TRIBUNJOGJA.COM - Nilai saling asah, saling asuh, dan saling menghormati yang terkandung dalam pencak silat menjadi pesan penting yang ingin terus diwariskan. Karena itu, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) KGPAA Paku Alam X menekankan bahwa pelestarian pencak silat perlu dirancang dengan tujuan dan dampak yang jelas agar nilai-nilai luhur tersebut benar-benar sampai ke masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan Sri Paduka saat menerima Paseduluran Angkringan Silat di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Jumat (30/1/2026). Dalam pertemuan itu, Wakil Gubernur DIY menilai bahwa pencak silat sebagai warisan budaya bangsa tidak cukup hanya dilestarikan melalui kegiatan seremonial, tetapi perlu dikelola secara terukur dan berkelanjutan.
Sri Paduka menyampaikan bahwa pemerintah dituntut menghadirkan kebijakan dan program budaya yang memiliki ukuran keberhasilan yang jelas. Oleh karena itu, setiap kegiatan pencak silat idealnya disusun dalam kerangka acuan kerja yang mampu menjelaskan tujuan, keluaran, serta dampak yang diharapkan bagi masyarakat.
“Pemerintah dituntut membuat sesuatu yang terukur. Karena itu, kegiatan budaya pencak silat perlu memiliki kerangka acuan kerja yang jelas, sehingga kita bisa mengetahui apa yang ingin dicapai dan dampak literasi budaya yang dihasilkan bagi masyarakat,” ungkap Sri Paduka.
Menurut Wakil Gubernur DIY, kerangka perencanaan yang jelas akan memudahkan sinergi antara pemerintah daerah dan komunitas budaya. Dengan perencanaan tersebut, program pelestarian pencak silat tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan dan berkontribusi terhadap penguatan literasi budaya masyarakat.
Sri Paduka juga mengapresiasi peran Paseduluran Angkringan Silat yang selama ini dinilai konsisten mengembangkan pencak silat sebagai tradisi budaya di DIY. Ia mendorong komunitas tersebut untuk terus menghadirkan terobosan program yang dapat dijalankan tanpa sepenuhnya bergantung pada pembiayaan besar, namun tetap memiliki arah dan keberlanjutan yang jelas.
Selain itu, penyusunan proposal kegiatan yang komprehensif disebut penting agar program pelestarian pencak silat dapat dengan mudah disinergikan dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun mitra lainnya. Dengan cara itu, kegiatan pencak silat diharapkan tidak hanya berlangsung sesaat, tetapi memberi dampak jangka panjang.
Dalam kesempatan tersebut, Sri Paduka juga menekankan pentingnya kaderisasi dan regenerasi sebagai tanggung jawab bersama. Menurutnya, regenerasi menjadi kunci agar pencak silat tetap hidup dan diminati, khususnya oleh generasi muda. Ke depan, pencak silat diharapkan tidak hanya dipahami sebagai seni bela diri, tetapi juga sebagai bagian dari literasi budaya dan potensi wisata budaya DIY.
Paseduluran Angkringan Silat pada kesempatan itu turut melaporkan pelaksanaan Pencak Malioboro Festival (PMF) ke-8 yang diselenggarakan pada 12–14 September 2025. Festival tersebut disebut mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat dan berjalan lancar meskipun menghadapi sejumlah kondisi force majeure.
Koordinator Paseduluran Angkringan Silat, Suryadi, menyampaikan terima kasih atas dukungan Wakil Gubernur DIY dan Pemerintah Daerah DIY sehingga berbagai kegiatan pencak silat dapat terlaksana dengan aman dan lancar. Ia menegaskan komitmen pihaknya untuk menindaklanjuti arahan Sri Paduka, terutama terkait penguatan sosialisasi pencak silat sebagai tradisi budaya.
“Kami berupaya agar masyarakat memahami pencak silat bukan sekadar bela diri atau identik dengan kekerasan, melainkan warisan leluhur yang mengajarkan nilai saling asah, saling asuh, dan saling menghormati. Sosialisasi budaya menjadi kunci agar nilai-nilai tersebut dipahami secara luas,” jelas Suryadi.
Terkait regenerasi, Suryadi menambahkan bahwa pihaknya telah menggandeng berbagai pihak untuk mengembangkan pencak silat secara budaya serta melibatkan generasi muda melalui berbagai kegiatan dan festival. Ia berharap generasi muda dapat menjadi penerus yang mampu menjaga nilai-nilai luhur pencak silat.
Sementara itu, Wakil Ketua Koordinator Paseduluran Angkringan Silat, Sugiarto, menilai bahwa kegiatan pencak silat yang dilaksanakan selama ini diharapkan memberikan manfaat dan dampak positif yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya pengenalan pencak silat sejak dini sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya.
Menurut Sugiarto, pengenalan pencak silat perlu dimulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah. Upaya tersebut diharapkan dapat menanamkan pemahaman bahwa pencak silat bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Melalui pengelolaan yang terencana, sosialisasi yang konsisten, serta regenerasi yang berkesinambungan, pencak silat diharapkan tetap lestari dan memberi kontribusi nyata bagi penguatan identitas budaya serta kehidupan sosial masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.