Bukan Menipu, Suderajat Tinggal di Kontrakan Gegara Rumahnya Rusak, Penjual Es Gabus Dibela Camat
February 02, 2026 06:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Nama Suderajat (49), seorang pedagang es gabus, sempat menjadi simbol simpati publik.

Sosok sederhana itu mendadak viral setelah bertemu Gubernur Jawa Barat periode 2018–2023, Dedi Mulyadi, menyusul tudingan bahwa dirinya menjual es gabus berbahan spons tuduhan yang belakangan terbukti tidak benar.

Namun, gelombang empati yang semula mengalir deras perlahan berubah arah.

Setelah fitnah soal bahan dagangan terpatahkan, Suderajat justru kembali disorot, kali ini karena dituding tidak jujur terkait kondisi tempat tinggalnya. Media sosial kembali riuh, dan Suderajat kembali berada di pusaran polemik.

Di tengah simpang siur informasi tersebut, pihak Kecamatan Bojonggede akhirnya turun tangan untuk meluruskan berbagai spekulasi yang berkembang liar di ruang publik.

Baca juga: Dedi Mulyadi Geleng Kepala, Beri Uang untuk Usaha, Suderajat Penjual Es Gabus Malah Mau Bikin Pesta

Bukan Tak Punya Rumah, Tapi Sedang Tak Layak Huni

Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, menegaskan bahwa anggapan Suderajat tidak memiliki rumah adalah keliru.

Ia menjelaskan bahwa status tinggal di kontrakan yang kini dipersoalkan publik bersifat sementara, bukan permanen.

"Dari hasil asesmen, Pak Suderajat sebagai warga kategori miskin.

Dia memang punya rumah sendiri. Tapi saat ini rumahnya rusak dan sedang diperbaiki oleh Pemkab melalui program Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni)," ujar Tenny kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2026).

Menurut Tenny, rehabilitasi rumah Suderajat sudah dimulai sejak Desember 2025. Kondisi hunian tersebut semakin memburuk setelah sempat roboh akibat cuaca ekstrem di awal tahun.

"Selama proses pembangunan berlangsung, Pak Suderajat diungsikan sementara ke kontrakan," tambahnya.

Dengan penjelasan ini, Tenny berharap publik memahami konteks secara menyeluruh, bukan memotong fakta secara sepotong-sepotong.

KASUS ES GABUS - Suderajat, pedagang es gabus yang dituduh menggunakan spons, Rawa Panjang, Kabupaten Bogor, Selasa (27/1/2026).
KASUS ES GABUS - Suderajat, pedagang es gabus yang dituduh menggunakan spons, Rawa Panjang, Kabupaten Bogor, Selasa (27/1/2026). (Kompas.com/DINDA AULIA RAMADHANTY)

Indikasi Disabilitas dan Luka Psikologis Pascatrauma

Tenny juga menyinggung alasan mengapa pernyataan Suderajat kerap dinilai berubah-ubah oleh publik.

Menurutnya, hasil asesmen lintas instansi menemukan indikasi adanya keterbatasan psikologis dan mental pada Suderajat dan istrinya.

"Hasil dari asesmen kami, terdapat indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya. Ada dugaan gangguan mental pascatrauma," ungkap Tenny.

Kondisi tersebut membuat kemampuan komunikasi verbal keduanya sangat terbatas.

Tekanan berat akibat fitnah aparat, sorotan media, serta banyaknya orang yang datang ke rumah mereka diduga memperparah kondisi psikologis Suderajat.

"Jadi Pak Suderajat itu memerlukan perhatian khusus. Dia tidak terbiasa bertemu orang banyak," jelas Tenny.

Baca juga: Deddy Corbuzier dan KDM Bersatu Bongkar Kedok Ngelunjak Suderajat Pedagang Es Gabus: Aduh Kacau

Produsen Es Gabus Angkat Bicara: Spons Justru Lebih Mahal

Di tengah polemik soal bahan baku es gabus, Narsumi, pemilik tempat produksi es gabus yang dijual Suderajat di kawasan Pancoran Mas, Kota Depok, memberikan bantahan tegas.

Ia memastikan seluruh produk dibuat dari bahan sederhana dan aman, seperti sagu aren, gula pasir, vanili, dan pewarna makanan.

Tuduhan penggunaan spons atau Polyurethane Foam (PU Foam) disebutnya tidak masuk akal.

"Enggak ada lah (spons). Spons itu lebih mahal daripada sagu aren," tegas Narsumi, Kamis (29/1/2026).

Ia menambahkan, proses pembuatan es gabus justru menguras tenaga dan waktu, sementara keuntungan yang diperoleh sangat minim.

"Capeknya setengah mati bikin es gabus, keuntungannya juga enggak ada. Ini cuma buat bantu orang-orang yang nganggur," katanya.

Hasil Pemeriksaan Medis: Aman dan Layak Konsumsi

Kasus ini sempat ditangani kepolisian setelah adanya laporan warga di Kemayoran, Jakarta Pusat.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra memastikan hasil pemeriksaan medis tidak menemukan zat berbahaya dalam dagangan Suderajat.

“Tim Dokkes Polda Metro Jaya memastikan seluruh sampel es gabus, es kue, agar-agar, dan cokelat meses aman dan layak dikonsumsi. Produk tersebut tidak mengandung zat berbahaya,” tegas Roby.

Baca juga: Camat Bojonggede Bongkar Fakta Pilu di Balik Jawaban Mencla-mencle Suderajat, Antara Bohong dan Luka

Harapan Agar Publik Berhenti Menghakimi

Di akhir penjelasannya, pemerintah kecamatan berharap masyarakat dapat menghentikan spekulasi negatif dan melihat persoalan Suderajat secara utuh.

Ia bukan sekadar figur viral, melainkan warga kurang mampu yang sedang menghadapi tekanan sosial, trauma psikologis, serta keterbatasan yang membutuhkan perlindungan dan empati bukan cemoohan berlapis.

***

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.