TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Tradisi merantau telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Minangkabau. Setiap kepulangan ke kampung halaman pun selalu diiringi dengan satu kebiasaan khas: membawa buah tangan untuk keluarga dan kerabat di rantau.
Sumatera Barat (Sumbar) dikenal memiliki beragam oleh-oleh tradisional yang tidak hanya menggugah selera, tetapi juga sarat nilai budaya dan cerita sejarah di baliknya.
Mulai dari camilan renyah hingga kue tradisional yang lekat dengan acara adat, oleh-oleh khas Minang menjadi simbol kerinduan, kebersamaan, dan identitas daerah.
Bagi para perantau, deretan makanan ini seolah menjadi pengikat rasa dengan kampung halaman.
Berikut TribunPadang.com rangkum oleh-oleh wajib dari kampung yang selalu dicari dan dibawa ke perantauan.
Baca juga: 5 Rekomendasi Tempat Makan Strategis bagi Mahasiswa UNAND
1. Kerupuk Sanjai
Kerupuk Sanjai sering disebut karupuak sanjai, adalah salah satu cemilan khas Minangkabau yang berasal dari daerah Sanjai dekat Kota Bukittinggi. Nama “Sanjai” sendiri merujuk pada kampung tempat camilan ini pertama kali dibuat dan dipasarkan sejak awal abad ke-20, menjadikannya identitas kuliner lokal yang kuat.
Kerupuk ini terbuat dari singkong atau ubi kayu yang diiris sangat tipis, kemudian digoreng hingga renyah dengan minyak panas, sehingga menciptakan tekstur kering yang khas. Varian rasa yang paling populer adalah balado, yakni keripik yang dibaluri bumbu pedas manis dari cabai dan gula, namun ada pula varian tawar dan manis sederhana sesuai selera lokal.
Selain nikmat sebagai camilan santai, kerupuk sanjai memiliki makna budaya tersendiri karena produksi dan penyebarannya erat dengan kehidupan masyarakat Bukittinggi dan sekitarnya.
Industri kerupuk sanjai awalnya berupa usaha rumah tangga yang kemudian berkembang menjadi mata pencaharian penting di komunitas lokal, bahkan hingga ke luar daerah Sumatera Barat. Keberadaannya sebagai oleh-oleh khas membuat kerupuk ini tidak hanya menjadi simbol budaya Minangkabau tetapi juga menjadi bagian dari cerita perjalanan kuliner yang dibawa oleh para perantau ke kampung halaman maupun ke berbagai rantau.
2. Karak Kaliang
Karak Kaliang adalah camilan tradisional Minangkabau yang sering terlihat sebagai salah satu jajanan oleh-oleh khas dari wilayah Bukittinggi dan sekitarnya. Berbeda dengan kerupuk sanjai yang berbasis singkong tipis, karak kaliang biasanya dibuat dari adonan tepung ubi atau singkong yang dicampur bumbu sederhana seperti garam atau rempah lokal kemudian dibentuk dan digoreng hingga berwarna keemasan.
Bentuknya yang khas sering kali berupa cincin atau motif sederhana membuatnya mudah dikenali dan menarik sebagai camilan tradisional.
Camilan ini tercatat dalam kajian budaya lokal sebagai bagian dari makanan tradisional Minangkabau yang tidak hanya dinikmati sehari-hari tetapi juga diproduksi dalam skala rumah tangga sebagai bagian dari kehidupan ekonomi komunitas.
Baca juga: Pergeseran Tempat Nongkrong dari Lapau ke Kafe : Potret Gaya Hidup Tempo Dulu dan Modern
Menurut catatan budaya, karak kaliang termasuk dalam ruang kajian etnomatematika karena proses pembuatannya melibatkan keterampilan pembentukan pola dan ukuran yang konsisten, mencerminkan hubungan matematika dalam praktik budaya sehari-hari masyarakat Minangkabau.
3. Galamai
Galamai merupakan makanan tradisional Minangkabau yang mirip dengan dodol. Terbuat dari campuran tepung beras, santan, dan gula aren, galamai dimasak dalam waktu lama dengan cara diaduk terus-menerus hingga mengental dan berwarna cokelat kehitaman. Teksturnya kenyal dan rasanya manis legit. Galamai sering disajikan pada acara adat dan menjadi oleh-oleh favorit karena tahan lama dan sarat makna kebersamaan dalam proses pembuatannya
4. Pinyaram
Pinyaram adalah kue tradisional Minangkabau berbahan tepung beras dan gula merah yang digoreng hingga berwarna cokelat keemasan. Teksturnya lembut di bagian dalam dengan rasa manis legit.
Proses penggorengan yang tepat menghasilkan ciri khas pinyaram, yaitu bagian tengah yang mengembang, empuk, dan berserat, serta pinggiran kue yang tipis dan renyah. Pinyaram umumnya berbentuk bulat dengan warna cokelat keemasan hingga cokelat tua, tergantung jenis gula yang digunakan. Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, kue pinyaram tidak hanya berfungsi sebagai makanan ringan, tetapi juga memiliki nilai simbolik dan sering disajikan dalam berbagai upacara adat, seperti pernikahan, batagak gala, serta perayaan hari besar keagamaan.
Baca juga: Wajib Masuk List: 5 Kafe Live Musik Favorit di Kota Padang, Rekomendasi Nongkrong Seru
5. Arai Pinang
Makanan tradisional ini dikenal sebagai camilan kering yang renyah dan gurih, terbuat dari tepung beras yang diolah dengan bumbu sederhana seperti garam, kapur sirih, dan kemudian digoreng hingga kering sehingga memiliki tekstur rapuh dan rasa khas yang mampu memikat lidah banyak orang. Bentuk arai pinang yang pipih dan bermotif garis-garis menyerupai pola bunga pinang tradisional memberi ciri tersendiri dan menjadi alasan pemberian namanya, mengingat dahulu cetakan pola tersebut sering dibuat dari bunga pohon pinang asli.
Deretan oleh-oleh khas Minangkabau tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional Sumatera Barat memiliki kekayaan rasa, bentuk, dan makna budaya yang sangat beragam. Mulai dari camilan renyah hingga kue tradisional yang sarat nilai adat, setiap makanan mencerminkan kearifan lokal serta kehidupan sosial masyarakat Minang dari generasi ke generasi. Keberadaan oleh-oleh ini tidak hanya menjadi penanda identitas daerah, tetapi juga berperan dalam menggerakkan ekonomi masyarakat melalui usaha rumah tangga dan industri kuliner lokal.
Dengan pelestarian dan pengemasan yang tepat, oleh-oleh khas Minangkabau dapat terus bertahan dan semakin dikenal luas, baik di ranah maupun di rantau.
Dari berbagai oleh-oleh tersebut, mana yang menurutmu paling wajib dibawa pulang saat pulang kampung? (mg/Filya Hasdi).