Oleh: Ridwan Mahendra
Guru bahasa Indonesia dan penulis buku Tinta yang Terbuang (2023), buku Kumpulan Cerkak Ringan (2025).
POS-KUPANG.COM - Guru tak lepas dari sebuah kegiatan sarat makna dalam kesehariannya.
Guru bukan sekadar mendidik siswanya di kelas, jauh lebih dari itu menjadi seorang teladan baik di ruang kelas ataupun di luar lingkup akademis.
Sebagai seorang pendidik yang menjadi teladan bagi siswa di ruang kelas, guru sudah selayaknya memberikan "contoh" bagi generasi mendatang.
Di setiap ruang kelas, terdapat ribuan cerita yang didiskusikan. Cerita tentang tawa yang menemukan jawaban, tentang kegelisahan guru yang mencari cara tepat agar siswanya memahami, hingga tentang semangat yang tak pernah redup meski waktu terus berjalan.
Baca juga: Opini: Pengabdian yang Membumi
Sayangnya, sebagian besar kisah itu hanya berakhir di dalam kelas dan tak sempat terekam dan tak sempat dikenang.
Padahal, dari ruang kelaslah sejatinya lahir mutiara-mutiara pengetahuan dan pemahaman yang layak "diabadikan" dalam bentuk tulisan.
Keterampilan menulis bagi guru bukan sekadar kemampuan menuangkan kata demi kata, tetapi tentang keberanian menyuarakan pengalaman.
Dari ruang kelas yang sederhana, guru sebenarnya menyimpan ribuan ide dan pemikiran yang lahir dari interaksi, refleksi, dan aksi.
Setiap keberhasilan maupun kegagalan di ruang kelas menjadi sumber bahan mentah yang dapat dijadikan bahan tulisan, direfleksikan, dan dibagikan.
Banyak guru merasa menulis itu sulit, waktu yang terbatas, beban administrasi, dan rasa kurang percaya diri menjadi penghalang.
Padahal, untuk mendapat gelar dari lulusan Sarjana Pendidikan, sebelumnya sudah melalui proses menulis skripsi, jadi alasan kurang berbakat dalam hal menulis tidak dapat dibenarkan.
Sebagai pendidik tentu perlunya menyadari bahwa menulis bukan tugas tambahan, melainkan bagian dari proses belajar itu sendiri.
Maka dari itu, guru setiap hari sejatinya sedang menulis, hanya saja belum sempat tertuang dalam bentuk kata.
Menulis merupakan bagian penting dari refleksi profesi guru, sejalan dengan konsep guru reflektif yang terus belajar dari pengalaman dan praktiknya sendiri.
Tanpa disadari, menulis membuat guru belajar dua kali. Sekali ketika mengajar/mendidik dan sekali lagi ketika merefleksikan apa yang diajarkan.
Tulisan seorang guru bukan hanya dokumentasi pribadi, melainkan jendela bagi guru lain.
Saat guru itu menulis tentang praktik baiknya, guru lain dapat membaca dan mengadaptasi. Di situlah ekosistem pengetahuan tumbuh, saling menguatkan, dan mencerdaskan.
Selain itu, menulis mengajarkan kejujuran intelektual. Guru yang menulis akan terbiasa menelusuri sumber, menguji argumen, dan sudah barang pasti berpikir kritis.
Nilai-nilai ini sama pentingnya untuk diwariskan ke siswa. Sebab siswa tidak hanya belajar dari apa yang guru katakan, tetapi dari bagaimana guru berpikir dan berkarya.
Gerakan literasi di kalangan pendidik harapannya dapat menggeliat. Buku-buku antologi karya guru menjadi bukti nyata bahwa semangat menulis tidak lagi milik segelintir orang.
Di lain sisi, upaya itu dapat diimplementasikan melalui komunitas menulis guru, pelatihan literasi, dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, menulis adalah cara guru melawan lupa sekaligus jalan menuju keabadian.
Dari kelas ke kertas, dari pengalaman ke pengetahuan, dari suara individu menjadi warisan bersama. Sebab guru boleh pensiun dari mengajar, tetapi tulisannya akan terus hidup. (*)