TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jambi memprediksi banjir rob masih berpotensi terjadi di wilayah pesisir Jambi hingga 31 Januari 2026.
Potensi tersebut dipicu oleh aktifnya gelombang ekuator Rossby yang memperkuat proses konvektif di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Jambi.
BMKG mencatat ketinggian gelombang laut di wilayah pesisir Jambi diperkirakan berkisar antara 0,1-1,25 meter.
Prakirawan Cuaca BMKG Jambi, Rendy HB, mengatakan potensi banjir rob diprediksi terjadi dalam dua periode.
"Potensi pertama pada 18 hingga 21 Januari, kemudian berpeluang kembali terjadi pada 26 hingga 31 Januari 2026," ujar Rendy saat ditemui Tribun Jambi di kantornya, Sabtu (17/1/2026).
Menurutnya, banjir rob diperkirakan berdampak pada tujuh wilayah pesisir timur Provinsi Jambi.
Wilayah tersebut meliputi:
Rendy mengimbau masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir timur Jambi untuk meningkatkan kewaspadaan.
Warga diminta mengamankan barang-barang elektronik dan perabot rumah tangga yang bernilai penting.
Selain itu, masyarakat juga disarankan menyimpan surat-surat berharga di tempat yang lebih tinggi dan aman.
Sebelumnya, BMKG Jambi mencatat Januari 2026 masih menjadi puncak musim hujan di sejumlah wilayah Provinsi Jambi.
Kepala Stasiun BMKG Jambi, Ibnu Sulistiyono, menyebut lima daerah dengan curah hujan tinggi, yakni Bungo, Merangin, Sarolangun, Batang Hari, dan Tanjung Jabung Timur.
Curah hujan di wilayah tersebut tercatat lebih dari 300 milimeter per bulan, dengan potensi hujan terjadi pada siang, sore, hingga dini hari.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memperbarui informasi cuaca dan meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi warga pesisir dan bantaran sungai.
Meski tinggi muka air Sungai Batanghari terpantau mulai menurun dan kembali normal, BPBD menegaskan status siaga hidrometeorologi masih berlaku dan pemantauan terus dilakukan secara berkala.
Dampak cuaca ekstrem yang melanda wilayah pesisir timur Provinsi Jambi pada awal Januari 2026, mengakibatkan berbagai dampak kerusakan dan kerugian. Kondisi itu masih berpotensi terjadi hingga akhir bulan ini.
Awal bulan ini sejumlah peristiwa terjadi, dari hanyutnya rumah di pinggir sungai dekat laut, kapal karam hingga nelayan hilang kontak di laut.
Di Desa Kuala Simbur, Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jumat (9/1/2026) sekitar pukul 07.35 WIB, sebuah rumah hanyut.
Rumah tersebut terbawa arus sungai yang dipengaruhi gelombang laut. Bangunan terseret derasnya arus air hingga akhirnya hilang dari pandangan.
Camat Muara Sabak Timur, Darohim, menuturkan rumah tersebut sudah lama tidak ditempati pemiliknya.
"Informasi dari kepala desa, rumah itu sudah lama kosong. Pemiliknya sudah pindah ke luar daerah,” ujar Darohim, awal Januari lalu.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Kuala Simbur, Juhaifah. Dia bilang, rumah yang hanyut merupakan bangunan tua yang telah ditinggalkan sekitar tiga tahun terakhir karena kondisinya lapuk.
"Rumah itu memang kosong dan sudah lama ditinggalkan. Alhamdulillah tidak ada korban,” katanya.
Menurut Juhaifah, lokasi rumah berada tepat di tepi laut di kawasan Ambang Luar, sehingga sangat rentan terdampak gelombang pasang dan angin kencang.
Cuaca ekstrem di wilayah tersebut dipengaruhi musim angin barat yang rutin terjadi setiap awal tahun.
Hujan disertai angin kencang masih berpotensi melanda kawasan pesisir Kuala Simbur. Meski demikian, Juhaifah memastikan air laut pasang belum sampai menggenangi permukiman warga.
"Air pasang biasanya hanya sekitar satu jam dan tidak masuk ke rumah warga," ujarnya.
Kondisi cuaca ekstrem pun berdampak pada aktivitas nelayan. Sebagian nelayan memilih tidak melaut saat hujan dan angin kencang melanda.
Masih dalam waktu yang tidak berselang jauh, dua nelayan sempat hilang di perairan Jambi.
Mereka merupakan nelayan asal Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, yang hilang kontak saat melaut di perairan Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Nelayan bernama M Yunani (64) dan Junaidi (27), tidak kembali sesuai jadwal sejak melaut pada Rabu (7/1/2026).
Laporan nelayan hilang masuk Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Jambi pada Kamis (8/1/2026).
Kepala Kantor SAR Jambi, Adah Sudarsa, mengatakan tim SAR gabungan langsung diterjunkan untuk melakukan pencarian.
"Tim SAR Gabungan yang terdiri dari personel Unit Siaga SAR Tungkal, Polairud, TNI AL, dan PMI segera melakukan operasi pencarian dan penyelamatan menggunakan Kapal RIB 01 milik Basarnas," jelasnya.
Kapal nelayan yang digunakan korban akhirnya ditemukan dalam kondisi mesin mati di sekitar Kuala Sungai Alang-Alang. Lokasi itu sekira 11 mil dari titik awal dugaan lokasi.
"Kedua nelayan berhasil ditemukan dalam keadaan selamat dan langsung dievakuasi ke Pelabuhan Roro Kuala Tungkal," ujar Adah.
Peristiwa lain juga terjadi di perairan Jambi. Sebuah kapal angkutan barang tenggelam akibat dihantam ombak setinggi 2-2,5 meter di Perairan Kuala Duri, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, pada Kamis (8/1/2026) dini hari.
Dalam kejadian tersebut, tiga anak buah kapal (ABK) bisa diselamatkan, yaitu Andu (61), Pendi (38), dan Along (37).
ABK itu sempat terombang-ambing di laut, hingga akhirnya dievakuasi Tim SAR Gabungan.
Basarnas Jambi kembali mengimbau para nelayan dan pelaut untuk selalu mengutamakan keselamatan dengan memastikan kondisi kapal, mesin, alat keselamatan, serta memantau prakiraan cuaca sebelum berlayar. (uti/fan/syr)
Baca juga: Waldi si Polisi yang Dipecat setelah Habisi Dosen di Bungo Kini Tampak Putih
Baca juga: 2 Rekomendasi Bus Rute Jambi-Semarang, Estimasi Harga Rp540-930 Ribu
Baca juga: 3 Tahanan Polsek Maro Sebo Ambil Kunci Sel, Saat Polisi Terlelap dan CCTV Off Baru Kabur