TRIBUNJAMBI.COM, KERINCI - Tinggi muka air permukaan Danau Kerinci menurun drastis beberapa hari terakhir. Padahal, wilayah Kerinci belum memasuki musim kemarau.
Warga yang tinggal di sekitar menuturkan, air kini semakin menjauh dari bibir danau. Bahkan, di sejumlah titik, dasar danau mulai terlihat mengering.
Pantauan Tribunjambi.com, Kamis (22/1/2026) sore, penyusutan air terlihat jelas di pintu keluar danau menuju Sungai Batang Merangin.
Debit air yang biasanya mencapai kedalaman sekitar dua meter kini tampak dangkal dan mengalir pelan.
Sejumlah nelayan dan warga menduga penurunan air ini dipicu cuaca panas serta minimnya hujan dalam beberapa hari terakhir.
Mereka mengaku kondisi ini tergolong tidak biasa karena biasanya air danau baru menyusut signifikan saat kemarau panjang.
“Airnya memang turun. Padahal baru beberapa hari tidak hujan. Biasanya kalau kemarau panjang baru kelihatan seperti ini,” ujar Asep, warga setempat.
Warga khawatir jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh nelayan, tetapi juga pertanian, ekonomi lokal, hingga keseimbangan ekosistem danau.
Pakar lingkungan dan masyarakat pun mendorong adanya pemantauan lebih serius, termasuk kajian ilmiah terkait perubahan pola cuaca dan curah hujan di wilayah Kerinci.
Pemerintah daerah dan instansi terkait diminta segera mengambil langkah antisipatif agar penyusutan air tidak semakin parah.
Danau Kerinci mendapatkan pasokan air dari hujan, mata air alami, rembesan air tanah, serta aliran sungai-sungai kecil dari kawasan pegunungan di sekitarnya, terutama dari kaki Gunung Kerinci.
Curah hujan di dataran tinggi biasanya menjadi penyumbang utama volume air danau.
Selain itu, mata air dan rembesan bawah tanah ikut menjaga kestabilan permukaan air danau sepanjang tahun.
Danau Kerinci terletak di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, sekitar 16 kilometer dari Kota Sungai Penuh. Danau ini berada di dua kecamatan, yakni Kecamatan Keliling Danau dan Kecamatan Danau Kerinci.
Danau terbesar di Kabupaten Kerinci ini memiliki luas sekitar 4.200 hektare, berada di ketinggian 783 meter di atas permukaan laut, dengan kedalaman mencapai 110 meter.
Danau Kerinci juga berperan penting sebagai sumber air bagi pertanian dan kebutuhan air bersih masyarakat sekitar.
Sebagai bagian dari daerah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari, Danau Kerinci memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem air di Jambi.
Pemerintah telah menetapkan Danau Kerinci sebagai salah satu dari 15 danau prioritas nasional.
Namun, kondisi danau saat ini menghadapi berbagai ancaman, mulai dari sedimentasi, pencemaran limbah rumah tangga dan pertanian, hingga maraknya keramba jaring apung ilegal.
Dampaknya, jumlah spesies ikan lokal di danau ini terus menurun. Menurut sebuah penelitian, jumlah spesies ikan yang pada tahun 1991 mencapai 21 spesies, kini berkurang menjadi sekitar 11-12 spesies.
Selain itu, kerusakan lingkungan juga memicu munculnya fenomena “tanuh ngapok” atau pulau terapung, yakni gumpalan tanah rawa yang terlepas dan mengapung di permukaan danau.
Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya upaya pelestarian dan rehabilitasi Danau Kerinci agar fungsi ekologis dan sumber kehidupan masyarakat tetap terjaga. (Tribunjambi.com/Herupitra)
Baca juga: Jeritan Pilu Warga di Perbatasan Saroangun-Merangin Jambi soal Jalan Rusak Parah
Baca juga: Pria Muda Ditemukan Tak Bernyawa di Dalam Rumah di Tebo Jambi