Sutaji Bakal Berangkat Haji Hasil 56 Tahun Menabung dari Kayuh Sepeda Jual Kerupuk
January 31, 2026 06:14 PM

 


TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Impian Sutaji untuk bisa berangkat haji sebentar lagi akan terwujud.

Sutaji menekuni profesi berdagang kerupuk sejak 56 tahun yang lalu.

Bukan hal yang mudah Sutaji meraih impiannya.

Sebab, setiap pagi di saat sebagian orang masih terlelap, Sutaji sudah siap mengayuh sepedanya untuk berjualan kerupuk keliling ke warung-warung.

Baca juga: Puluhan ASN Jombang Berebut Jadi Petugas Haji 2026, Hasil Seleksi Ditentukan Pusat

Usai menunaikan salat subuh berjamaah, pria berusia 66 tahun itu mengayuh pelan, membawa kerupuk dalam dua keranjang besar yang ia letakkan di belakang sepeda ontel tuanya. 

Sudah puluhan tahun, Sutaji menggeluti profesi sebagai penjual kerupuk keliling. 

Dari gang-gang di Dusun Budug, Desa Tugusumberjo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Sutaji menancapkan jejak perjuangannya menuju tanah suci. 

Sejak 1970, ia menjajakan kerupuk dengan cara sederhana, berkeliling kampung, mendatangi warung demi warung.

Tak ada etalase mewah, tak pula kendaraan bermotor.

Hanya sepeda pancal dan ketekunan yang tak pernah putus.

Lahir di Desa Sawiji, Kecamatan Jogoroto, Sutaji muda berjualan kerupuk sejak belum berkeluarga.

Pada awal 1980-an, ia menikahi Siti Hana (62) perempuan asal Budug yang sampai hari ini masih setia mendampinginya.

Sejak itulah satu impian besar tumbuh diam-diam di hati mereka, menunaikan ibadah haji.

"Sejak awal menikah, saya sudah berniat. Kalau Allah kasih rezeki, ingin sekali ke Tanah Suci," ucap Sutaji saat ditemui di rumahnya di Dusun Budug oleh Tribunjatim.com pada Sabtu (31/1/2026). 

Rutinitasnya nyaris tak berubah dari tahun ke tahun.

Kerupuk ia ambil dari sebuah pabrik di wilayah Senden, Peterongan tempat juragannya. 

Sekitar pukul 06.00 WIB pagi, ia mulai menyusuri daerah Mancar, Kecamatan Peterongan hingga Mojongapit, Kecamatan Jombang.

Lima kilogram kerupuk biasanya habis dalam waktu satu jam.

"Setiap hari itu saya keliling 5 kilogram kerupuk setiap hari," ujarnya melanjutkan. 

Pada era 1980-an, penghasilannya hanya sekitar seribu rupiah per hari.

Namun dari jumlah yang kala itu tergolong besar, Sutaji disiplin menyisihkan dua ratus rupiah untuk ditabung.

Uang itu bukan untuk membeli barang, melainkan untuk menyimpan harapan.

Waktu berjalan, zaman berubah.

Kini, di tahun 2026, hasil jualannya setiap hari mencapai sekitar seratus ribu rupiah per hari. 

Separuhnya ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sisanya kembali masuk tabungan dengan niat yang sama seperti puluhan tahun lalu.

"Yang penting itu niat dan bisa menahan diri. Jangan boros. Kebutuhan yang utama, sisanya ditabung," ungkapnya.

Kesabaran panjang itu akhirnya berbuah.

Pada 2012, sang istri lebih dulu mendaftar haji. 

Sutaji menyusul tujuh tahun kemudian, tepatnya tahun 2019, setelah kembali mengumpulkan biaya dari hasil kayuhan sepedanya.

Kini, pasangan suami istri itu tercatat sebagai calon jemaah haji dan dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada tahun 2026.

Menariknya, Sutaji tak pernah mengumbar mimpi besarnya kepada banyak orang.

Ia memilih menyimpannya dalam doa dan kerja keras.

Kepada teman-teman sesama pedagang, ia hanya meminta restu.

"Teman-teman saya cuma bilang, semoga lancar berangkat dan pulang. Itu sudah cukup," katanya dengan mata berkaca-kaca.

Bagi Sutaji, kisah hidupnya bukan untuk dibanggakan, melainkan sebagai pengingat. 

Bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

"Saya hanya bisa mendoakan yang lain. Siapa pun yang punya niat baik, semoga Allah SWT mudahkan jalannya," pungkas Sutaji.
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.