Mengajar dan Bertukar Budaya, Kisah Mahasiswa UMS di SEA Teacher Filipina
Universitas Muhammadiyah Suraka January 28, 2026 03:59 PM
SURAKARTA – Program SEA Teacher kembali menghadirkan pengalaman internasional bagi mahasiswa (UMS). Kali ini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS, Yuanisya Arrafiu, membagikan kisah minggu pertamanya mengikuti program tersebut di Filipina.
Yuanisya Arrafiu merupakan mahasiswa angkatan 2023 asal Kabupaten Sragen. Ia menjalani penugasan SEA Teacher di Aklan Catholic College yang berlokasi di Aklan, Kalibo.
Program SEA Teacher yang diikuti Yuanisya berlangsung mulai 12 Januari hingga 8 Februari 2026, memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman mengajar, observasi pembelajaran, serta pertukaran budaya di tingkat internasional.
Pada minggu pertama, Yuanisya mengaku mendapatkan kesan yang sangat positif. Ia merasa proses adaptasi berjalan lancar berkat dukungan pendamping mahasiswa atau buddies di Filipina yang ramah dan penuh perhatian.
Menurutnya, para buddies tidak hanya membantu kebutuhan akademik dan nonakademik, tetapi juga menunjukkan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, mereka kerap memasakkan makanan untuk peserta SEA Teacher.
“Buddies-nya baik banget, perhatian, dan peduli sama kita di sini. Kadang juga dimasakin,” ujar Yuanisya saat menceritakan pengalamannya pada Kamis (22/1).
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi FKIP UMS, Yuanisya Arrafiu (Jas Biru UMS paling kanan), foto bersama dengan murid dan pengajar di Aklan Catholic College yang berlokasi di Aklan, Kalibo.
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi FKIP UMS, Yuanisya Arrafiu (Jas Biru UMS paling kanan), foto bersama dengan murid dan pengajar di Aklan Catholic College yang berlokasi di Aklan, Kalibo.
Selain itu, sambutan dari para siswa di sekolah penempatan juga terasa hangat. Antusiasme siswa sejak hari pertama membuat suasana belajar menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
Selama minggu pertama, Yuanisya juga diajak berkeliling Kalibo untuk mengenal budaya dan lingkungan sekitar. Ia mengunjungi museum di Kalibo serta kawasan wisata alam Bakhawan Eco Park, sekaligus mencicipi beragam kuliner khas Filipina.
Kehadirannya di Kalibo bertepatan dengan penyelenggaraan Ati-Atihan Festival, festival budaya tahunan yang berlangsung selama satu minggu penuh. Festival ini menjadi pengalaman budaya yang berkesan karena hanya digelar sekali dalam setahun.
“Asrama yang disediakan cukup nyaman dan memberikan rasa seperti berada di rumah sendiri. Lingkungan tempat tinggal yang kondusif turut mendukung proses adaptasi selama menjalani program,” ungkapnya.
Pada hari Selasa di minggu pertama, Yuanisya mulai melaksanakan observasi pembelajaran di sekolah. Ia mengaku antusias melihat semangat siswa, suasana kelas yang interaktif, serta dukungan guru-guru yang ramah dan kooperatif.
“Biaya hidup di Kalibo relatif terjangkau dibandingkan di Indonesia, baik untuk kebutuhan makanan maupun kebutuhan harian lainnya,” kata Yuanisya.
Meski demikian, terdapat tantangan yang dihadapi, terutama dalam mencari makanan halal. Untuk mengatasinya, Yuanisya dan rekan-rekannya lebih sering memasak sendiri atau memilih makanan cepat saji.
Pengalaman minggu pertama ini, lanjutnya, diharapkan menjadi bekal berharga bagi Yuanisya selama mengikuti program SEA Teacher hingga awal Februari mendatang. UMS berharap kisah ini dapat menginspirasi mahasiswa lainnya untuk berani mengambil peluang internasional dan memperluas wawasan global. (Yusuf/Humas)
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.