Angkot Manado Direncanakan Beralih Fungsi, Akademisi Unsrat: Feeder Mikrolet Penting
January 25, 2026 10:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Rencana pengalihan fungsi angkot mikrolet menjadi feeder di Kota Manado terus menjadi perbincangan di kalangan pengguna transportasi umum dalam beberapa hari terakhir.

Kebijakan tersebut sebelumnya disampaikan Wali Kota Manado Andrei Angouw sebagai bagian dari penataan sistem transportasi perkotaan menyusul beroperasinya bus Trans Manado.

Andrei Angouw mengatakan, transportasi selalu berkembang dan berevolusi. 

Pihaknya tak bisa menahan perkembangan tersebut. 

"Kita berupaya seminimal mungkin menahan dampaknya bagi, tapi perkembangannya seperti ini," kata dia dalam konferensi pers awal tahun 2026 di Cafe D Tang di Kelurahan Lawangirung, Kecamatan Wenang, Kota Manado, provinsi Sulut, Jumat (23/1/2026). 

Mantan Ketua DPRD Provinsi Sulut tersebut menuturkan, ke depan angkot mikrolet akan dibuatkan rute feeder.

Feeder (pengumpan) adalah layanan angkutan umum, alat, atau sistem yang berfungsi menghubungkan area lokal (pemukiman/sekunder) ke jalur utama (primer) guna memudahkan perpindahan penumpang atau material. 

Andrei Angouw mengatakan masih banyak wilayah di Manado yang tidak terjangkau transportasi. 

"Di sinilah mikrolet akan jadi semacam feeder," katanya. 

Menanggapi hal tersebut, Akademisi Universitas Sam Ratulangi Manado yang juga pengamat tata kota, Dr. Eng. Ir. Pingkan Peggy Egam, MT., IPM, menilai keberadaan feeder merupakan bagian penting dalam sistem transportasi modern perkotaan.

Menurut Pingkan, secara umum feeder merupakan moda transportasi penghubung atau pengumpan yang membawa penumpang dari area lokal menuju sistem transportasi utama.

“Feeder berfungsi menghubungkan kawasan pemukiman atau titik perjalanan kecil dengan moda transportasi utama, sehingga akses masyarakat terhadap transportasi massal menjadi lebih mudah dan efisien,” jelasnya kepada Tribun Manado, Minggu (25/1/2026).

Ia menuturkan, dalam satu sistem perkotaan, feeder berperan sebagai penghubung antara kawasan pemukiman dengan moda transportasi utama, yang berdampak pada peningkatan aksesibilitas, efisiensi mobilitas, serta pengurangan kemacetan.

Pingkan menilai, dengan sistem feeder yang terintegrasi, masyarakat akan lebih terdorong menggunakan transportasi umum dibandingkan kendaraan pribadi.

Sehingga kepadatan lalu lintas di perkotaan dapat berangsur menurun.

Dalam pendekatan perencanaan tata kota, lanjutnya, feeder menjadi salah satu alternatif penting dalam integrasi sistem transportasi yang berkelanjutan.

“Feeder mampu menciptakan sistem transportasi yang terhubung dan berkelanjutan, sehingga penataan dan manajemen kota akan lebih tertata,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa keberadaan feeder memungkinkan kawasan pinggiran kota mendapatkan akses transportasi yang lebih baik, sekaligus mendukung pemerataan ekonomi dan sosial.

Selain itu, feeder disebut sebagai salah satu elemen penting dalam mendukung konsep Transit Oriented Development (TOD), yang bertujuan menekan kepadatan dan memaksimalkan efisiensi ruang kota.

Meski demikian, Pingkan mengingatkan bahwa keberadaan feeder juga memiliki tantangan dan risiko yang perlu diantisipasi.

“Jika armada tidak mencukupi dan koordinasi antar moda tidak tertata dengan baik, layanan feeder bisa menjadi tidak efektif,” katanya.

Ia menambahkan, potensi kemacetan lokal dapat muncul di titik-titik tertentu, terutama jika tidak didukung dengan infrastruktur jalan lokal yang memadai.

MIKROLET - Mikrolet di depan Jumbo Swalayan, Jalan Suprapto, Kawasan Niaga 45, Manado, Sulawesi Utara, Kamis (3/7/2025). Berikut kisah sopir mikrolet.
MIKROLET - Mikrolet di depan Jumbo Swalayan, Jalan Suprapto, Kawasan Niaga 45, Manado, Sulawesi Utara, Kamis (3/7/2025). Berikut kisah sopir mikrolet. (Tribunmanado.com/Arthur Rompis)

Masalah lain yang perlu diperhatikan, menurutnya, adalah penggunaan armada yang tidak layak jalan atau berbahan bakar tidak standar, yang berpotensi menimbulkan kebisingan dan polusi di kawasan permukiman.

“Oleh sebab itu perlu ada regulasi dan kebijakan pemerintah yang tegas tetapi humanis, agar dampak negatif dapat diminimalisir,” tegas Pingkan.

Ia mencontohkan, sejumlah kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan kota lainnya telah lebih dahulu menerapkan sistem feeder untuk menghubungkan kawasan perumahan dan wilayah pinggiran dengan koridor transportasi utama.

Dengan mempertimbangkan kebutuhan dan perkembangan perkotaan berkelanjutan, Pingkan menegaskan bahwa feeder bukan sekadar moda penghubung.

“Feeder harus dipandang sebagai bagian dari strategi integrasi sistem perkotaan berkelanjutan, yang didukung kebijakan cerdas dan humanis dari aspek sosial, ekonomi, serta keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya. (Pet/Art)

Baca juga: Akademisi Unsrat Nilai Direct Call Sulut Harus Didukung Konsolidasi dan Kontinuitas Komoditas

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.