Bacaan Injil Katolik Kamis 29 Januari 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik
January 28, 2026 11:38 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak bacaan injil Katolik Kamis 29 Januari 2026.

Bacaan injil katolik lengkap renungan harian Katolik.

Kamis 29 Januari 2026 merupakan hari Kamis Biasa III, Santo Gildas Yang Bijaksana, Pengaku Iman, Beato Joseph Freinademetz, Imam, dengan warna liturgi hijau.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Kamis 29 Januari 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Kamis 29 Januari 2026, Hari Biasa Pekan III Tahun A 

Bacaan Pertama 2Sam. 7:18-19,24-29

Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: "Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?

Dan hal ini masih kurang di mata-Mu, ya Tuhan ALLAH; sebab itu Engkau telah berfirman juga tentang keluarga hamba-Mu ini dalam masa yang masih jauh dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan manusia yang akan datang, ya Tuhan ALLAH.

Engkau telah mengokohkan bagi-Mu umat-Mu Israel menjadi umat-Mu untuk selama-lamanya, dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Allah mereka. Dan sekarang, ya TUHAN Allah, tepatilah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hamba-Mu ini dan mengenai keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu.

Maka nama-Mu akan menjadi besar untuk selama-lamanya, sehingga orang berkata: TUHAN semesta alam ialah Allah atas Israel; maka keluarga hamba-Mu Daud akan tetap kokoh di hadapan-Mu.

Sebab Engkau, TUHAN semesta alam, Allah Israel, telah menyatakan kepada hamba-Mu ini, demikian: Aku akan membangun keturunan bagimu. Itulah sebabnya hamba-Mu ini telah memberanikan diri untuk memanjatkan doa ini kepada-Mu.

Oleh sebab itu, ya Tuhan ALLAH, Engkaulah Allah dan segala firman-Mulah kebenaran; Engkau telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu.

Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab, ya Tuhan ALLAH, Engkau sendirilah yang berfirman dan oleh karena berkat-Mu keluarga hamba-Mu ini diberkati untuk selama-lamanya."

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 132:1-2,3-5,11,12,13-14

Nyanyian ziarah. Ingatlah, ya TUHAN, kepada Daud dan segala penderitaannya, bagaimana ia telah bersumpah kepada TUHAN, telah bernazar kepada Yang Mahakuat dari Yakub:

"Sesungguhnya aku tidak akan masuk ke dalam kemah kediamanku, tidak akan berbaring di ranjang petiduranku, sesungguhnya aku tidak akan membiarkan mataku tidur atau membiarkan kelopak mataku terlelap, sampai aku mendapat tempat untuk TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub."

TUHAN telah menyatakan sumpah setia kepada Daud, Ia tidak akan memungkirinya: "Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu;

jika anak-anakmu berpegang pada perjanjian-Ku, dan pada peraturan-peraturan-Ku yang Kuajarkan kepada mereka, maka anak-anak mereka selama-lamanya akan duduk di atas takhtamu." 

Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya: "Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam, sebab Aku mengingininya.

Bait Pengantar Injil: Mzm 119:105

Sabda-Mu adalah pelita bagi langkahku,dan cahaya bagi jalanku.

Bacaan Injil: Mrk 4:21-25

Pelita dipasang untuk ditaruh di atas kaki dian. Ukuran yang kamu pakai akan dikenakan pula padamu.

Pada suatu hari Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,”Orang memasang pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. 

Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” 

Lalu Ia berkata lagi, “Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan dikenakan pula padamu; dan malah akan ditambah lagi! Karena siapa yang mempunyai, akan diberi lagi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik 

“Iman Bukan untuk Disembunyikan, tetapi untuk Menerangi” Injil: Markus 4:21–25.

Terang yang Tidak Pernah Dimaksudkan untuk Disimpan

Hampir semua orang suka cahaya. Kita menyalakan lampu ketika ruangan gelap. Kita membuka jendela agar matahari masuk. Terang memberi rasa aman, menyingkirkan takut, dan menolong kita melihat dengan jelas.

Namun Injil hari ini mengajak kita melangkah lebih jauh: bukan hanya menikmati terang, tetapi menjadi terang.

Dalam renungan Katolik harian Markus 4:21–25, Yesus berbicara tentang pelita, tentang ukuran, dan tentang cara kita mendengarkan. Kata-kata-Nya singkat, tetapi sangat dalam. Ia sedang berbicara tentang iman yang tidak boleh berhenti di dalam diri, tetapi harus memancar keluar.

Pelita Tidak Pernah Diciptakan untuk Disembunyikan

Yesus berkata:

“Mungkinkah orang membawa pelita untuk meletakkannya di bawah gantang atau di bawah tempat tidur? Bukankah untuk ditaruh di atas kaki dian?”

Pertanyaan ini sebenarnya retoris. Jawabannya jelas: tidak masuk akal menyalakan lampu lalu menutupinya. Pelita diciptakan justru untuk menerangi.

Demikian juga iman. Iman bukan hiasan rohani. Bukan aksesori identitas. Bukan sekadar label “Katolik” di kolom agama. Iman adalah terang yang Tuhan titipkan supaya dunia di sekitar kita tidak tetap gelap.

Dalam renungan Katolik tentang terang, Yesus mengingatkan bahwa setiap murid dipanggil untuk menjadi kaki dian, bukan penutup.

