Memutus Rantai Stunting Melalui Skrining Dini dan Edukasi Keluarga
January 29, 2026 10:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Kabupaten Gresik melaksanakan Program Pemantauan Gizi Anak Stunting (PEGAS) di 18 Puskesmas sebagai upaya menekan angka stunting pada balita.

Program yang berjalan selama tiga bulan dari Agustus - Desember 2025 ini, menekankan skrining awal di Puskesmas, intervensi gizi, serta pemantauan rutin setiap dua minggu dengan pendampingan medis melalui telemedicine oleh Dokter Spesialis Anak (DSA).

Merujuk Kementerian Kesehatan (Kemenkes), stunting adalah masalah  kurang  gizi  kronis  yang  disebabkan  oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan  kebutuhan  gizi. Stunting dapat terjadi mulai janin masih  dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.

Dalam evaluasi program PEGAS, berdasarkan data evaluasi Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, ada penurunan angka stunting sebesar 26,79 persen.

Baca juga: Posyandu di Sukoharjo Catat Penurunan Stunting, Edukasi Gizi Terus Diperkuat

Selain itu, 64,28 persen balita peserta menunjukkan perbaikan status gizi meski belum sepenuhnya keluar dari kondisi stunting.

Sedangkan 8,93 persen balita masih menjalani pendampingan lanjutan oleh Dokter Spesialis Anak (DSA).

Program ini berjalan dari periode Agustus hingga Desember 2025 dengan sasaran balita usia 0–57 bulan yang mengalami stunting tanpa kelainan bawaan maupun infeksi kronis, seperti tuberkulosis, serta telah melalui proses skrining di Puskesmas.

Dari total 60 balita yang terdaftar, sebanyak 56 balita mengikuti seluruh rangkaian intervensi hingga akhir.

Intervensi utama dalam program ini berupa pemberian Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) yang sesuai regulasi.

Kemudian, pemantauan dilakukan secara rutin setiap dua minggu dengan dukungan pendampingan klinis melalui telemedicine oleh tim DSA.

Pendampingan ini dimaksudkan untuk menyesuaikan intervensi gizi serta memperkuat edukasi kepada orang tua.

Salah satu anggota tim DSA, dr. Wiweka Merbawani menekankan pentingnya penguatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada ibu hamil dan orang tua sebagai fondasi pencegahan stunting sejak dini.

“Penguatan ini penting, tidak hanya sebagai upaya pencegahan, tetapi juga untuk mendukung identifikasi dan penanganan stunting sejak dini,” ujarnya ditulis Rabu (28/1).

Ke depan, program seperti ini diharapkan dapat berlanjut agar manfaat bisa dirasakan lebih luas.

Selain itu, data program menunjukkan, 91,07 persen balita peserta dengan masalah gizi kurang dan stunting mengalami perbaikan status gizi.

Stunting merupakan permasalahan multidimensional yang kompleks termasuk pola makan keluarga, pola asuh, imunisasi, serta kondisi kesehatan dan lingkungan.

Oleh karena itu, penanganan di Gresik tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga mencakup penanganan medis dan edukasi keluarga tentang penerapan gaya hidup sehat.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, dr. Anik Luthfiyah, M.Ked., mengatakan, data capaian program dapat menjadi dasar perencanaan kebijakan ke depan, termasuk strategi pencegahan melalui skrining dini dan kebutuhan suplemen gizi.

Menurut dr. Anik, pada 2026 penanganan stunting di Gresik akan lebih diarahkan pada pencegahan, khususnya skrining dini dan intervensi berbasis layanan dasar.

Momentum ini juga relevan dengan Hari Gizi Nasional yang baru saja diperingati setiap 25 Januari, sebagai pengingat pentingnya pemenuhan gizi seimbang sejak dini.

Ia berharap model penanganan ini dapat diadopsi di wilayah lain sebagai bagian dari upaya menurunkan angka stunting di Indonesia.

“Harapannya model pendekatan ini dapat diadopsi di wilayah lain sebagai bagian dari upaya kolektif menurunkan angka stunting di Indonesia,” harap dr Anik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.