TRIBUN-BALI.COM – Produksi gabah kering giling (GKG) di Kabupaten Badung pada tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun demikian, kondisi tersebut belum mengganggu ketahanan pangan daerah, karena produksi beras Badung masih mencukupi kebutuhan konsumsi penduduk.
Berdasarkan data, produksi gabah Badung tahun 2025 mencapai sekitar 111.000 ton atau setara 62.359 ton beras.
Jumlah tersebut masih berada di atas kebutuhan beras masyarakat Badung yang diperkirakan sekitar 49.441 ton per tahun.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung I Wayan Wijana, tidak menampik hal tersebut. Meski surplus, Wijana mengakui terjadi tren penurunan produksi bila dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir.
Dalam kurun waktu tersebut, rata-rata produksi gabah Badung mencapai 111.756 ton atau setara 63.430 ton beras, dengan rata-rata kebutuhan konsumsi penduduk sekitar 54.066 ton per tahun.
Baca juga: KORBAN Air Bah di Tabanan Dapat Bantuan Rp45 Juta, Keluarga Semikristian Sampaikan Terima Kasih!
Baca juga: EVAKUASI Pria Tak Beridentitas Tergeletak di Jalan, Gianyar Sediakan Layanan Ambulans Gratis!
Pada tahun 2024, produksi gabah Badung bahkan sempat mencapai angka tinggi, yakni sekitar 118,4 ribu ton GKG atau setara 65 ribu ton beras, meningkat dibandingkan tahun 2023 yang berada di kisaran 112 ribu ton.
Sementara pada tahun 2025 GKG di Badung dihasilkan 111.000 ton lebih atau setara dengan 62 ribu ton beras. "Kemungkinan penurunan ini karena masih ada lahan yang terserang hama," ujar Wijana, Minggu (25/1).
Kendati demikian pihaknya berharap petani di Badung terus memaksimalkan pengolahan lahan. Mengingat saat ini Badung tetap berkomitmen menjaga dan meningkatkan sektor pertanian.
"Jadi untuk yang gagal panen, kita berikan bantuan atau ganti melalui Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dengan cakupan lahan seluas 6.526,36 hektare," jelasnya.
Tidak hanya itu, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa juga mengakui komitmennya menjaga sektor pertanian sebagai penyangga ketahanan pangan daerah. Komitmen itu diwujudkan melalui berbagai program bantuan dan perlindungan bagi petani.
"Kami terus menunjukkan keberpihakan kepada petani melalui bantuan sarana pertanian, subsidi benih, hingga asuransi pertanian agar beban produksi bisa ditekan," ujar Bupati Adi Arnawa.
Ia berharap, dengan adanya subsidi benih dan program asuransi pertanian, biaya produksi petani dapat berkurang sehingga pendapatan dan nilai tukar petani meningkat. Kebijakan tersebut juga diharapkan mampu menahan laju alih fungsi lahan pertanian di tengah pesatnya pembangunan di Badung.
Selain itu, Pemkab Badung juga memberikan perhatian kepada kesejahteraan keluarga petani, seperti pemberian beasiswa S1 bagi anak petani serta bantuan sosial bagi petani lanjut usia, termasuk bantuan Rp2 juta pada hari besar keagamaan. (gus)