 Refleksi: 

Apakah imanku lebih sering kusimpan demi kenyamanan, atau kubiarkan terlihat melalui cara hidupku?

Terang Itu Pertama-tama Menerangi Diri Kita

Menjadi terang bukan berarti selalu berbicara tentang Tuhan. Sering kali terang justru tampak dalam hal-hal kecil:

sikap jujur ketika orang lain memilih curang,
kesabaran ketika mudah meledak,
kesetiaan ketika banyak yang menyerah,
kepedulian ketika lingkungan menjadi dingin.
Terang pertama-tama bekerja di dalam hati: menyingkapkan luka, membersihkan motivasi, mengoreksi arah hidup.

Dalam konteks renungan Katolik remaja, ini sangat nyata. Menjadi terang di sekolah, kampus, atau media sosial bukan soal terlihat paling rohani, tetapi tentang membawa kualitas hidup yang berbeda: damai, hormat, rendah hati, dan penuh harapan.

 “Tidak Ada yang Tersembunyi yang Tidak Akan Dinampakkan”

Yesus melanjutkan dengan kata-kata yang menggugah:

“Tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan disingkapkan.”
Ini bukan ancaman, melainkan undangan pada kejujuran.

Terang selalu berhubungan dengan kebenaran. Ia menyingkapkan bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menyembuhkan. Banyak orang takut pada terang karena terang memaksa kita berhenti berpura-pura.

Dalam refleksi Injil hari ini, kita diajak bertanya: apakah ada bagian hidupku yang masih selalu kusimpan di “bawah tempat tidur”? luka, kebiasaan, kepahitan, atau dosa yang tidak pernah kubawa ke hadapan Tuhan?

Yesus tidak ingin mempermalukan kita. Ia ingin membebaskan.

“Perhatikanlah Cara Kamu Mendengar”
Menarik bahwa setelah berbicara tentang terang, Yesus berbicara tentang mendengar. Ini menunjukkan bahwa terang iman sangat bergantung pada cara kita menerima sabda Tuhan.

Mendengar sabda Tuhan bukan hanya soal telinga, tetapi soal sikap hati.

Ada orang yang mendengar sambil lalu.
Ada yang mendengar sambil menghakimi.
Ada yang mendengar sambil membandingkan.
Tapi ada juga yang mendengar sambil membiarkan diri diubah.
Dalam renungan Injil Markus ini, Yesus mengajak kita memperhatikan bukan hanya “apa” yang kita dengar, tetapi “bagaimana” kita mendengar.

Apakah aku mendengar firman Tuhan hanya untuk pengetahuan, atau untuk pertobatan?

Apakah aku membaca renungan hanya untuk inspirasi, atau untuk pembentukan hidup?

 Ukuran yang Kita Pakai

Yesus berkata:

“Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu, bahkan akan ditambahkan kepadamu.”

Ini prinsip rohani yang dalam. Hati yang terbuka akan semakin diperkaya. Hati yang tertutup akan semakin kosong.

Jika kita datang kepada Tuhan dengan sikap asal-asalan, iman pun akan menjadi dangkal. 
Jika kita datang dengan kerinduan, iman akan bertumbuh.
Jika kita datang dengan kerendahan hati, terang akan semakin jelas.
Dalam renungan Katolik tentang iman, kita belajar bahwa Tuhan selalu murah hati. Tetapi kapasitas kita untuk menerima tergantung pada keterbukaan kita sendiri.

Terang di Dunia Digital

Di era digital, terang sering disalahartikan sebagai sorotan. Banyak orang ingin terlihat, bukan menerangi. Banyak yang ingin viral, bukan bermakna.

Yesus tidak memanggil kita menjadi pusat perhatian. Ia memanggil kita menjadi sumber terang.

Terang tidak ribut.
Terang tidak memaksa.
Terang hanya setia bersinar.
Dalam proyek The Katolik renungan harian, ini menjadi pengingat penting: konten rohani bukan untuk membangun citra, tetapi untuk membantu jiwa melihat jalan.

Refleksi Pribadi

Luangkan waktu sejenak hari ini:

Di mana Tuhan memanggilku untuk menjadi terang?
Bagian mana dari hidupku yang masih kusimpan dalam gelap?
Bagaimana cara aku mendengarkan sabda Tuhan selama ini?
Ukuran apa yang kuberikan kepada Tuhan: sisa, atau yang terbaik?

Doa Penutup

Tuhan Yesus,

Engkau adalah Terang dunia. Engkau menyalakan pelita iman di dalam hatiku bukan untuk kusimpan, tetapi untuk kubagikan.

Singkapkanlah kegelapan dalam diriku bukan untuk menghukum, melainkan untuk menyembuhkan.

Ajari aku mendengarkan sabda-Mu dengan hati yang terbuka, dan hidup sebagai terang kecil di tengah dunia yang sering gelap. Amin.

Penutup: Terang Kecil yang Setia

Yesus tidak meminta kita menjadi matahari. Ia hanya meminta kita menjadi pelita.

Pelita yang mungkin kecil, tetapi setia.

Semoga renungan Katolik harian Markus 4:21–25 ini menolong kita remaja, keluarga, dan komunitas untuk berani hidup dalam terang, dan membiarkan iman kita menerangi dunia, mulai dari hal-hal paling sederhana. (Sumber the katolik.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.