualan tiket mulai dilayani pukul 18.30 WIB.
Pengunjung makin dipermudah karena pembayaran tiketnya kini bisa dilakukan secara non-tunai melalui QRIS yang bekerja sama dengan Bank Jateng.
Dengan harga tiket domestik Rp20.000 dan mancanegara Rp50.000 pengunjung dapat menikmati pertunjukan wayang orang dengan cerita berbeda setiap hari.
Jadwal pementasan dimulai pada pukul 19.30 WIB dan berakhir sekitar pukul 23.00 WIB.
(Tribunnews.com/Isti Prasetya)