TRIBUNGAYO,COM - Rasa haru terlibat dari Wina, seorang guru di Aceh Tengah.
Selama dua bulan terakhir, ia harus menyeberangi sungai menggunakan tali sling untuk bisa mengajar.
Namun sore itu cuaca cerah. Wina berjalan melintasi sebuah jembatan apung yang baru selesai dibangun oleh Relawan Tanpa Batas.
Wina bersama seorang rekannya, baru menyeberangi jembatan itu dari Dusun Ulun Bayur, Kampung Jamat, Kecamatan Linge, menuju Kampung Reje Payung.
Melansir Kompas.com, sebenarnya, kedua kampung itu hanya terpisah oleh aliran sungai Jambo Aye.
Pascabencana banjir dan longsor yang terjadi pada akhir November 2025 lalu, jembatan gantung yang telah lama berdiri di desa itu hancur dihantam derasnya air bercampur material lumpur, pasir, dan bebatuan serta gelondong kayu yang tak terhitung jumlahnya dari aliran sungai.
Wina merupakan seorang guru kelas SD Negeri 10 Linge.
Selama satu bulan lebih, ia bersama para guru serta murid sekolah itu melintasi sungai dengan sling yang tergolong berbahaya.
Sebab, hanya itu satu-satunya akses keluar masuk menuju Kampung Reje Payung. Siswa sekolah SD Negeri 10 Linge berasal dari tiga kampung, yakni Delung Sekinel, Jamat, dan Reje Payung.
Kini, Wina bisa lebih tenang. Sebab, relawan Tanpa Batas yang berasal dari Kecamatan Jagong Jege, Aceh Tengah, telah menuntaskan pembuatan jembatan apung, dengan bahan dasar papan dari material kayu yang hanyut saat bencana.
Bagi Wina, rasa terima kasih sangat penting untuk diucapkan kepada relawan Tanpa Batas yang bekerja selama beberapa hari menuntaskan jembatan itu.
“Alhamdulillah, sebagai warga lokal di Reje Payung yang telah membantu warga di sini untuk membangun jembatan,” ucap Wina ditemui Kompas.com, Minggu (18/1/2026).
Jembatan itu telah mendenyutkan nadi kehidupan warga Reje Payung yang sebagian rumahnya telah hancur dan tenggelam oleh lumpur, tak terkecuali milik guru maupun para siswa.
“Dengan akses ini, memudahkan para murid yang menuju Reje Payung, termasuk kami warga yang ke sana kemari, alhamdulillah jembatannya sangat bermanfaat bagi kami,” lanjut Wina.
Ia menjelaskan, sebulan tekanan pascabencana sedikit terpulihkan dengan adanya jembatan itu.
Sebab, ia tidak perlu lagi melintas di sling atau tali darurat untuk keluar masuk kampungnya.
Sebelumnya, warga menggunakan sling atau lumpe untuk menuju Reje Payung.
Wina bersama masyarakat Reje Payung sangat mengharapkan jembatan permanen sebagai ganti jembatan apung yang dibangun para relawan, karena hanya bersifat sementara.
Jembatan permanen sangat diidamkan oleh masyarakat agar pendidikan bisa berjalan lancar serta akses transportasi warga lebih mudah.
“Harapan kami kepada pemerintah, jembatan permanen sangat dibutuhkan. Kami sangat perlu, meskipun jembatan ini sudah ada saat ini, tetapi jembatan permanen memudahkan kami bisa ke sana kemari,” ungkap Wina.
Bukan hanya membantu akses menuju sekolah, jembatan penghubung tersebut juga bermanfaat bagi warga untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan mereka.
Sebab, mayoritas warga Jamat dan Reje Payung merupakan petani dan pemilik ladang kebun.
Meskipun jembatan apung darurat sudah selesai dibangun oleh Relawan Tanpa Batas bekerja sama dengan Hands Fondation dan TNI, masyarakat, serta sejumlah komunitas relawan lainnya, namun akses transportasi dari dua desa lain menuju SD Negeri 10 Linge sangat memprihatinkan.
Bencana banjir dan longsor telah memporak-porandakan akses transportasi darat.
Kampung Delung Sekinel dan Kampung Jamat, tempat sebagian siswa dan guru berasal, telah hilang tersapu banjir.
Kini masyarakat menggunakan lahan sawah warga yang tertimbun material banjir serta lereng-lereng perbukitan yang hanya bisa dilalui dengan sepeda motor dengan sangat hati-hati.
Kondisi itu menyebabkan pihak SD Negeri 10 Linge memisahkan lokasi belajar siswa. Siswa yang tinggal di Reje Payung belajar di sekolah induk yang bangunannya telah rusak tertimbun banjir.
Sementara dua tenda didirikan di Dusun Jamat khusus untuk siswa dari area tersebut. Kepala Sekolah SD Negeri 10 Linge, Nurdinsyah Muhammad Sedim, menyebut sebanyak 27 rumah siswa hanyut, 27 rusak berat, dan berdampak pada 25 siswa lainnya.
“Tujuh unit rumah guru SD Negeri 10 Linge hanyut, sehingga mereka mengungsi. 6 rumah guru lain mengalami kerusakan,” jelas Nurdin saat dihubungi via telepon, Senin (26/1/2026).
SD Negeri 10 Linge sendiri berstatus Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Berjarak sekitar 3 jam dari Takengon, akses jalan menuju sekolah ini bahkan tidak pernah beraspal sejak Indonesia merdeka. “Sampai saat ini akses jalan kami masih sulit.
Ditambah bencana, jadi alternatifnya kami aktifkan dua lokasi sekolah yang bisa diakses siswa dari tiga desa dengan mudah, para guru kita pakai jadwal shift,” ujarnya.
Baca juga: TNI Yonzipur Rampungkan Jembatan Darurat Berawang Gajah, 4 Kampung di Aceh Tengah tak Lagi Terisolir