Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengiriman sampah dari Kota Bandung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sejak Januari 2026, dipastikan masih mengacu pada regulasi lama yang dikeluarkan oleh Pemprov Jabar.
Atas hal tersebut, hingga saat ini sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti tersebut masih sesuai dengan batas maksimal yang telah ditetapkan yakni 170 rit atau setara 979 ton per hari.
"Selama Januari rata-rata pengiriman kita berada di angka 170 rit per hari. Itu masih sesuai dengan regulasi yang berlaku karena sampai sekarang belum ada kebijakan baru terkait kuota pengangkutan ke TPA Sarimukti," ujar Farhan, Senin (2/2/2026).
Baca juga: Anggaran Rp27 Miliar Disiapkan untuk Tangani Sampah, Petugas Gaslah Bandung Digaji Rp1,25 Juta
Hanya saja, kata dia, pada hari Minggu tidak dilakukan pengiriman sampah ke TPA Sarimukti karena tidak adanya penerimaan. Kondisi tersebut berdampak pada peningkatan ritase di hari Senin, sehingga pengelolaan di hulu menjadi krusial untuk menekan penumpukan di TPS.
"Karena hari Minggu nihil pengiriman, otomatis hari Senin selalu terjadi peningkatan. Ini yang harus kita antisipasi dengan pengolahan di sumber dan penguatan sistem TPS," katanya.
Terkait kondisi lapangan, kata Farhan, ada peningkatan tumpukan sampah di beberapa titik, khususnya di sub wilayah kota (SWK) Bojonegara dan Tegallega. Selain itu, TPA Sarimukti juga sempat mengalami kendala akibat cuaca hujan yang mempengaruhi manuver alat berat.
"Beberapa waktu lalu sempat terjadi antrean kendaraan, bahkan ada yang terguling karena kondisi lahan licin akibat hujan. Ini menjadi perhatian kami, termasuk kemungkinan optimalisasi alat berat agar proses bongkar muat bisa lebih lancar," ucap Farhan.
Sedangkan terkait sampah di Pasar Induk Caringin yang merupakan milik swasta, dia memastikan pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026 masih terdapat beberapa persyaratan dokumen lingkungan hidup yang belum terpenuhi.
Meski demikian, pengelola pasar telah membentuk satuan tugas (satgas) yang melibatkan para pedagang dan di Pasar Caringin juga sudah ada langkah-langkah perbaikan.
"Sampah warga yang masuk ke area pasar kini dikumpulkan di dua titik, yaitu Kopi dan Cikuran, masing-masing dilengkapi satu kontainer, dengan pengangkutan yang sudah diatur," katanya.
Baca juga: Bobotoh dan Persib Merawat GBLA, 33 Ton Sampah Dikelola Mandiri dari 10 Laga Home
Selain itu, pengolahan sampah di Pasar Induk Caringin telah mulai berjalan. Tetapi, pasar tersebut masih diberikan kuota tiga rit per hari ke TPA Sarimukti sebagai langkah antisipasi apabila terjadi kelebihan sampah.
Dalam upaya penguatan pengelolaan sampah dari hulu, Farhan mengungkapkan, Pemkot Bandung telah meluncurkan program Gaslah pada 26 Januari 2026 di Ujungberung. Program ini bertujuan untuk mendorong pemilahan dan pengolahan sampah di tingkat rumah tangga dan RW.
"Kami menargetkan pada minggu pertama Februari sudah ada 1.376 petugas Gaslah yang aktif. Kalau masih ada kekurangan, akan kita lakukan rekrutmen ulang pada Maret," ucap Farhan.
Selain Gaslah, Pemkot Bandung juga telah merekrut pendamping KBS sebanyak satu orang di setiap kelurahan. Saat ini, tahapan awal berupa profiling wilayah sedang dimulai sebelum penyusunan rencana kerja.
Baca juga: Bobotoh dan Persib Merawat GBLA, 33 Ton Sampah Dikelola Mandiri dari 10 Laga Home
"Semua ini kami lakukan untuk mengurangi ketergantungan pada TPA. Termasuk mengoperasikan kembali TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu)," katanya.
Farhan mengatakan,TPST tersebut dikelola melalui program ISWMP (Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project) hingga Juni 2026, agar pengolahan sampah di tingkat kota bisa berjalan lebih optimal.