Kedai matcha yang viral di Thailand justru membawa pemiliknya terseret kasus hukum. Pemiliknya dianggap berjualan secara ilegal.
Sebuah kedai sederhana menawarkan matcha yang tengah populer dan banyak dicari orang. Layaknya makanan viral lainnya, banyak food vlogger yang berbondong-bondong datang mencoba.
Dilansir dari Thaiger, (16/1/2026), pemilik gerai matcha yang viral tersebut adalah seorang pria asal Jepang bernama Junichi. Ia membuka gerai matchanya persis di depan kuil Yang Kwang, Chiang Mai, Thailand.
Namun setelah kedai matchanya viral, Junichi justru menghadapi masalah baru. Abbot atau pemimpin kuil setempat disebut-sebut memberikan "izin" secara informal kepada mereka.
Baca juga: Cuma Jual Satu Menu, Tapi 5 Tempat Ini Antrenya Panjang!
Sebuah gerai matcha viral, tetiba digerebek pihak kepolisian setempat. Foto: Thaiger
|
Bahkan Junichi dan istrinya diberi area berjualan gratis tanpa harus bayar sewa sepeser pun. Melihat antusias pelanggan yang tinggi, Junichi juga mulai menjual menu sederhana lain seperti onigiri dan beberapa makanan khas Jepang lainnya.
Tiba-tiba warungnya disambangi lembaga yang berwajib dan disebut beroperasi tanpa izin usaha yang sah. Meskipun ia tinggal di Thailand dengan visa non-immigrant O yang legal, ia tidak memiliki dokumen yang memungkinkan dirinya bekerja atau menjalankan usaha.
Pada 15 Januari 2026, petugas imigrasi melakukan penggerebekan terhadap warung tersebut. Junichi dan pasangannya dibawa ke Mueang Chiang Mai Police Station untuk proses hukum selanjutnya.
Menurut hukum Thailand, khususnya Foreigners' Working Management Act, bekerja tanpa izin bisa dikenai denda antara 5.000 Baht (setara Rp 2,7 juta) hingga 50.000 Baht (Rp 27 juta). Bahkan ada kemungkinan deportasi, serta larangan mengajukan permohonan izin kerja selama dua tahun ke depan.
Pemiliknya dituduh melakukan usaha ilegal sebab tak memiliki izin resmi. Foto: Thaiger
|
Penangkapan ini langsung memicu reaksi yang beragam di media sosial. Beberapa netizen menyatakan dukungan terhadap tindakan polisi.
Mereka berpendapat bahwa aturan adalah aturan dan harus ditegakkan secara adil tanpa pengecualian. Pentingnya memahami dan mematuhi semua peraturan setempat sebelum membuka usaha, harus diindahkan baik warga lokal maupun asing.
Namun, tak sedikit juga yang mengkritik tindakan aparat. Alasannya bahwa kasus ini terlalu kecil dibandingkan pelanggaran yang dilakukan oleh usaha asing besar yang juga belum tersentuh hukum.
Beberapa menyebut penegakan hukum seperti ini bisa terasa diskriminatif, apalagi ketika usaha tersebut justru mendapat sambutan hangat dari komunitas lokal. Kasus yang dialami Junichi seolah menjadi pengingat untuk pelaku bisnis tetap mengindahkan peraturan hukum yang berlaku.









