Renungan Harian Katolik Minggu 1 Februari 2026, Semua Orang Mencari Bahagia
January 31, 2026 11:34 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan harian Katolik Minggu 1 Februari 2026.

Tema renungan harian Katolik "semua orang mencari bahagia".

Renungan harian Katolik untuk hari Minggu Biasa IV, Santa Brigita, Biarawati, Santo Severus, Uskup, dengan warna liturgi hijau.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Minggu 1 Februari 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Panduan Tata Perayaan Ekaristi Minggu 1 Februari 2026, Pekan IV Tahun A

Bacaan Pertama Zefanya 2:3;3:12-13

"Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah."

"Carilah Tuhan, hai semua orang yang rendah hati di negeri, hai semua yang melakukan hukum-Nya: carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan Tuhan."

Dan Allah berfiriman, "Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, yang akan mencari perlindungan pada nama Tuhan. Mereka itulah sisa Israel.

Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong. Dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu. Sebaliknya mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring tanpa ada yang mengganggunya.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 146:1.7.8-9a.9b-10

Ref. Berbahagia orang yang suci hatinya sebab bagi mereka Kerajaan Surga.

Dialah yang menegakkan keadilan, bagi orang yang diperas, dan memberi roti kepada orang-orang yang lapar, Tuhan membebaskan orang-orang yang terkurung.

Tuhan membuka mata orang buta, Tuhan menegakkan orang yang tertunduk, Tuhan mengasihi orang-orang benar. Tuhan menjaga orang-orang asing.

Anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. Tuhan itu Raja untuk selama-lamanya, Allah-Mu, ya Sion, turun-menurun!

Bacaan Kedua 1 Korintus 1:26-31

"Yang lemah dan tak berdaya dipilih Allah."

Saudara-saudara, coba ingatlah bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.

Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.

Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Karena itu seperti ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Bait Pengantar Injil Matius 5:12a

Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.

Bersukacitalah dan bergembiralah sebab besar ganjaranmu di surga.

Bacaan Injil Matius 5:1-12a

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah."

Pada suatu hari Yesus naik ke atas bukit, sebab melihat orang banyak. Setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.

Lalu Yesus mulai berbicara dan menyampaikan ajaran ini kepada mereka, "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Berbahagialah orang yang murah hati, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kalian, jika demi Aku kalian dicela dan dianiaya, dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, sebab besarlah ganjaranmu di surga."

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik 

“Jalan Bahagia Menurut Yesus” Injil: Matius 5:1–12a

Semua Orang Mencari Bahagia

Tidak ada orang yang bangun pagi dengan niat, “Hari ini aku mau hidup sengsara.”

Setiap orang, tanpa kecuali, mencari bahagia.

Bahagia menurut dunia sering diukur dari:

punya banyak hal,
dipuji dan diakui,
hidup nyaman,
bebas dari masalah.
Namun Injil hari ini membawa kita ke sebuah bukit, tempat Yesus duduk dan mengajarkan sesuatu yang sangat berbeda. Dalam renungan Katolik harian Matius 5:1–12a, kita mendengarkan apa yang disebut sebagai Sabda Bahagia  “peta jalan” Kerajaan Allah.

Menariknya, Yesus tidak memulai pewartaan-Nya dengan perintah, larangan, atau ancaman. Ia memulainya dengan satu kata yang lembut namun kuat:

“Berbahagialah…”

Yesus tahu bahwa yang dicari manusia bukan hanya kebenaran, tetapi kebahagiaan. Dan Ia datang untuk menunjukkan jalan menuju bahagia yang sejati.

Yesus Naik ke Bukit: Guru yang Mengajar dengan Hidup-Nya

Matius menulis bahwa Yesus naik ke bukit dan duduk, lalu murid-murid datang kepada-Nya. Dalam tradisi Kitab Suci, bukit adalah tempat perjumpaan dengan Allah. Seperti Musa menerima hukum di Gunung Sinai, Yesus kini menyampaikan hukum yang baru - bukan terutama hukum tertulis, tetapi hukum hati.

Sabda Bahagia bukan sekadar daftar sikap baik. Ia adalah potret hati Yesus sendiri.

Apa yang Yesus ucapkan, itulah yang Ia hidupi.

Karena itu, dalam renungan Injil hari ini, kita tidak hanya belajar tentang moral, tetapi tentang cara hidup Kristus.

“Berbahagialah Orang yang Miskin di Hadapan Allah”

Yesus tidak memuji kemiskinan sebagai penderitaan, tetapi kemiskinan di hadapan Allah: sikap hati yang sadar bahwa hidup adalah anugerah.

Orang yang miskin di hadapan Allah tidak menggantungkan makna hidup pada harta, status, atau prestasi. Ia tahu bahwa tanpa Tuhan, ia tidak punya apa-apa.

Dalam dunia yang menuntut kita selalu terlihat “cukup”, “hebat”, dan “berhasil”, Sabda Bahagia pertama mengajak kita kembali menjadi kecil di hadapan Tuhan.

Bahagia bukan dimulai dari memiliki banyak, tetapi dari percaya sepenuhnya.

