Upus Ni Mama, Renungan W/KI GMIM 8-14 Februari 2026, Bilangan 1:1-54, Hitung, Catatlah Segenap Umat
February 01, 2026 06:23 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Upus Ni Mama, renungan Wanita Kaum Ibu (W/KI) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dalam sepekan mulai 8 - 14 Februari 2026.

Pembacaan alkitab terdapat pada Bilangan 1:1-54.

Tema perenungan adalah Hitung dan Catatlah Segenap Umat.

Khotbah:

Wanita/Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus. 

Sebuah kebiasaan baik yang biasanya dilakukan sebagian ibu di dunia ini, yaitu sebelum menuju tempat belanja, akan mencatat daftar belanja lebih dahulu, agar tidak lupa dan tepat sasaran. 

Kebiasaan ini menjadikan seorang ibu dijuluki sebagai bendahara dan manajer data di rumah.

Pengamsal Salomo mengatakan, hati suaminya percaya kepadanya, dan ia takkan kekurangan keuntungan.

Itulah kebanggaan seorang ibu, sehingga terciptalah lagu "Isteri yang teramat baik, siapa yang mendapatnya".

Bagi seorang ibu, menghitung dan mencatat bukan sekadar administrasi, tapi bentuk kepedulian dalam mengelola berkat Tuhan yang diberikan melalui kerja.

Jika kita tidak peduli, kita tidak akan repot-repot menghitungnya. 

Bentuk kepedulian seperti inilah yang ditampilkan dalam kitab Bilangan l.

Kitab ini, dalam Bahasa Ibrani disebut Bemidbar berarti "Di Padang Gurun".

Bangsa Israel sedang ada di padang gurun Sinai, dua tahun setelah mereka ke luar dari Mesir.

Setelah mereka menerima Hukum Taurat dan mendirikan kemah suci, Tuhan mernberi perintah kepada Musa mengadakan sensus laki-laki Israel yang berusia 20  tahun ke atas, dan yang sanggup berperang, suku demi suku.

Tujuan perintah ini diberikan bukan sekadar data statistik tetapi menyiapkan Israel sebagai laskar Tuhan yang teratur untuk masuk dan merebut Tanah Perjanjian yaitu Tanah Kanaan. 

Dari ayat 1-3, kita mendapatkan keterangan bahwa Tuhan meminta Musa menghitung segenap umat Israel menurut kaum-kaum yang ada dalam suku mereka.

Setiap suku disebut namanya, pemimpinnya, dan jumlah prajuritnya, sehingga lahirlah garribaran umat sebagai jemaat kudus yang rapi tersusun dan teratur, dengan masing-masing punya tempat dan tugas. 

Total laki-laki usia perang mencapai 603.550 orang. Dalam budaya kuno, sensus biasanya dilakukan untuk dua hal, yaitu 
 terkait dengan pajak atau perang.

Namun, di mata Tuhan, sensus ini adalah cara Tuhan untuk berkata: "Kalian bukan lagi budak di Mesir yang tidak bemama, tapi kalian adalah umat-Ku, kalian punya identitas, dan Aku tahu jumlah kalian satu per satu".

Dengan demikian perintah untuk menghitung adalah sesuatu yang dianggap berharga di 
 mata Tuhan, demi terciptanya sebuah keteraturan dalam kehidupan umat.

Tuhan Allah menyusun umat-Nya sedemikian rupa dengan pusatnya adalah Kemah Suci.

Ini mengajarkan bahwa kehadiran Allah harus menjadi pusat dari segala pengaturan hidup manusia. 

Melaksanakan perintah Tuhan, Musa tidak bekerja sendiri. Tuhan menunjuk kepala-kepala suku untuk membantunya. Ini menunjukkan bahwa dalam komunitas umat Tuhan, diperlukan kerjasama.

Setiap pemimpin harus mengenal siapa yang mereka pimpin (ayat 4-16).

Di sisi lain, suku Lewi dikecualikan dari sensus ini. Mereka tidak dihitung dalam barisan perang.

Mengapa? Karena mereka punya tugas khusus menjaga Kemah Suci. 

Ini mengajarkan kita bahwa setiap orang punya porsi pelayanan yang berbeda.

Ada yang di baris depan (perang), ada yang dipanggil untuk menjaga kesucian relasi dengan Allah melalui pelayanan doa/ibadah.

Keduanya sama pentingnya di mata Tuhan (ay.47-54). 

Wanita/Kaum lbuyang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Tema "Hitung dan Catatlah setiap umat", mengingatkan kita di bulan kasih sayang ini, untuk melakukan sensus kasih dalam keluarga.

Kita perlu menghitung berkat Tuhan yang diterima, bukan hanya menghitung kekurangan. Kita perlu mencatat kebutuhan 
 emosional anggota keluarga kita masing-masing, seperti: Apakah suami sedang lelah raga dan jiwanya sehingga kita menjadi isteri yang teramat baik hadir serta peduli?

Apakah anak kita sedang butuh didengarkan bukan diomeli? Apakah pribadi kita juga perlu terus disegarkan oleh Firman sehingga tetap fokus melaksanakan peran sebagai tiang doa, bendahara rumah tangga, dan manajer data?

Seperti Tuhan yang memperhatikan jumlah umat-Nya, seorang ibu dipanggil memperhatikan jiwa anggota keluarganya dan dirinya sendiri. 

Tuhan Allah yang dijelaskan dalam kitab Bilangan 1 ini adalah Allah yang teratur dan mengharapkan kita juga memiliki hidup yang teratur dan suka diatur.

Keteraturan di rumah tangga dan di organisasi W/KI GMIM, pasti membawa kedamaian (syalom).

Sebagai Komisi dan atau UPK WKI, kita juga perlu kepekaan sosial di lingkup pelayanan, jangan sampai ada anggota yang terlewat dan tidak dihitung, misalnya: ada anggota yang sudah lama tercatat, tapi kurang hadir dalam ibadah 
dan kegiatan W/KI lainnya, ada yang sedang sakit, atau dalam gumul namun belum tercatat untuk dikunjungi.

Mari kita update data pelayanan untuk memastikan bahwa setiap ibu di kolom atau kategorial, merasa dihitung dan dianggap ada. 

Ingat saudara, bahwa Tuhan yang kita sembah dalam Yesus Kristus bukanlah Tuhan yang acuh tak acuh, tapi Dia adalah Tuhan yang detail.

Dia menghitung setiap helai rambut kita dan mencatat air mata kita dalam kirbat-Nya.

Karena itu, mari kita menjadi Wanita/Kaum Ibu yang teliti dalam kasih, rapi dalam bekerja, dan setia dalam menghitung setiap kebaikan Tuhan.

Ingatlah, ketika kita "menghitung dan mencatat" dengan benar, kita sedang memastikan bahwa tidak ada satu pun domba Tuhan yang terhilang.

Selamat melayani dan selamat membagi kasih di minggu yang penuh sukacita ini! Amin. 

Pertanyaan untuk Diskusi 

1. Bagaimana pendapat anda memahami tema "Hitunglah dan Catatlah Segenap Umat" menurut teks Bilangan 1:1-54? 

2. Apa arti dan manfaatnya bagi Wanita/ Kaum Ibu dalam menghitung dan mencatat di kehidupan masa kini, berdasarkan 
 pemahaman dari jawaban nomor 1?

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.