RUSAK Bangunan Cagar Budaya Sarkofagus! Pemda: Penataan Menyeluruh ke Balai Pelestarian Kebudayaan
January 25, 2026 10:22 PM

TRIBUN-BALI.COM - Sejumlah bangunan di kawasan Cagar Budaya Sarkofagus yang berlokasi di Dusun Bajing, Desa Tegak, Kabupaten Klungkung, mengalami kerusakan setelah tertimpa pohon cengkeh yang tumbang, Kamis (23/1) sore. 

Pasca musibah tersebut, pemda mengusulkan, penataan secara menyeluruh di kawasan sarkofagus ke pihak Balai Pelestarian Kebudayaan.

Kepala Dinas Kebudayaan Klungkung, I Wayan Suteja menjelaskan, sarkofagus tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten.

Baca juga: MADE Diduga Kena Serangan Jantung, Saat Komunikasi Tidak Ada Mengeluh, Meninggal Dunia di Malaysia!

Baca juga: WAJIB Akomodir 30 Persen Perempuan dan Generasi Muda, Musran PDIP Jembrana Sukses Digelar!

Kerusakan terjadi pada bangunan penunjang di sekitarnya, seperti bangunan pelindung sarkofagus, pelinggih Padma Sari, tembok penyengker sepanjang kurang lebih dua meter, serta bangunan tempat persembahyangan.

“Sarkofagusnya aman, tidak ada yang rusak. Yang terdampak adalah bangunan pelindung dan beberapa pelinggih di sekitarnya,” ujar Suteja.

Sebagai langkah awal, Pemerintah Kabupaten Klungkung merencanakan kegiatan gotong royong bersama masyarakat pada Selasa (27/1) mendatang untuk membersihkan area lokasi. 

Kegiatan tersebut juga akan melibatkan Badan BPBD Klungkung, untuk memangkas dan menebang pohon-pohon yang dinilai berpotensi membahayakan kawasan cagar budaya.

Selain pembersihan, Pemda juga melakukan tindak lanjut pengamanan terhadap bangunan yang roboh. Upaya ini dilakukan dengan pendampingan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Bali di Gianyar.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan di Gianyar. Pihak balai juga turun langsung bersama Wakil Bupati untuk melihat kondisi di lapangan dan mengupayakan penganggaran perbaikan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Pemkab Klungkung mengusulkan agar kawasan sarkofagus tidak hanya diperbaiki, tetapi juga ditata ulang secara menyeluruh. Selama ini, bangunan pelindung masih menggunakan material sederhana seperti batako.

“Kami berharap ke depan kawasan ini bisa ditata lebih baik, bangunannya dirapikan dan diperindah, sehingga nilai pelestarian dan perlindungan cagar budaya benar-benar terjaga,” harapnya. (mit)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.