 “Berbahagialah Orang yang Berdukacita”

Ini terdengar aneh. Bagaimana mungkin dukacita disebut bahagia?

Yesus tidak memuliakan kesedihan, tetapi Ia menegaskan bahwa air mata kita tidak sia-sia.

Dalam Kerajaan Allah, tidak ada luka yang diabaikan. Tidak ada tangis yang dianggap lemah. Dukacita yang dibawa kepada Tuhan akan diubah menjadi penghiburan.

Dalam renungan Katolik tentang kebahagiaan ini, kita diingatkan: bahagia bukan berarti tidak pernah menangis, tetapi tidak pernah sendirian ketika menangis.

“Berbahagialah Orang yang Lemah Lembut”

Dunia sering mengagungkan yang paling keras, paling dominan, paling menang. Namun Yesus menyebut berbahagia mereka yang lemah lembut.

Lemah lembut bukan lemah.

Lemah lembut adalah kekuatan yang dikendalikan oleh kasih.

Yesus sendiri lemah lembut: kepada orang berdosa, kepada yang terluka, kepada yang ditolak. Dalam diri-Nya, kita melihat bahwa kelembutan mampu mengubah hati lebih dalam daripada paksaan.

Bagi remaja dan kaum muda, ini pesan yang kuat: kamu tidak harus menjadi keras untuk menjadi berarti. Hati yang lembut justru sangat kuat.

 “Berbahagialah Orang yang Lapar dan Haus akan Kebenaran”

Lapar dan haus bukan sekadar ingin. Itu kebutuhan. Tanpa makan dan minum, manusia mati.

Yesus berkata: bahagialah mereka yang menjadikan kebenaran sebagai kebutuhan, bukan sekadar tambahan.

Lapar akan kebenaran berarti:

rindu hidup jujur,
tidak nyaman dengan dosa,
mau dibentuk oleh firman,
tidak puas dengan iman yang dangkal.
Dalam renungan Katolik remaja, ini mengajak kita bertanya:

Apa yang sungguh kita kejar? Pengakuan? Kenyamanan? Atau kebenaran?

Yesus menjanjikan: mereka yang lapar akan dipuaskan.

 “Berbahagialah Orang yang Murah Hati”

Murah hati bukan hanya memberi barang, tetapi memberi waktu, perhatian, pengampunan, dan pengertian.

Dunia sering menghitung: untung-rugi, pantas-tidak pantas, seimbang-tidak seimbang. Tetapi hati yang murah tidak hidup dari hitungan, melainkan dari kasih.

Yesus menjanjikan: yang murah hati akan beroleh kemurahan. Karena di situlah kita paling menyerupai hati Allah sendiri.

 “Berbahagialah Orang yang Suci Hatinya”

Suci hati bukan berarti sempurna, tetapi terarah.

Hati yang suci adalah hati yang tidak terpecah: tidak hidup bermuka dua, tidak memelihara topeng, tidak menjadikan Tuhan sebagai tambahan, tetapi pusat.

Yesus berkata: mereka akan melihat Allah.

Artinya, hanya hati yang jernih yang mampu mengenali kehadiran Tuhan dalam hidup sehari-hari.

 “Berbahagialah Para Pembawa Damai”

Pembawa damai bukan hanya orang yang menghindari konflik, tetapi yang berani menghadirkan kasih di tengah ketegangan.

Mereka yang:

menahan diri untuk tidak membalas,
memilih dialog daripada hujatan,
mengutamakan rekonsiliasi daripada ego.
Yesus berkata: mereka akan disebut anak-anak Allah. Karena Allah adalah Allah damai.

“Berbahagialah Orang yang Dianiaya oleh Sebab Kebenaran”

Sabda Bahagia ditutup dengan kenyataan pahit: mengikuti Kristus tidak selalu membuat hidup nyaman.

Kadang setia berarti disalahpahami.

Kadang jujur berarti disingkirkan.

Kadang memilih Tuhan berarti berbeda.

Namun Yesus tidak menipu murid-murid-Nya. Ia berkata sejak awal: jalan bahagia bukan jalan mudah, tetapi jalan yang mengarah pada Kerajaan Surga.

Penutup: Bahagia yang Tidak Bisa Dicuri

Sabda Bahagia bukan janji bahwa hidup akan selalu ringan.

Ia adalah janji bahwa hidup akan selalu bermakna.

Kebahagiaan menurut Yesus tidak tergantung situasi, pujian, atau keberhasilan. Ia berakar pada hubungan dengan Allah.

Itulah sebabnya kebahagiaan ini tidak bisa dicuri oleh badai, kegagalan, atau luka.

Dalam The Katolik renungan harian hari Minggu ini, Yesus mengajak kita naik ke bukit bersama-Nya dan belajar satu hal penting:

Bahagia bukan tujuan di akhir perjalanan.

Bahagia adalah cara berjalan bersama Kristus.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, 

Engkau mengenal kerinduan terdalam hatiku: untuk bahagia. Hari ini Engkau menunjukkan bahwa bahagia sejati bukan terutama tentang memiliki, tetapi tentang menjadi: menjadi rendah hati, menjadi murah hati, menjadi pembawa damai, menjadi milik-Mu.  (Sumber the katolik.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.