Keinginan Tak Terwujud Evia Mahasiswi Unima yang Ditemukan Meninggal di Tomohon, Untuk Sang Adik
January 25, 2026 10:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pengusutan terhadap kasus kematian Evia, mahasiswi UNIMA yang tak wajar di tempat kosnya di Tomohon tak boleh dilupakan.

Alfrita Lontolawa, ibunda dari Evia, mahasiswi UNIMA yang meninggal dunia tak wajar di tempat kos di Tomohon, mengungkapkan isi hatinya dalam sebuah tulisan di medsos yang diteruskan pada Tribunmanado, Kamis (22/1/2026). 

Isinya membantah keterangan dari pihak kepolisian dalam konferensi pers di Polda Sulut beberapa waktu lalu. 

Baca juga: Sosok Ferdinand Dumais Anggota DPRD Manado yang Siap Kawal Penuntasan Kasus Kematian Evia

Menurut dia, hubungan Evia dan keluarganya baik - baik saja. 

Komunikasi berlangsung dalam suasana penuh cinta kasih. 

"Sebagai orang tua berkomunikasi selalu dengan anak kami selalu di awali dengan kata halo kuko polo sayang, itu nama panggilan sayang sayang untuk almarhum Kuko Evia," kata dia. 

Ia mengaku sering mengirimi anaknya yang kuliah.

Pembayaran semester selalu terpenuhi. 

"Ada bukti transfer yang saya simpan," katanya. 

Ia juga membantah keterangan yang menyebut anaknya depresi dalam study. 

Buktinya, Evia selalu naik tingkat dan nilainya baik. 

"Nilainya di setiap semester banyak yang A, apa lagi di usia yang Bru 21 tahun sudah masuk di semester 8 Dan nilainya juga A," kata dia. 

Ia menuturkan, Evia dalam storynya menunjukkan ia telah berhasil menyelesaikan KKN. 

Evia menyebut hal itu sebagai hadiah Natal sang ibu. 

"Dan anak saya juga menelpon mama doain ya pa kuko supaya boleh wisuda, saya jawab ia Kulo polo mama selalu doain yg terbaik buat kuko polo, ia juga katakan ingin cari kerja agar supaya adiknya bisa masuk tentara," kata dia. 

Dia juga angkat bicara mengenai hubungan Evia dan sang pacar.

Menurut dia, keduanya baik baik saja. 

"Rencananya abis wisuda mereka mau tunangan, sekali lagi saya membantah ank saya tidak Depresi, karena ank saya rajin berdoa , pimpin ibdah Rosario, masuk gereja Saya percaya Tuhan Adalah Hakim Yang Adil," katanya.

Harus dituntaskan

Kasus tersebut harus dituntaskan, agar keluarga mendapat keadilan.

Pun Unima bisa berbenah agar tak terulang kasus yang serupa.

Pemerhati masalah sosial dan hak asasi manusia Ferdinand Dumais menyatakan, akan terus mengawal penuntasan kasus tersebut.

"Saya akan kawal dalam koridor penegakkan hukum untuk memberi keadilan kepada korban," katanya Minggu (25/1/2026). 

Menurut anggota DPRD Manado dari fraksi Gerindra ini, ada hal - hal tertentu yang serasa belum terungkap dalam kasus kematian tersebut. 

Untuk itu, kasus itu perlu dikawal agar tuntas. 

"Saya juga mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk sama sama mengawal agar kasus itu bisa dituntaskan aparat kepolisian dan keadilan ditegakkan," katanya. 

Ferdinand berencana membentuk tim pencari fakta untuk menuntaskan misteri kasus kematian Evia. 

Ferdinand mengaku merasa terpanggil karena kasus itu mengusik nuraninya. 

"Dari ibunya saya mengetahui bagaimana kesedihan mereka, ini masalah dignity, seorang siswi yang bertekad untuk bersekolah demi membanggakan orang tuanya yang susah, dan semua berakhir seperti ini, ada sebuah tuntutan nurani untuk memperjuangkan penuntasan kasus ini agar keluarga beroleh keadilan dan juga agar jangan terulang lagi di kemudian hari," katanya. (ART) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.