Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Emas kini tengah menjadi primadona sebagai sarana investasi.
Meski belakangan harganya fluktuatif, namun emas masih dipercaya sebagai sarana investasi paling aman.
Hal itu pula yang mendasari Astri Wulandari (36) untuk berinvestasi emas.
Astri mengatakan dirinya mulai investasi sejak 2020 lalu.
Alasan lain dirinya memilih emas adalah cukup likuid dan bisa dikontrol setiap saat.
“Mulai investasi emas dari 2020, waktu itu harga emas masih di bawah Rp1 juta. Dalam kurun 5 tahun naik hampir 300 persen. Menurutku, investasi yang aman, bisa aku kontrol setiap saat, cukup likuid adalah emas. Dan itu sudah terbukti,” katanya, Selasa (3/2/2026).
Ia menerangkan emas menjadi langkah investasi jangka panjang.
Rencananya tabungan emas yang ia miliki untuk kebutuhan pensiun dan pendidikan anak.
Saat ini, ia memiliki emas fisik dan emas digital. Namun, ia lebih banyak mengakses emas digital.
Hal itu karena pembelian emas digital lebih fleksibel dan disesuaikan dengan bujet yang dimiliki.
“Emas fisik itu karena waktu itu ada yang nawarin, terus pas ada rezeki, akhirnya beli emas fisik. Kalau yang rutin di emas digital. Kalau emas digital itu kan berapapun uang kita, bisa beli. Kalau ada sih beli tahunan, jadi ada target tahunan,” terangnya.
Baca juga: Harga Emas Hari Ini, Selasa 3 Februari 2026: Logam Mulia Antam, Galeri24 dan UBS
Menabung emas juga menjadi impian generasi Z saat ini. Salah satunya, Linda Sianturi (21).
Ia tengah merencanakan untuk membuka tabungan emas tahun ini.
Ia menilai emas adalah investasi yang paling baik, karena nilainya stabil. Meski harga emas bisa turun, namun tidak akan terlalu anjlok.
“Ada keinginan sih (investasi emas), tetapi karena sekarang belum punya uang dingin, jadi rencananya (investasi emas) dikesampingkan dulu. Tahun ini mau wisuda, udah lulus, setelah dapat job pertama, akan diprioritaskan untuk beli emas sih,” ujarnya. (*)